Senin, 20 Juli 2009

rumahNya

Seberapa banyak, air mata harus kita lelehkan lagi hanya untuk meratapi kedukaan dari sahabat-sahabat kita yang hari ini sedang mendapat cobaan dari Allah ditinggal kekasih, suami, istri untuk mendahului menghadap Beliau. Kenapa dikatakan cobaan, kalau untuk menghadap beliau adalah keniscayaan? Ya.. sahabat-sahabat kita menghadap beliau bukan dengan selayaknya kesantunan kita bertamu ke rumah Allah, tapi oleh suatu keadaan yang sulit diterima oleh kedalaman nurani. Seyakinnya Allah memiliki sebuah rencana dibalik setiap kejadian, namun tetap saja kita, manusia yang lemah harus menguatkan jiwa ketika ini terjadi. Yang perlu kita lakukan hanyalah berdoa semoga sahabat yang ditinggalkan diberi kekuatan untuk tabah dan diberi pengertian makna dibalik ini sehingga mereka selalu ada dalam dekapan rahmatNya.
Kehidupan apapun yang kita jalani ini suka atau tidak akhirnya akan diakhiri untuk menghadap Beliau. Apapun kenakalan yang kita lakukan di dnia, beliau tidak akan menghukumnya saat itu, baru beliau akan bertanya pada kita setelah kita menghadapNya kelak. Namun kalau ada yang mengklaim bahwa keharusan menghadap Beliau dilakukan dengan menafikan sahabat lainnya, menumpahkan darah sahabat lainnya, meninggalkan tangisan anak, istri, suami atas sebuah kehilangan yang teramat mengiris hati, apakah Allah masih membuka "pintu rumahNya"?.
Kita sering terlalu merindukanNya sehingga dalam kapasitas cinta yang membabi buta, apapun akan dilakukan untuk memperoleh cintaNya. Namun sebagaimana Allah Maha Indah dan menyukai keindahan, maka seyakinnya apapun yang kita lakukan bukan dengan cara-cara tadi, hanya akan memberikan bias, kalau bukan dibilang sebuah fata morgana. Cinta yang bias dan seperti fata morgana bukanlah cinta yang sesungguhnya, ia seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan, hasilnya hanya akan membawa kepedihan.
Hari ini, kita sedang menghadapi sebuah cobaan yang ke sekian kali karena sebuah harapan yang tak tersampaikan. Biarlah ini menjadi sebuah pelajaran ketika air mata telah meleleh, ia tidak akan hilang begitu saja, namun ia menguap menuju tempat malaikat mengagungkan asmaNya penuh ketakziman. Yang Maha Agung tahu akan kemana akhir sebuah cerita, kita yang lemah ini hanya cukup meminta sebuah kedamaian dan cara yang indah untuk mendekat padaNya sehingga Beliau akan selalu memberi petunjuk, menuntun kita mengarungi hidup yang pendek ini menuju sebuah pintu yang di ikhlaskannya menuju "rumahNya"

Selasa, 14 Juli 2009

ikhlas

Saat pagi menyapa, ketika mata kita terbuka, apa yang terpikir dalam benak kita. Mungkin kita berjanji untuk lebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan rutinitas, aktifitas, terutama dalam mencari rizki, mencari ksuksesan yang diidamkan. Seyakinnya kita akan teramat ikhlas untuk menjalani di puncak-puncak kehidupan. Masalahnya, apakah kita ikhlas saat berproses kesana?, sering kita teramat cerewet ketika sesuatu berjalan tidak seperti yang diinginkan, mulai dari mengomentari kekurangan diri, ketidak mampuan untuk ini-itu, ujungnya meyalahkan diri sendiri. Bukankah sering juga kita melihat beberapa sahabat melakukan hal yang tidak sepantasnya untuk meraup materi,menuju puncak karir karena iming-imin kemudahan dan kedamaian di puncak kehidupan. Benarkah saat disana ia akan memperolehnya kalau prosesnya tidak mengandung keikhlasan. Dirinya mungkin ikhlas, namun tidak demikian dengan sahabat yang memperoleh ke tidak pantasan dari sahabat lain.

Berapa banyak air mata yang keluar hanya untuk mengejar kesuksesan namun dengan menafikan keikhlasan nurani. Makna ikhlas jangan-jangan dipahami ketika kita memperoleh kegembiraan, ketika putus asa, bukan saat kita menjalankan rutinitas sehari-hari. Ikhlaskah kita membantu teman agar teman kita menuju puncak karena memang pantas kesana? Ikhlaskah kita ketika sahabat memperoleh kesempatan naik jenjang kehidupannya dan itu bisa terjadi kalau kita membantunya. Banyak hal dalam kehidupan sehari-ari kita menafikan makna ikhlas. Mungkin saat kita mendapat cobaan, kita teramat ikhlas. Bagaimana kalau kita mendapat anugerah, apakah bobotnya sama dengan saat kita dicoba?

Tuhan menganugerahkan kita wajah yang cantik/tampan agar kita menghargai keindahan karena Beliau menciptakan kita dengan penuh keikhlasan. Tuhan menganugerahkan kita otak yang pandai dengan harapan bisa membawa kebaikan sesama. Tuhan memberi kita dengan penuh keikhlasan rizki pada umat manusia. Tapi bagaimana mungkin kita manfaatkan wajah cantik/tampan untuk sesuatu hal yang tidak sepantasnya. Bagaimana mungkin otak kita yang encer kita gunakan menipu sesama. Bagaimana mungkin mengharap rizki kita dariNya namun dicari dengan proses yang tidak jujur. Dimana makna ikhlas itu ketika kita melakukannya?. Apapun yang dilakukan dengan tidak sepantasnya hanya akan membawa kehampaan batin, kosong, penuh kegelisahan. Bagaimana kita dapat menghadap padaNya dengan penuh takzim saat hati kita gelisah

Hari ini, ketika kita membuka mata di pagi hari, kita berjanji kalau apapun aktifitas hari ini akan kita lakukan dengan penuh keikhlasan, entah saat gembira, sedih, mendapat pujian, cercaan yang merendahkan. Berjanji dengan Beliau apapun yang akan kita lakukan semata-mata hanya untuk pengabdian kepadaNya.

Sabtu, 11 Juli 2009

Wajah Kesedihan

Hari ini, mungkin kita mengalami siklus kehidupan yang telah menguras air mata, tak ada yang dapat dilakukan ketika telah sampai pada titik kulminasi kecuali hanya memohon padaNya agar ditunjukkan pintu keluarnya. Kesedihan adalah situasi hal yang ingin kita hindari dan kalau bisa tidak ingin bertemu lagi. Namun sebagaimana hidup telah menggariskan kalau kita akan sering berjumpa dengan wajah kesedihan disamping wajah membahagiakan. Kita tidak mampu memilih salah satunya. Yang mungkin harus dipahami adalah apa maksud kehidupan memberikan dua pilihan ini?


Wajah kesedihan, kita sering enggan membahasnya. Namun sebagaimana diketahui, tidak mungkin kita tertawa dengan lega sebelum tahu makna menangis. Demikian juga dengan wajah kesedihan yang datang menghampiri kita sering ia membawa sebuah pesan agar kita lebih menghargai dengan apa yang telah kita peroleh. Wajah kesedihan, sering menjadi pintu mencapai puncak kehidupan yang mengagumkan. Karena tidak ada yang dapat mencapai puncak kehidupan tanpa melewati pintu ini.


Jadi andai kita enggan dan menghindar bertemu, sama saja enggan menuju puncak kehidupan yang sering kita idamkan. Dan andai saat ini kita bertemu dengan wajah kesedihan, apakah salah kalau dikatakan ini kabar gembira, karena telah menemukan pintunya. Kalau hari ini kita merasa belum mencapai hal diatas, mungkin kita terlalu terpaku dengan pintunya, meratapinya seolah ia tembok kokoh yang tidak bisa dilewati. Yang harus dilakukan sebenarnya hanya tahu cara membukanya, bukan memandang pintu itu sehingga mengaburkan pandangan pada handlenya.Mungkin kita harus belajar kearifan ini, dan Tuhan memberikan kesempatan pada kita sebelum akhirnya kuat di puncak.

Selasa, 07 Juli 2009

Tujuan Hidup

Kemanakah tujuan hidup kita nantinya?terlepas dari kepercayaan yang kita imani saat ini, kelak di akhir penghujung kehidupan, kita akan menghadap Allah zat yang Maha Pengasih dan Penyayang. Sengaja atau tidak, dipaksa atau tidak, aktifitas yang dilakukan saat ini selalu mengarah kesana. Kalau saat ini kita merasa jauh dariNya, sesungguhnya ia adalah perasaan kerinduan akan kasih sayang kita padaNya. Kalau saat ini kita merasakan hidup yang mungkin jauh dari kelayakan seolah Tuhan berlaku tidak adil pada kita, mungkin kondisi inilah yang selalu dirindukan banyak orang, karena moment jarak kita dengan Allah begitu dekat, yang menghalangi hanyalah prasangka, sebab Allah tak akan rela kita selalu berada dalam isak tangis atas ketidak mampuan dan ketidak pantasan yang kita terima.
Apapun kondisi parsial kita hari ini, entah mungkin berada di puncak kehidupan atau di dasar, ia adalah situasi sementara untuk mendekat padaNya. Kalau kita hari ini merasa berkelimpahan materi, ibarat kita berangkat menuju suatu tempat, mungkin kendaraan kita adalah mobil yang akan membawa kesana lebih cepat. Sebaliknya kalau kita hari ini masih saja mengais rizki untuk menahan hidup, mungkin kita sedang berjalan kaki. Apapun situasi kita hari ini memiliki peluang yang sama untuk selalu berada didekatNya. Apapun situasi kita hari ini, entah bergerak dengan mobil, berjalan kaki, naik sepeda dll ketika sampai pada yang dituju, mobil, sepeda atau apapun jua alat untuk mendekat padaNya sudah tak berfungsi lagi.
Artinya, ketika kita sudah berada pada lingkup kasih sayangNya, bukankah kelimpahan materi menjadi sia-sia belaka?bukankah derita karena kekurangan menjadi lenyap adanya? yang kita rasakan hanyalah syukur dan syukur, karena kedamaian, ketenangan yang kita damba menyatu dalam kata yang tak bisa terungkapkan. Jadi apapun kondisi kita hari ini, mungkin tidak ada yang perlu kita kuatirkan tentang masa depan. Karena Beliau menanti disana dengan senyuman,dan itu sudah teramat cukup bagi kita. Indah bukan

Jumat, 03 Juli 2009

Keberanian hidup

Dengan cara apakah sebuah keberanian dinilai?apakah ia selalu ditampilkan dengan sebuah laku yang menurut kita seperti dalam film-film hero? Dalam banyak kehidupan, sering kali kita salah menggambarkan makna tentang keberanian. Saat semuanya terasa sempurna, apapun ucapan makna keberanian menjadi terasa indah karenanya. Namun saat kondisi diatas tak ada, apkah masih pantas mengucapkannya? Saat kegagalan ada di depan mata, masihkah kita berani menghadapinya? Saat sebuah kesalahan yang berkibat pada hajat hidup banyak orang, masihkah kita berani mengakuinya? atau saat air mata mengalir karena kesedihan, masihkah kita berani tegak kepala kita. Ada pepatah bilang kalau keberanian tak diuji oleh maut namun oleh hidup.:-o


Kematian memang serasa menakutkan, karena tidak ada pengalaman darinya, seperti gelap. Namun kehidupan juga telah menimbulkan ketakutan sendiri karena ada banyak kematian nurani hadir disana. Berapa banyak dari kita sanggup menerima cobaan hidup sehingga harus memutuskan untuk mengakhirinya? Berapa banyak dari kita berani untuk melangkah saat ketidak pantasan justru hadir dalam ritme hidup kita sehari-hari. Berapa banyak dari kita terpasung oleh pikiran hanya kalau bertindak diluar kebiasaan orang banyak, di cap menjadi aneh?


Pangkal dari keberanian dalam hidup ujungnya sebenarnya mengarah pada kebeningan hati.Kebeningan hati, hal yang teramat dirindukan dalam hidup, didalamnya ada kedamaian, ketentraman, seperti telaga yang tenang. Untuk menuju kesana, dibutuhkan keberanian tersendiri, karena ia menuju ke dalam, melewati jalan-jalan sunyi, sendiri lagi. Salah kalau kita mencarinya di luar, salah juga kalau ia dilambangkan dengan benda-benda nisbi. Ia hanya bisa dicari dengan keikhlasan menjalani hidup, penuh syukur, kerja keras karena semata-mata semuanya kita peruntukkan padaNya. Saat sampai disana, bukankah semuanya mengalir begitu saja, yang ditemui hanyalah kata keindahan belaka. Indah bukan:-)


Dengan cara apakah sebuah keberanian dinilai? apakah ia selalu ditampilkan dengan sebuah laku yang menurut kita seperti dalam film-film hero? Dalam banyak kehidupan, sering kali kita salah menggambarkan makna tentang keberanian. Saat semuanya terasa sempurna, apapun ucapan makna keberanian menjadi terasa indah karenanya. Namun saat kondisi diatas tak ada, apkah masih pantas mengucapkannya? Saat kegagalan ada di depan mata, masihkah kita berani menghadapinya? Saat sebuah kesalahan yang berkibat pada hajat hidup banyak orang, masihkah kita berani mengakuinya? atau saat air mata mengalir karena kesedihan, masihkah kita berani tegak kepala kita. Ada pepatah bilang kalau keberanian tak diuji oleh maut namun oleh hidup.:-o


Kematian memang serasa menakutkan, karena tidak ada pengalaman darinya, seperti gelap. Namun kehidupan juga telah menimbulkan ketakutan sendiri karena ada banyak kematian nurani hadir disana. Berapa banyak dari kita sanggup menerima cobaan hidup sehingga harus memutuskan untuk mengakhirinya? Berapa banyak dari kita berani untuk melangkah saat ketidak pantasan justru hadir dalam ritme hidup kita sehari-hari. Berapa banyak dari kita terpasung oleh pikiran hanya kalau bertindak diluar kebiasaan orang banyak, di cap menjadi aneh?


Pangkal dari keberanian dalam hidup ujungnya sebenarnya mengarah pada kebeningan hati.Kebeningan hati, hal yang teramat dirindukan dalam hidup, didalamnya ada kedamaian, ketentraman, seperti telaga yang tenang. Untuk menuju kesana, dibutuhkan keberanian tersendiri, karena ia menuju ke dalam, melewati jalan-jalan sunyi, sendiri lagi. Salah kalau kita mencarinya di luar, salah juga kalau ia dilambangkan dengan benda-benda nisbi. Ia hanya bisa dicari dengan keikhlasan menjalani hidup, penuh syukur, kerja keras karena semata-mata semuanya kita peruntukkan padaNya. Saat sampai disana, bukankah semuanya mengalir begitu saja, yang ditemui hanyalah kata keindahan belaka. Indah bukan:-)