
Atas nama apakah saat kita hampir sepanjang waktu yang telah diberikan oleh Tuhan mengejar parameter bernama kesuksesan. Kesuksesan yang umum dipahami berarti adalah sejumlah kepemilikan benda bernama uang yang saat ini tidak saja memegang peran teramat penting dalam sebuah kehidupan, namun telah mempengaruhi mental, cara berfikir, bertindak bahkan mimpi-mimpi setiap manusia. Begitu besar peran yang dimainkan oleh sebuah benda bernama uang dalam cakupan luas seperti negara ia perlu dibentuk dalam sebuah organisasi/departemen yang khusus yang bernama Bank Sentral dan Departemen Keuangan. Dalam cakupan lebih kecil dan teramat pribadi ia menjadi ajang tawar menawar doa kita dengan Tuhan. Tidak percaya? Cobalah kita teliti setiap doa yang kita panjatkan padaNya, pasti akan selalu berhubungan dengan pinta mengenai uang apapun bentuk dan alasan yang kita pakai. Yang lebih celaka lagi, uang lah yang sering kita jadikan alasan untuk sekedar enggan bertamu ke rumahNya. Saat kita berkelimpahan dengan benda ini ia dijadikan alasan untuk tidak bertemu denganNya, karena sibuk dengan benda ini. Anehnya, saat kita tak punya benda ini pun kita sibuk bertamu ke rumahNya dengan doa dan pinta tentang uang, bukan untuk sekedar menyambangiNya(walaupun ia tidak ditemui, tidak akan menurunkan sifat kuasaNya) untuk meminta ampunan.
Begitu hebat pengaruhnya dalam mental dan fikiran manusia, ia seolah menjadi nyawa dalam setiap gerak-gerik kita, seolah tanpanya kita hanya menjadi mainan tak bernyawa. Terlepas bahwa kita memerlukannya untuk aktifitas kita, bukan berarti ia menjadi tujuan sebuah kehidupan yang bahagia. Ia sebenarnya adalah parameter kesungguhan kerja/ibadah yang kita lakukan sehari-hari. Agak aneh mungkin kalau uang jadi parameter kesungguhan ibadah kita, karena pemahaman ibadah berarti adalah sebuah ritual tertentu saat “menghadap”Nya. Yang aneh malah pemahaman ibadah selalu berhubungan dengan gerak ritual tertentu, sebab setiap upaya kita, gerak kita, kerja kita atau apapun aktifitas yang dilakukan sehari-hari, selama diniatkan hanya untuk kita persembahkan padaNya, menurut saya masih dalam cakupan ibadah. Saya tidak ingin berpolemik antara kaya-miskin yang dihubungkan dengan ketaatan dalam menjalankan ritual kita kepadaNya. Sebab selain memancing sebuah debat yang tak berkesudahan, saya hanya ingin menjelaskan kalau secara logika, ketika ibadahnya sukses, secara otomatis parameter kesuksesan dunianya mengikuti. Andai menurut kaca mata kita, ternyata ada orang dengan uang melimpah, tapi ia dapatkan bukan dengan cara-cara yang tidak benar, apakah ini bentuk sebuah ketidak adilan? Saat kita berbicara dengan hal diatas, maka kita berbicara tentang waktu. Waktu yang kita punyai amatlah terbatas, sehingga kita hanya mampu meneropong seseorang hanya dengan waktu yang teramat pendek (short time). Sedangkan dalam jangka panjang, waktulah yang akan memberitahu, apa makna keadilan itu. Demikian juga sebaliknya dengan orang yang ritualnya tekun namun agak susah untuk kita kategorikan sukses secara keuangan. Kembali, waktu yang akan memberi tahu kita kenapa dan dimana letak kesalahannya.
Bukankah banyak orang yang ibadahnya sukses, diikuti dengan kelimpahan uang, dan dengan kelimpahan itu dia berhasil membuat perubahan untuk kebaikan agar dunia ini bisa dijadikan tempat kehidupan yang indah dan nyaman tidak saja untuk kita, namun untuk anak-cucu kita di masa depan. Tidak percaya? Kalau anda tahu riwayat Rasul Muhamad SAW dalam sejarah, beliau pernah melakukan aktifitas perdagangan, untuk ukuran sekarang mungkin adalah seorang CEO sebuah perusahaan transnasional. Jadi jangan tanya berapa kelimpahan yang beliau punya saat itu, apalagi setelah beliau menikah dengan Khadijah, pemilik perusahaan itu. Artinya, beliau ternyata juga manusia yang dalam episode kehidupannya melakukan sebuah aktifitas yang sekarang ini juga masih kita lakukan. Namun dengan kejujuran, kesungguhan, beliau mencapai puncak dalam karir yang sekarang ini jadi idaman setiap orang. Saat di puncak karir itulah menurut saya bersamaan dengan puncak spiritual beliau sehingga yang kita ketahui kemudian, beliau mengubah dunia untuk menjadi tempat tinggal yang baik, tidak saja untuk anak cucu, bahkan melampaui waktu hingga akhir jaman.
Moral yang dapat kita petik dari sejarah kehidupan beliau adalah aktifitas yang dilakukan tidak saja berorientasi jangka pendek seperti mendapat keuntungan semata, namun juga aktifitas kerja kita menjadi ruh dalam pemahaman spiritual kita. Bukan hal yang ringan saat kita berikrar demikian karena godaan yang ada justru begitu besar. Perlu suatu tekad yang besar untuk membiasakan habitat berfikir kita kalau setiap aktifitas yang berhubungan dengan pengumpulan keuntungan yang berujung pada uang, selalu dikaitkan sebagai bagian ibadah kita kepada Tuhan. Bukan berarti kita tidak boleh mencari keuntungan dan kekayaan sebanyak-banyaknya, karena semakin banyak, otomatis ia jadi parameter seberapa tinggi intensitas ibadah kita. Sebab, setiap keping uang yang kita dapat alam punya mekanisme sendiri untuk mengaturnya. Artinya, ketika kita mendapat lebih, berarti ada yang mendapat kurang, ketika kita mendapat banyak, berarti ada orang lain yang mendapat sedikit. Mekanisme alam akan mengatur distribusi ini agar terjadi sebuah keseimbangan sehingga terjadi sebuah harmoni dalam kehidupan. Kalau anda berlebih berarti anda wajib keluarkan sekian persen dalam mekanisme tertentu. Kalau anda kurang, anda berhak mendapatkan dari yang berlebih. Jika tidak, ketika yang berlebih mengingkarinya dengan atas nama keserakahan, kekacauanlah yang terjadi, yang tidak saja menghancurkan yang kurang, tapi juga yang lebih, dan mekanisme alam akan berjalan demikian untuk mencapai keseimbangan. Hancur adalah mekanisme alam untuk mencapi keseimbangan baru. Kenapa? Sebab kalau kita percaya dengan hukum energi, ia tidak dapat dimusnahkan, juga tidak dapat diciptakan, ia hanya berubah bentuk, maka ketika disatu kutub, berusaha untuk lebih dominan, alam mengatur mekanisme untuk mencapai keseimbangan, dengan mengubah bentuk lain, yang kita pahami sebagai proses kehancuran, energi ini tidak hilang saat hancur, tapi berubah wujud.
Kalau uang adalah sebentuk energi, maka dalam diri manusia berlaku hukum yang sama, yaitu manusia juga sebentuk energi namun dengan frekwensi yang lebih tinggi. Artinya, saat manusia energinya lebih tinggi, maka ia akan menarik energi sekitarnya, ini seperti sebuah magnet, makin besar energinya, makin besar pula kekuatan magnetnya. Ketika itulah manusia akan makin mudah menarik energi bernama uang ini. Masalahnya, bagaimana kita memiliki energi yang bisa menarik uang, sebab energi manusia cenderung tidak stabil. Bagaimana caranya agar kita selalu berfrekwensi tinggi sehingga mudah menenarik uang. Sampai saat ini mungkin penelitian secara detail belum ada, tapi merujuk apa yamg dilakukan Rasul, ada 2 hal yang bisa kita teladani, yaitu “kejujuran dan kesungguhan”. Hal ini juga berlaku dalam segala aspek kehidupan kita sehingga ia menjadi semacam etos kita dalam kehidupan sehari-hari. Bukankah diri kita sebenarnya adalah pemimpin, dengan segala kelebihan yang telah disandang termasuk jujur, cerdas, sukses dll semua telah ada dalam satu paket. Manusia yang stabil energinya cenderung ia lebih stabil secara spiritualnya, karena kestabilan energi ini tidak terlepas dari koneksitasnya dengan sumber Maha Energi. Saat ia berada pada kondisi demikian, uang adalah sebuah efek samping atas sebuah aktifitas yang dilakukan dan bukan tujuan itu sendiri. Saat ia berada di puncak kestabilan energinya, sukses apapun ada dalam dirinya. Sering kita jumpai orang yang semacam ini, apapun yang ia sentuh berubah jadi emas demikian peribahasanya. Sering kita jumpai orang semacam ini kala berada di puncak cenderung makin bersahaja. Sehingga kadang luput kalau hanya melihat orang demikian dengan parameter dan kacamata kita yang dangkal.
Kembali pada parameter kesuksesan, tujuan kehidupan kemarin, sekarang, nanti akan memiliki peran dalam diri, apa yang sebenarnya lebih hakiki untuk kita perbuat. Keseimbangan, demikian alam telah bertutur, keseimbangan antara kahidupan fisik dan ruhani senantiasa harus ada dalam posisi yang sama. Dominan di satu kutub, tidak saja mengganggu harmoni kehidupan itu sendiri, namun sama saja akan membiarkan tugas alam untuk mengatur keseimbangannya tanpa kita berbuat apapun. Telah banyak kita lihat, ketika orang yang hanya mengejar benda semata dan ia memperolehnya, namun malah membawa ketidak bahagiaan dalam kehidupannya. Demikian juga sebaliknya, ketika dari sisi pencapaian dunia, coba untuk dinafikan dengan atas nama apapun, ia seperti mobil kehabisan bensin, ada tapi tidak bergerak dan ujungnya juga tidak ada kebahagiaan.
Jadi, apapun kondisi kita hari ini, entah sudah berada di puncak kehidupan, sedang kesana, atau mulai turun, yang perlu kita sadari adalah, Tuhan terlalu cinta kepada mahluk kesayanganNya, sehingga tidak akan dibiarkan kita dalam kegundahan, ketidak bahagiaan, kepedihan, kekurangan atau hal yang banyak menguras air mata kita. Sebab dibalik itu semua andai kita mengalaminya hari ini dan kita sabar melewatinya, ia adalah suatu laku sebagai wujud cinta kita padaNya. Dan hari ini, ketika energi kita terkuras seharian untuk mengejar benda yang bernama uang, berikan keyakinan dalam hati kita bahwa uang yang sedang dan akan kita dapat seberapa banyak nantinya, semata-mata adalah wujud kecintaan kita padaNya. Mungkin kita bertanya, apa hubungannya uang yang kita cari dengan Tuhan? Terlalu naïf rasanya sebuah benda kita hubungkan dengan Yang Maha Agung, namun ketika efek energi dari sebentuk uang bisa menjauhkan kita dariNya, kenapa kita tidak meminta pilihan pada Beliau kalau efek energi uang bisa lebih mendekatkan kita padaNya, terutama saat kita panjatkan doa padaNya.
#Tuban,200309#
Energy of money
Tidak ada komentar:
Posting Komentar