Andai
dalam episode kehidupan kita, kesedihan sering menyapa sehingga membuat diri
menjadi kehilangan orientasi dan arah, ada hal yang sering ditanyakan, apa
tujuannya ini menimpa kita? Apakah ini hukuman Tuhan terhadap kita ataukah ini
sebuah bentuk atas kasih sayangNya, agar kita selalu mengingat Beliau dengan
kerendahan hati. Dalam banyak fragment hidup, sering godaan datang mencoba untuk
membiaskan langkah kita untuk sekedar agar kesedihan itu berubah menjadi tawa.
Namun hal yang bersifat artifisial hanya sebentar, kemudian kembali dalam
kesedihan. Kesedihan memang hal yang banyak menguras energi, terasa
menyakitkan, membuat hidup seolah menjadi tak berpihak pada kita. Sehingga
dalam sepanjang perjalanan kehidupan kalau bisa dihindari dan enggan bertemu
dengannya. Lantas apa makna kesedihan itu sendiri? Banyak maknanya, namun yang
jelas ia adalah situasi yang muncul dan berakibat pada ketidak nyamanan diri
kita atas situasi tersebut. Ia adalah situasi yang tidak sesuai dengan harapan
diri, ego, rasa, persepsi kita. Apapun bentuk, tempat, kondisi yang muncul
sehingga membuat diri ini merasa tidak nyaman, potensi kesedihan ini ada.
Persepsi kita justru paling dominan untuk berkontribusi terhadap kesedihan ini.
Lawan kata dari sedih adalah gembira,
bahagia sebagai bentuk persepsi yang menyenangkan atas situasi tertentu. Hal
yang satu ini selalu banyak dicari sehingga ia terkadang bersembunyi dan
menyamar agar tetap alami, sehingga banyak dari kita terjebak dalam kesenangan
semu. Apakah ada kesedihan yang membahagiakan? Agak kontradiksi memang, karena
hal yang berlawanan tidak bisa di samakan. Namun bila hal itu menyangkut
persepsi, pemahaman terhadap kondisi tertentu, bukankah itu mungkin, semungkin
kebahagiaan yang menyedihkan. Terkadang,
diri ini terlalu sibuk untuk mencari sesuatu yang dikira bisa membahagiakan
namun yang diperoleh justru sebaliknya. Kesedihan ketika ini disadari adalah
bentuk ketidak berdayaan, semakin kita melawannya maka makin kuat efek yang
timbul. Satu-satunya jalan agar kesedihan hilang adalah bersahabat dengan
kesedihan itu sendiri. Bersahabat bisa dimaknai ia adalah bagian hidup kita
yang tak harus dilewatkan dengan air mata, karena ia adalah penguat kesabaran,
penguat jiwa, batin. Seperti tubuh kasar yang memerlukan vitamin untuk
vitalitas, kesedihan bisa mewakili hal ini. Memang tidak menyenangkan awalnya,
namun berangsur ia akan melatih batin kita menjadi kuat. Batin yang kuat
akhirnya akan memandang segala hal yang dialami menjadi positif. Mengapa,
karena akhirnya diadari, apapun bentuk kesedihan, ia adalah sebuah bentuk kasih
sayangNya, dan dibalik itu Beliau selalu memberikan hadiah bagi kita yang
melewatinya. Hadiah terbesar ini Beliau justru berikan saat kita disapa oleh
kesedihan.
Hadiah ini bermacam-macam, ada yang
terangkat ke tempat yang lebih tinggi, ada yang dibukakan makna kehidupan
sejati, ada yang menemukan arah kehidupan yang diidamkan dll yang intinya
hadiah itu justru memberikan kebaikan tidak saja bagi diri sendiri tetapi bagi
sekitarnya pula. Jadi, ketika saat ini kita sedang mengalami kesedihan yang
mungkin telah sampai pada kata putus asa, berikan kesempatan padaNya untuk
memberikan hadiah itu pada kita. Tidak ada hal yang paling membahagiakan saat
Beliau memberikan hadiah terbaik setelah melewati kesulitan itu. Hanya dengan
kesadaran batin, bukankah kesedihan adalah permukaan dari kebahagiaan? Kesedihan
yang membahagiakan,terasa indah bukan!
0 0 0 0 0 0 0 0
Tuban,190609

Tidak ada komentar:
Posting Komentar