Senin, 30 November 2009

Lonely

Pernahkah dalam suatu episode kehidupan anda, merasa kesepian? ada semacam ketidak berdayaan pada diri ketika kehidupan seolah berjalan bukan memberikan kebahagiaan namun malah memberikan semacam ketakutan yang tak terlihat. Merasa sendiri seolah hidup hanya menunggu hal yang tak wajar? tak wajar karena kita seperti tiba di tempat yang asing namun bukan tanpa kesunyian, ia bisa saja berupa gegap gempita kehidupan namun kita merasa asing tak akrab dengan situasi itu. Ah... jangan-jangan anda masuk dalam situasi keterasingan pada diri sendiri, situasi yang awalnya menyalahkan lingkungan namun tanpa disadari malah menyalahkan diri sendiri. Ada semacam kehampaan dan ketakutan akan waktu, semacam ketidak bergunaan diri sehingga membenci diri kita.
Kesepian adalah hal yang menakutkan bagi ego kita karena kita seolah berjarak dengan kehidupan. Padahal dalam jiwa yang hening, kesepian adalah pintu masuk jalan sunyi untuk lebih mengakrabi diri sendiri seraya bertanya; andai aku ada disini sendiri, siapakah yang menciptakan kesunyian ini? andai kesunyian terasa menakutkan, lantas dimana letak keheningan yang menentramkan? saat kita berdialog intens dengan diri, kita masuk kedalam situasi dimana muaranya adalah kedamaian. Mengapa? sebab semakin dikejar pertanyaan dan jawaban yang tiada habisnya,kita mencoba memasuki ujung dari kelembutan cahayaNya. Ada semacam ketentraman akhirnya.
Ketakutan akan kesepian mungkin pancaran ego pribdi yang menolak untuk melepas moment kehidupan dari kontrol kita. Mengapa kita tidak mencobanya untuk membiarkan sang waktu memberi pelajran pada kita tentang kepasrahan apapun situasinya. Pernahkah kita membiarkan diri mengalir mengikuti kelok sungai waktu tanpa kita harus tahu akan tiba dimana akhirnya? bagi yang belum mencoba akan terasa menakutkan ketika membiarkan diri menuju ke suatu tempat yang kita sendiri tak mengenalnya. Dimana muaranya berada? muara itu adalah batas kita dengan sang pencipta, dengan pernah berada di ujung cahayaNya, ada semacam perasaan kecil dihadapanNya, ada perasaan damai di benak dan hati, ada semacam rindu dendam yang tak terkatakan, ada semacam kehampaan namun penuh keharuan, aada semacam sepi yangteramat dalam namun itu menghangatkan. Tumpahkan disana segala perasaan kita tanpa harus malu tentang kenaifan kita, biarkan hati, mata, bersama menangis karena hanya Beliau-lah yang mampu memahami perasaan ini tatkala semua manusia mengecilkan diri kita.
Jadi, kalau hari ini perjalanan hidup anda merasa melambat setelah tadi siang bertarung habis-habisan untuk sebuah kemenangan namun dengan menafikan yang lain, malam ini kita tiba-tiba merasa apa yang dilakukan kita,kolega hanyalah kesia-siaan dan makin menambah kehampaan pada hati terdalam kemanakah kita akan menyesal? sehebat apapun rasa bersalah kita tutupi dengan kecanggihan alasan, ia hanya membiarkan sang waktu menunda penyesalan yang ujungnya terlambat. jadi, kalau saat ini kita merasa hidup terasa hampa,sepi, selamat........anda telah tiba di ujung jalan yang bernama kelembutan

Jumat, 13 November 2009

Low

Seberapa tuluskah tingkat kepasrahan kita kepada Tuhan? kehidupan yang berputar dengan cepat,terkadang membuat kita menjadi terasing dengan diri sendiri, terasing dengan habitat kita,terasing dengan pekerjaan kita, seperti perasaan kesepian yang berkepanjangan. Saat kepedihan datang menyapa,kemana lagi kita akan mengadu kalau bukan kepadaNya apapun kondisi kita saat ini entah kita merasa dekat,atau menjauh, Beliau adalah muara keheningan yang disana kita mendambakan kedamaian. Bukankah fitrah kita adalah keheningan dan kedamaian? hanya kesibukan diri sendiri yang terkadang kita menjadi alpa apa diri sejati kita yang sebenarnya.
Bukankah Beliau tempat mengadu tanpa penuh prasangka kepada kita? saat kita merasa dizalimi orang lain, saat persoalan seolah tiada jalan keluar, saat penat hanya menjadi bagian kehidupan kita dari hari kehari, mengadulah padaNya. Biarkan kita menghadapNya dengan tubuh sekotor apapun, mintalah kedamaian dan keheningan melingkupi kita, rehat sejenak dari kegempitaan dunia.
Seberapa tuluskah kita meminta pertolongan padaNya saat kesempitan mendatangi kita? saat kesempitan datang, terkadang kita menerimanya dengan derai air mata dan terburu-buru meminta padaNYa untuk segera menjauhkan seolah dengan hilangnya keempitan itu kita terbebas dari kesulitan. Bukankah ketulusan doa padaNya dinilai saat kita menerima kesulitan dengan kadar yang sama saat kita meminta.
Ada sebuah doa yang dipanjatkan hambanya begini:" Tuhan,kalau engkau menimpakan kesulitan dan kesempitan ini sebagai wujud kasih sayangMu padaku, biarkanlah ini kau timpakan padaku, sebaliknya kalau engkau berikan padaku semua kekayaan dunia hanya akan menjauhkan diriku padaMu niscaya aku akan meminta padaMu untuk mencabutNya. berikan kekuatan untuk mendekatiMu pada hati hamba yang teramat lemah ini, dengan kedamaian dan keheningan, niscaya itu sudah cukup bagiku".