Senin, 11 April 2011

saya (bolehkah) menangis,,,:-)

Saya tidak mengerti, kalau lelaki suka menangis karena hal tertentu apa boleh disebut dengan cengeng, sebab definisi cengeng selalu merujuk pada hal yang bersifat manja, kolokan dan ketidak mampuandiri menghadapi problem.
Entah kenapa itu malah kebalikan dengan yang saya alami, saya malah sering menangis karen hal sepele seperti lihat daun jatuh di musim gugur, lihat sunset dengan ufuk berwarna jingga. Bagi saya itu justru terasa eksotika dan begitu cantik. Saya juga menangis saat menghadapi perpisahan dengan orang-orang terdekat, seperti saat Adinda, putri saya berpamitan untuk bepergian untuk di asuh olehNya. Bukan kehilangan yang saya tangisi, tapi momen perpisahan yang begitu dramatis gampang membuat kelopak mata basah.

Namun anehnya saya tidak bisa menangis saat melihat kematian,terlalu sering melihat badan meregang nyawa di jalan raya, di rumah sakit, di tempat lain saat tubuh memisahkan diri dengan ruh. Saya juga tidak menangis saat batin tercabik oleh luka hati, goresan hidup yang membuat limbung. Ketidak adilan yang saya lihat di jalanan, di kehidupan sehingga banyak orang mati secara artifisial, tidak membuat saya menangis.

Jadi,,,dalam hal tertentu memang saya cengeng, gampang sekali terluka oleh hal yang eksotika, kalau hal itu memang memalukan buat lelaki seperti saya,,,apa boleh buat, mungkin tabung air mata saya ditakdirkan berlebih oleh Tuhan sehingga saya agak boros untuk mengeluarkan air mata.
Saya jadi teringat dengan budaya orang Amerika latin, mereka menangis saat melihat kelahiran, namun saat mengiringi kematian, justru mereka memainkan musik dengan gempita (yang saya tahu seperti musik RNB), seperti ingin berkata, kematian yang mengantar kita menghadap Tuhan layak kita rayakan dengan gembira, kelahiran adalah awal derita di dunia, kita harus menangisinya.

Jadi kalau dalam budaya kita lelaki tidak boleh menangis saya jadi masygul,,,karena saya sering menangis perlu dipertanyakan level ke-lelakian saya,,,hmmm,,,

Jumat, 08 April 2011

real home

Kemanakah kita saat kelelahan yang diterima badan setelah seharian beraktifitas dengan segala uapaya potensi di kerahkan kalau bukan kembali ke rumah. Sejauh-jauh burung terbang di pagi hari, ia akan kembali pada sore hari ke sarangnya. Kehidupan saat ini yang menuntut upaya lebih keras telah menghasilkan sebuah perilaku yang terkadang kita sendiri tergagap untuk mengakuinya. Peradaban yang tengah kita jalani sekarang seperti menuntut kita untuk berjalan, berlari lebih cepat tanpa mengijinkan kita berfikir kemana arah kita.Kadang kita terengah-engah menjalaninya karena energi yang kita keluarkan tak mampu untuk mengimbangi sang waktu yang menjadi penentu kehidupan. Sering kita melihat sahabat-sahabat kita terseok-seok ketika pulang ke rumah setelah seharian melewati pertarungan dengan orang lain dan diri sendiri. Bahkan di rumah pun masih melakukan pertarungan dengan suami, istri, anak-anak sehingga rumah bukanlah tempat yang nyaman. Kita pun tahu orang semacam ini akhirnya mencari “rumah” lain entah berupa obat penenang, kesenangan yang berlebihan, benda-benda yang dikira bisa memuaskan dahaga .

Yang menjadi pertanyaan, dimanakah rumah sejati kita seiring dengan kekeringan hidup yang kita bawa, dan kita gendong kemana-mana. Dimanakah ia tempatnya? Karena banyak sahabat yang mempertanyakan hal ini entah dengan pencarian diri sendiri atau lewat orang yang kita anggap ‘pintar’. Hasilnya pasti bisa ditebak, banyak yang terjebak dengan sangka dan kira. Dikira kesejatian, ternyata kesemuan, dikira dengan punya rumah besar bisa menemukan diri dalam ketentraman, ternyata ia menjadi sumber kepedihan yang tidak kalah besarnya dengan rumah itu sendiri, dikira dengan sejumlah materi yang tak dapat habis dalam kurun masa yang panjang seolah menggenggam masa depan yang aman, nyatanya malah menimbulkan ketakutan. Banyak sahabat mencari kesejatian namun mendapat kekecewaan. Jadi, dimanakah rumah sejati yang kerap kita pertanyakan? rumah sejati kita ternyata ada di dalam diri namun entah kenapa justru kita mencarinya keluar. Kalau kita mengalami kegalauan hidup saat ini karena mencari rumah sejati namun kesasar ke “rumah-rumah” lainnya entah semisal berupa nafsu kaya namun diperoleh dengan cara yang tidak sepantasnya. Atau kita mengalami bimbang dan ketakutan namun tidak tahu apa penyebabnya. Dipastikan kita telah kesasar dengan memasuki rumah yang salah.

Rumah, apapun bentuknya adalah perwujudan sebuah tempat dan situasi dimana kita merasakan kedamaian, ketentraman, penuh kasih sayang, cinta yang tulus dimana kita bisa terbuka didalamnya tanpa takut akan apapun. Kita bisa ‘telanjang’ membuka borok kepedihan tanpa merasa malu. Namun banyak sahabat yang sampai akhir masa tugas kehidupannya di dunia belum menemukan apa yang didambakannya. Hampir seluruh hidupnya hanya menemukan kesenangan semu yang disusul kepedihan, begitu terus silih berganti tanpa diri sempat bertanya kenapa harus menerima pola kehidupan ini?

Rumah sejati sesungguhnya ada di dalam diri kita dan menanti kita memasukinya karena pintunya selalu terbuka sepanjang waktu. Ia hanya bisa ditemukan dengan ketulusan, kesabaran dan rendah hati, ia hanya bisa dimasuki dengan kasih sayang, penuh cinta.Ia hanya bisa dimasuki dengan kunci syukur dan ikhlas. Kalau saat ini kita sedang mengalami kepedihan yang telah berlangsung lama dan menjadi sebuah keyakinan kalau ini sebuah takdir, dan setelah berusaha sekuat mungkin untuk merubah jalan kita ,namun hanya menambah kepedihan yang telah ada. Satu-satunya jalan adalah berhenti. Berhenti untuk memikirkan jalan kemana yang akan dilewati, berhenti memikirkan kecemasan apa yang akan dialami, berhenti memikirkan ketakutan apa yang akan menunggu. Biarkan tubuh beristirahat sejenak untuk merelaksasi dirinya sendiri, biarkan pikiran merehat untuk menghilangkan trauma, kecemasan dan ketakutan yang tak berdasar. Masuk ke alam keheningan, gerbang rumah sejati kita. Disana kita akan diterima apa adanya, penuh syukur, penuh ke ikhlasan, penuh dengan ke cintaan. Semakin sering kita diam di dalam nya, ia akan memancar pada batin, nurani dengan energi kebaikan. Fikiran dan tubuh yang terlingkupi energi tersebut akan menjadi penuh optimisme, bahagia, damai dan hidup pun berubah menjadi lebih indah. Bukankah hal ini teramat menentramkan.

Tuban,060609
Real Home