Minggu, 22 April 2012

The sad happiness


Andai dalam episode kehidupan kita, kesedihan sering menyapa sehingga membuat diri menjadi kehilangan orientasi dan arah, ada hal yang sering ditanyakan, apa tujuannya ini menimpa kita? Apakah ini hukuman Tuhan terhadap kita ataukah ini sebuah bentuk atas kasih sayangNya, agar kita selalu mengingat Beliau dengan kerendahan hati. Dalam banyak fragment hidup, sering godaan datang mencoba untuk membiaskan langkah kita untuk sekedar agar kesedihan itu berubah menjadi tawa. Namun hal yang bersifat artifisial hanya sebentar, kemudian kembali dalam kesedihan. Kesedihan memang hal yang banyak menguras energi, terasa menyakitkan, membuat hidup seolah menjadi tak berpihak pada kita. Sehingga dalam sepanjang perjalanan kehidupan kalau bisa dihindari dan enggan bertemu dengannya. Lantas apa makna kesedihan itu sendiri? Banyak maknanya, namun yang jelas ia adalah situasi yang muncul dan berakibat pada ketidak nyamanan diri kita atas situasi tersebut. Ia adalah situasi yang tidak sesuai dengan harapan diri, ego, rasa, persepsi kita. Apapun bentuk, tempat, kondisi yang muncul sehingga membuat diri ini merasa tidak nyaman, potensi kesedihan ini ada. Persepsi kita justru paling dominan untuk berkontribusi terhadap kesedihan ini.
     Lawan kata dari sedih adalah gembira, bahagia sebagai bentuk persepsi yang menyenangkan atas situasi tertentu. Hal yang satu ini selalu banyak dicari sehingga ia terkadang bersembunyi dan menyamar agar tetap alami, sehingga banyak dari kita terjebak dalam kesenangan semu. Apakah ada kesedihan yang membahagiakan? Agak kontradiksi memang, karena hal yang berlawanan tidak bisa di samakan. Namun bila hal itu menyangkut persepsi, pemahaman terhadap kondisi tertentu, bukankah itu mungkin, semungkin kebahagiaan yang menyedihkan.  Terkadang, diri ini terlalu sibuk untuk mencari sesuatu yang dikira bisa membahagiakan namun yang diperoleh justru sebaliknya. Kesedihan ketika ini disadari adalah bentuk ketidak berdayaan, semakin kita melawannya maka makin kuat efek yang timbul. Satu-satunya jalan agar kesedihan hilang adalah bersahabat dengan kesedihan itu sendiri. Bersahabat bisa dimaknai ia adalah bagian hidup kita yang tak harus dilewatkan dengan air mata, karena ia adalah penguat kesabaran, penguat jiwa, batin. Seperti tubuh kasar yang memerlukan vitamin untuk vitalitas, kesedihan bisa mewakili hal ini. Memang tidak menyenangkan awalnya, namun berangsur ia akan melatih batin kita menjadi kuat. Batin yang kuat akhirnya akan memandang segala hal yang dialami menjadi positif. Mengapa, karena akhirnya diadari, apapun bentuk kesedihan, ia adalah sebuah bentuk kasih sayangNya, dan dibalik itu Beliau selalu memberikan hadiah bagi kita yang melewatinya. Hadiah terbesar ini Beliau justru berikan saat kita disapa oleh kesedihan.
     Hadiah ini bermacam-macam, ada yang terangkat ke tempat yang lebih tinggi, ada yang dibukakan makna kehidupan sejati, ada yang menemukan arah kehidupan yang diidamkan dll yang intinya hadiah itu justru memberikan kebaikan tidak saja bagi diri sendiri tetapi bagi sekitarnya pula. Jadi, ketika saat ini kita sedang mengalami kesedihan yang mungkin telah sampai pada kata putus asa, berikan kesempatan padaNya untuk memberikan hadiah itu pada kita. Tidak ada hal yang paling membahagiakan saat Beliau memberikan hadiah terbaik setelah melewati kesulitan itu. Hanya dengan kesadaran batin, bukankah kesedihan adalah permukaan dari kebahagiaan? Kesedihan yang membahagiakan,terasa indah bukan!
0 0 0 0 0 0 0 0
Tuban,190609

Tidak ada komentar: