Rabu, 30 Mei 2018

Fatwa rindu

Hidupmu bukan milikmu

Hidupmu bukanlah milikmu
Apa yang jadi milikmu juga bukan kau miliki
Dan apa yang kamu miliki hanya pinjaman yang kelak kembali
Kembali pada situasi ketika dirimu hanya sesuatu tanpa arti

Jadi,  jika dari awal kita bukan siapa2, tak memiliki apapun jua,  kenapa harus menyesali kehilangan yang memang bukan milikmu sejatinya

Kehilanganmu terbesar bukanlah waktu kelak,  esok,atau hari ini yang tak miliki apa2, namun tak tahu akan kembali kemana. 

Kehilangan terbesar dirimu saat nurani menutup pintunya sehingga  tak bisa memasuki rumah sejatimu, hanya berdiri menatap dari luar seraya pandangi jendela hati dengan "kaca" yang makin buram.

Menangislah dirimu menyesali keserakahan2, dan meminta waktu kembali untuk melunasi hutang cinta yang telah kau gadaikan hanya demi remah2 duniawi yang ternyata tak berarti saat dirimu dijemput kematian.

Hidupmu bukanlah milikmu sepenuhnya, hidupmu sebenarnya hanya hamba yang mengabdi pada kehidupan itu sendiri,  bukan sang penguasa nisbi. Kelak sang waktu akan menuntunmu melihat kampung halaman dimana rumah sejatimu berdiri di depan telaga.

Menangiskah dirimu kala diingatkan  bisikan lembut : " Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah" hai jiwa yang tenang,,,,,,

Mencari bukan "mencari"

Kami hanya coba merunuti jalan dimana embun pernah memberi kesejukan, kami juga merunuti jalan yang sering dianggap gegap gempita dengan  menamainya "jalan sunyi". Angin, matahari, hujan, hutan, gunung hanyalah persinggahan sementara untuk memahami betapa berkah hanya bisa dicapai dengan kerendahan hati. Kami mengagumi pohon yang diam namun selalu bersyukur selama sehari semalam hanya untuk bertumbuh mengikuti cahaya.

Jalan di depan kami adalah mencari bukan "mencari", kami tidak bergerak keluar namun ke dalam, memahami kalbu dengan membawa kenikmatan dari mata wadag dan mata batin untuk mengerti betapa jalan sunyi hanyalah cara bergerak menemui berkah dan karuniaNya. Tidak semua kami memahaminya dengan urutan logika yang bisa memenjara, terkadang hanya dengan mata buta.  Bila semua terukur dengan dikotomi dan angka, dualitas yang membuat kami tak bisa bergerak dan menjebak, ijinkan memaknainya dengan kelembutan dan keindahan, inti dari kemanusiaan. Kami bukanlah filsuf, bukan pula pencari kebenaran, hanya seorang yang nyadong keikhlasanNya, kasih sayangNya, mengemis cintaNya.

Baju kami hanyalah syukur, selimut kami rendah hati, sepatu kami adalah keikhlasan, dan perjalanan kami hanyalah cinta. Mungkin sudah terlalu biasa jika ini disalah pahami, sebab kesepian tak menyingkirkan dan menghindari menuju tempat sepi. Kami menjalaninya di lahan-lahan keramaian, pusat ego manusia di sudut sudut jaman. Mengolah sampah peradaban yang ter(di)singkirkan menjadi cahaya dan keindahan, lahan subur untuk ditanami dengan nafas ke-esaan, dan merawat menumbuhkannya dengan cinta. Biar kelak ketika nafas dan darah tinggal satu hirupan, harapan kami adalah meninggalkan jejak yang akan mengilhami angin, hujan, pohon, batu,embun, matahari dan semua mahluk bumi untuk selalu berendah hati dalam syukur dan keikhlasan. Sebab buat kami dunia bukanlah tempat memiliki sesuatu namun menakar keikhlasan cintaNya dalam satu tarikan nafas. Dan itu terlalu cukup buat kami, sebutir debu yang pongah mengharap kasih sayangNya,,,:-).