Jalan menuju padaNya bukanlah jalan yang gegap gempita, namun melewati jalan sunyi yang damai,disana akan ditemukan,tujuan kehidupan sejati yang kita jalani saat ini
Rabu, 29 April 2009
Hening
Ritme bunyi-bunyian alam tadi kita dengar ada jeda sunyi. Semua suara yang kita dengar dan terasa indah pasti ada jeda sunyi. Jadi kemana suara-suara itu pergi kalau bukan menuju keheningan. Hening tidak saja menjadi bagian dari kehidupan kita, namun ia menjadi semacam rumah dari semua aktifitas kita sehari-hari. Ia menjadi semacam muara ketika penat, suntuk menghampiri kita. Keheningan memberi ruang tubuh dan batin untuk jeda dari aktifitas kita. Tidur, mungkin salah satu contoh diantaranya.Tidur membuat jeda tubuh untuk berada di keheningan dengan mengistirahatkan semua organ-organ tubuh didalamnya sebelum akhirnya terbangun dengan kondisi segar kembali.
Hati kita, sama dengan tubuh ini, perlu jeda untuk memasuki keheningan dimana ia bisa membersihkan kotoran dengan mengendapkannya. Kehidupan kita sekarang ini, mau tidak mau harus menerima kenyataan kalau hati sering menerima paparan ketidak pantasan, entah itu kita yang melakukan, atau kita menerimanya dari orang lain. Pernah merasa tidak nyaman dengan hati kita setelah melakukan hal yang tidak kita inginkan ?atau kita bersedih saat menerima hal yang menyedihkan hati kita dari orang lain. Memberikan ruang pada hati kita untuk sekedar mengendapkan masalah ini dengan memasuki keheningan, tidak saja akan meringankan beban kehidupan, namun disana memberi kesempatan hati untuk lebih menerima hidup dengan penuh keikhlasan, bukankah ini menentramkan.
Senin, 27 April 2009
Doa
Pernahkah dalam sebuah episode kehidupan anda merasa ketika semua doa yang kita panjatkan padaNya seolah sia-sia belaka. Dalam pengertian ketika semua pinta yang kita panjatkan padanya hanya menjadi sebuah ucapan yang keluar dari mulut kita dan kata dalam doa itu seolah raib entah kemana. Apakah Tuhan telah melupakan kita sehingga saat kita memerlukanNya Beliau seolah ada di kejauhan. Pernahkah kita berburuk sangka padaNya? Kehidupan yang kita jalani tak semuanya menemukan sebuah pemandangan yang selalu indah, ia terkadang membawa kita pada sebuah kelokan yang dapat memilukan hati , kepedihan yang membuat air mata ini mengalir seolah tanpa ada habisnya. Disaat demikian kita mencariNya seolah ia tak pernah hadir sebelumnya. Ya..! saat kita melewati kegembiraan karena mendapat berkah misalnya, kita terkadang terlampau egois untuk sekedar berterimakasih padaNya. Kita larut dalam tawa seolah kehidupan hanya disajikan untuk kita. Namun saat tawa itu hilang, dan tiba dalam warna kesuraman, kita tergagap seraya meminta dalam doa agar ini segera berlalu dan enggan untuk mengakrabinya.
Jarang dari kita mau untuk mencoba berkarib dengan kesedihan seperti kita bersahabat dengan kegembiraan. Bukankah sebenarnya ia datang silih berganti, dan tak mungkin kita memilih untuk menghindari kepedihan hanya mau menerima kegembiraan. Keberpihakan pada salah satu saja dapat membuat hidup kita menjadi timpang. Jadi apa salahnya kita berkarib dengan sedih, air mata, toh ia tak selamanya ada sama dengan kegembiraan, tawa, yang tak selamanya hadir di dalam hati kita.
Apapun warna kehidupan kita, entah cerah atau suram, sebenarnya ia adalah nisbi adanya, ia senantiasa bergerak dari sisi yang satu ke sisi yang lain. Hati yang kuat, senantiasa ada ditengah, tidak ke kiri atau ke kanan. Saat ia mendapat kegembiraan, hati kita tertawa penuh rasa syukur, saat ia menjemput kesedihan ia tertawa karena ini tak selamanya ada. Sikap yang rendah hati semacam ini mungkin yang akan membuat hati peka akan kehadiranNya di setiap momen apapun jua. Saat gembira hati kita tahu kalau Tuhan senantiasa ada dekat dengan kita dengan kasih sayangnya. Saat air mata kita mengalir, hati kita tahu kalau Tuhan hadir hanya untuk menguatkan kita. Kerendah hatian hati kita yang semacam ini hingga ucapan kata dalam setiap doa kita tak cukup untuk menampung kasih sayangNya. Beliau pasti tahu hanya dengan bahasa tubuh kita sudah cukup untuk mewakili ucapan doa apa yang sedang kita panjatkan.
Jadi andai kita merasa setiap ucapan doa kita seolah belum mendapat jawaban dariNya, jangan-jangan antara ucapan dan bahasa tubuh kita tidak sejalan, sehingga timbul sebuah prasangka kalau Tuhan terasa jauh. Seyakinnya Beliau teramat dekat dengan kita, hanya sering kita menghalangi diri sendiri untuk merasa dekat denganNya, tercermin dari ucapan dan bahasa tubuh kita tidak sama.