Rabu, 23 September 2009

Flow It

Berapa banyak dari keinginan kita berhenti hanya sampai pada garis yang bernama angan diseberang dan realita disisi lainnya. Sering kita mengangankan yang besar namun menyusut menjadi kecil saat tiba pada garis batas yang bernama realita.Kita teramat hapal dengan garis itu karena ia bisa berwajah ketakutan,kadang kecemasan atau lain kali keserakahan. Berapa banyak dari kita terhalangi oleh ketakutan yang kita ciptakan sendiri, begitu kuatnya hal ini dan ternyata menjadi realita dan ini kita bawa sebagai kebenaran yang absolut. Berapa banyak dari kita mau menceburkan diri dalam masalah. Menyakitkan,membuat hati teriris-iris,pahit amun begitu kita bisa tuntaskan, maka kita seolah menjadi pribadi yang lebih kuat. Kita seolah menjadi pribadi baru, dengan pandangan baru menatap masa depan dengan mata yang baru.
Berapa dari kita hanya termenung dan terhenyak saat kekalahan menerpa dianggap sebagai hal yang menyedihkan?. Berapa banyak dari kita mengira kalau hadiah dari musibah adalah berupa benda-benda bukan dikuatkannya batin sehingga ia menjadi pegangan kala kita menerima masalah yang sama di kemudian hari. Bukankah kekalahan juga sebuah hadiah sebagai peunjuk kalau kita memang belum pantas sehingga kita disiapkan untuk menjadi pantas ke depan. Bukankah keindahan kemenangan ada setelah ia melewati lelehan air mata kesedihan saat dikalahkan.
Kehidupan ternyata telah menyediakan segalanya untuk kita, hanya ia masih dalam bentuk bahan baku,bahan mentah, tugas kita untuk mengolah,membentuk,mem-fungsikan buat kesejahteraan bersama. Tugas kita adalah melakukannya dan melakukannya...hampir sepanjang hidup kita, tugas yang kita terima dari Beliau sebelum kita menghadap padaNya untuk dinilai hasil upaya atas kewajiban kita di dunia. Indah bukan...!




Puncak

Sampai usia berapakah kita punya ambisi untuk menundukkan dunia dengan kekuatan kita? saat kita muda ketika energi terlalu meledak dan meluber, kita sering berangan-angan untuk menuju puncak tertinggi dalam kehidupan hanya dengan semangat membara. Kita berangan kesana karena melihat contoh tentang puncak yang penuh kemenangan,kebahgiaan dan parameter sukses lainnya. Saat kita masuk dunia realitas yang sebenarnya, ibarat mendaki puncak kita harus dari bawah dulu (dunia kerja) ternyata saat kita melihat ke atas yang namanya puncak itu terlalu tinggi untuk di daki dan sat kita menoleh ke kanan dan kiri, terlalu banyak kompetisi yang harus dijalani membuat hati kita menjadi mengecil, semangat energi kita pelan menyusut ujungnya kita menurunkan apa yang menjadi angan kita dulu dengan atas nama realitas.
Saat kita merambat menjadi lebih dewasa, kita mendaki tidak untuk kesana lagi tapi untuk membawa keluarga menuju tempat yang nyaman, namun ternyata kita membuat parameter nyaman hampir seperti parameter kesuksesan yang kita angankan dulu saat muda. Takut mengulangi kesalahan yang kedua kali kita tekan perasaan bersalah kita dulu dengan mentransfer kegagalan kita pada anak,istri,suami tentang makna kesuksesan. Bukannya berhasil kita malah gagal kedua kalinya dengan penuh membawa keluarga bersama-sama pada kesedihan yang teramat panjang. Apakah saat itu kita kekurangan materi? bisa jadi malah sebaliknya kita mungkin memiliki apapun yang kita mau, memiliki impian di puncak namun kita tidak pernah sampai kesana. Mengapa? kita hanya berlaku seolah kita sudah disana, namun apa yang kita sangka dan kira keenangan di puncak yang kita dapati kehampaan dan kita melihat ad puncak yang lebih tinggi. Dan kita pun berjalan kesana, begitu sampai, kehampaan lagi, begitu seterusnya.
Jadi, apa yang salah? Kita salah meneropong puncak adalah hal yang begitu sempurna padahal disana teramat sederhana, namun tidak demikian dampaknya. Kita sering terbalik, kalau puncak adalah tempat apapun tersedia namun tak memberi dampak apa-apa bagi sekitarnya. Mungkin kita memerlukan kendaraan untuk sampai ke puncaktujuan kita, begitu sampai kendaraan itu tak diperlukan lagi, yang kita perlukan adalah kesederhanaan dalam memahami namun berdampak dalam bertindak.
Hari ini mungkin kita me- restart kembali angan-angan terjauh kita, biarkan ia mengendap dalam benak, menyingkirkan pembatas yang menghalangi kita, takdir kita kesana. Adapun realita kita saat ini belumlah disana, yang harus kita lakukan adalah menguatkan langkah dan hati bahwa puncak bukan berarti posisi atau level lebih tinggi dari kita saat ini namun ia adalah kondisi seberapa besar karya terkecil kita menjadi berguna untuk orang banyak. Sementara hal lainnya, biarlah ia mengikuti mekanisme alam yang ada. Gak percaya?mari kta coba

Sabtu, 19 September 2009

Baju baru ruhani

Hari ini adalah akhir puasa setelah 1 bulan penuh kita melaksanakannya, ada banyak perjalanan yang mungkin harus di kisahkan selama 1 bulan kemarin, entah itu keberhasilan kita untuk mencoba diri menjadi manusia baru, atau kegagalan memasuki aura ramadhan dengan penuh keikhlasan. Ada banyak haru biru yang patut kita kenang dan menjadikan hari ini, hari terakhir ramadhan sebagai titik terminal waktu melanjutkan perjalanan selanjutnya. Ya, hari ini menjadi simpul waktu sebab ia akan menentukan langkah kita ke depan. Bagi yang merayakan idul fitri dengan kegembiraan, sudah sepantasnya apapun perayaan selalu dihiasi dengan hal yang serba baru, pikiran baru, tubuh baru, pakaian baru. Seorang sahabat berkata bahwa puasa seperti sebuah proses metamorfosa dari ulat menjadi kupu-kupu. Puasa adalah proses ulat menjadi kepompong Setelah 1 bulan ulatpun akan keluar jadi kupu-kupu namun ada juga yang tetapmenjadi ulat.
Kupu-kupu yang indah memang enak dipandang seolah ia menjadi sebuah goresan warna dalam dunia ini. Demikian juga dengan kita, ia menjadikan tubuh ruhani kita menjadi lebih indah dipandang seolah memakai baju baru. itulah sebabnya dalam kultur kita baju baru seolah menjadi penghias dalam momen hari raya. Namun lebih indah lagi kalau yang memakai baju baru adalah badan ruhani kita, sebab sekali ia memakainya pantang untuk ditanggalkan .Perjalanan menuju sang sunyi, hanya mensyaratkan keindahan, keikhlasan dan syukur. Baju baru ruhani kita hanya diperoleh dengan perjalanan ke dalam, lewat puasa kita mengetuk pintu menuju kesana. Apa tandanya kita memakai baju baru ruhani kita? Setelah puasa kita menjadi lebih berselaras dengan diri sendiri, alam sekitar sehingga kehidupan yang dijalani apapun fluktuasinya, ia selalu dilihat dalam kerangka indah dan indah Bukankah kupu-kupu yang indah karena ia berselaras dengan keharmonisan alam. Kupu-kupu sendiri tidak bisa melihat keindahan itu, namun ia menjalani kehidupan dengan keikhlasan apapun perannya.
Hari ini kita sampai di simpul waktu, bukan 1 bulan kemarin yang menjadi akhir laku kita karena ia menjadi arah langkah kita selanjutnya. Kemana?menuju sang sunyi, jalan sunyi dimana kita mendambakan kedamaian,keindahan yang selama ini kita cari-cari di luar di badan wadag kita. Sudahkah kita sampai disana?semoga

Kamis, 17 September 2009

Kembali ke kampung halaman

Hari-hari belakangan ini kita mungkin sedang disibukkan untuk menghadapi lebaran dengan segenap rencana yang tidak kalah pentingnya selain lebaran itu sendiri yaitu mudik. Asal muasal kata mudik mungkin dari kata udik, dari desa, wong ndeso. Mudik berakar pada pengertian kembali ke kampung halaman, tempat kita berawal, tempat kita menerima diri sendiri sebelum pindah ke kota dimana penerimaan diri amat tergantung dengan aksesoris yang disandang. Mudik ke kampung halaman telah menjadi sebuah keharusan buat kita. Kenapa? banyak hal yang menjadi alasan, mungkin untuk sekedar menunjukkan kepada kerabat di desa kalau jerih payah kita ternyata ada hasil, ingin menikmati nuansa keindahan, kesantunan,penerimaan tanpa tendensi yang ada padawajah-wajah bersahabat di desa. Jadi mudik sebenarnya adalah sebentuk kerinduan terhadap penerimaan diri dari sebuah habitat apa adanya tanpa tedeng aling. Ada sebuah kerinduan dimana kita menikmati waktu yang terlampau kaya untuk dibuat tergesa-gesa yang tidak mungkin didapatkan di kota. Ada ketulusan dalam penerimaan, ada rasa damai dan tentram saat kita diterima sebagai mahluk yang putih, bersih.
Secara bangunan ruhani, gejala inilah yang makin lama makin dicari oleh kita. Sejauh perjalanan apapun, rintangan jarak, kepenatan, kecelakaan di jalan yang tak habis malah makin bertambah dari tahun ke tahun. Ada kerinduan dalam nurani untuk memandang sesama bukan dari eksistensi luar, tapi dari pancaran ketulusan, damai. Yang demikian sudah menjadi barang mahal dalam diri kita. Begitu mahal karena menghabiskan biaya dan energi yang tak terkira banyaknya. Begitu banyak sahabat kita merindukan dirinya diterima oleh orang lain dengan ketulusan sehingga begitu momen itu ada, apapun dan berapapun ongkosnya dicari.
Gejala apakah ini? bukankah mudah sekali untuk diterka itu sebuah kerinduan kita pada sang Pencipta langit dan bumi, kerinduan kembali ke kampung halaman sejati kita, dimana disana kita menjadi raja apapun asal kita sebelumnya. Perjalanan yang melelahkan dari fisik merupakan pencarian yang masih mengandalkan kondisi raga,fisik,materi. Bukankah hal tersebut bisa kita temui dengan perjalanan ke dalam, dimana laku kita melewati jalan sunyi yang penuh keindahan tanpa rasa lelah. Ketulusan dan kedamaian ada di sepanjang jalan sebelum menemui sejati. Bukankah apa yang sedang kita persiapkan saat ini (mudik) cerminan ruhani kita hanya penempatannya di luar, dan terlalu melelahkan, namun anehnya selalu dilakukan dengan taruhan yang tak seimbang. Kerinduan setahun sekali tak mungkin membentuk diri kita seutuhnya. Perjalanan ke dalam memberi kesempatan diri untuk melewati sesuai yang kita sukai, tidak ada target,terus bergerak maju dan maju. Keindahan dan ketulusa ada di setiap detik,menit dan jam yang berjalan. Bagaimana kita temukan jalan seperti itu? Untuk sahabat yang masih mengagungkan hal kebendaan sebagai parameter untuk menuju kedamaian mungkin agak terasa sulit. Namun ketika kita berhenti untuk menilai benda bukan untk tujuan namun sebagai sarana, maka pintu itu terbuka. Kalau kita takut, mungkin karena belum terbiasa, begitu kita memasukinya, ada cahaya kasih sayangNya disana. Pingin mencoba?