Seberapa tuluskah tingkat kepasrahan kita kepada Tuhan? kehidupan yang berputar dengan cepat,terkadang membuat kita menjadi terasing dengan diri sendiri, terasing dengan habitat kita,terasing dengan pekerjaan kita, seperti perasaan kesepian yang berkepanjangan. Saat kepedihan datang menyapa,kemana lagi kita akan mengadu kalau bukan kepadaNya apapun kondisi kita saat ini entah kita merasa dekat,atau menjauh, Beliau adalah muara keheningan yang disana kita mendambakan kedamaian. Bukankah fitrah kita adalah keheningan dan kedamaian? hanya kesibukan diri sendiri yang terkadang kita menjadi alpa apa diri sejati kita yang sebenarnya.
Bukankah Beliau tempat mengadu tanpa penuh prasangka kepada kita? saat kita merasa dizalimi orang lain, saat persoalan seolah tiada jalan keluar, saat penat hanya menjadi bagian kehidupan kita dari hari kehari, mengadulah padaNya. Biarkan kita menghadapNya dengan tubuh sekotor apapun, mintalah kedamaian dan keheningan melingkupi kita, rehat sejenak dari kegempitaan dunia.
Seberapa tuluskah kita meminta pertolongan padaNya saat kesempitan mendatangi kita? saat kesempitan datang, terkadang kita menerimanya dengan derai air mata dan terburu-buru meminta padaNYa untuk segera menjauhkan seolah dengan hilangnya keempitan itu kita terbebas dari kesulitan. Bukankah ketulusan doa padaNya dinilai saat kita menerima kesulitan dengan kadar yang sama saat kita meminta.
Ada sebuah doa yang dipanjatkan hambanya begini:" Tuhan,kalau engkau menimpakan kesulitan dan kesempitan ini sebagai wujud kasih sayangMu padaku, biarkanlah ini kau timpakan padaku, sebaliknya kalau engkau berikan padaku semua kekayaan dunia hanya akan menjauhkan diriku padaMu niscaya aku akan meminta padaMu untuk mencabutNya. berikan kekuatan untuk mendekatiMu pada hati hamba yang teramat lemah ini, dengan kedamaian dan keheningan, niscaya itu sudah cukup bagiku".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar