Hari ini adalah akhir puasa setelah 1 bulan penuh kita melaksanakannya, ada banyak perjalanan yang mungkin harus di kisahkan selama 1 bulan kemarin, entah itu keberhasilan kita untuk mencoba diri menjadi manusia baru, atau kegagalan memasuki aura ramadhan dengan penuh keikhlasan. Ada banyak haru biru yang patut kita kenang dan menjadikan hari ini, hari terakhir ramadhan sebagai titik terminal waktu melanjutkan perjalanan selanjutnya. Ya, hari ini menjadi simpul waktu sebab ia akan menentukan langkah kita ke depan. Bagi yang merayakan idul fitri dengan kegembiraan, sudah sepantasnya apapun perayaan selalu dihiasi dengan hal yang serba baru, pikiran baru, tubuh baru, pakaian baru. Seorang sahabat berkata bahwa puasa seperti sebuah proses metamorfosa dari ulat menjadi kupu-kupu. Puasa adalah proses ulat menjadi kepompong Setelah 1 bulan ulatpun akan keluar jadi kupu-kupu namun ada juga yang tetapmenjadi ulat.
Kupu-kupu yang indah memang enak dipandang seolah ia menjadi sebuah goresan warna dalam dunia ini. Demikian juga dengan kita, ia menjadikan tubuh ruhani kita menjadi lebih indah dipandang seolah memakai baju baru. itulah sebabnya dalam kultur kita baju baru seolah menjadi penghias dalam momen hari raya. Namun lebih indah lagi kalau yang memakai baju baru adalah badan ruhani kita, sebab sekali ia memakainya pantang untuk ditanggalkan .Perjalanan menuju sang sunyi, hanya mensyaratkan keindahan, keikhlasan dan syukur. Baju baru ruhani kita hanya diperoleh dengan perjalanan ke dalam, lewat puasa kita mengetuk pintu menuju kesana. Apa tandanya kita memakai baju baru ruhani kita? Setelah puasa kita menjadi lebih berselaras dengan diri sendiri, alam sekitar sehingga kehidupan yang dijalani apapun fluktuasinya, ia selalu dilihat dalam kerangka indah dan indah Bukankah kupu-kupu yang indah karena ia berselaras dengan keharmonisan alam. Kupu-kupu sendiri tidak bisa melihat keindahan itu, namun ia menjalani kehidupan dengan keikhlasan apapun perannya.
Hari ini kita sampai di simpul waktu, bukan 1 bulan kemarin yang menjadi akhir laku kita karena ia menjadi arah langkah kita selanjutnya. Kemana?menuju sang sunyi, jalan sunyi dimana kita mendambakan kedamaian,keindahan yang selama ini kita cari-cari di luar di badan wadag kita. Sudahkah kita sampai disana?semoga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar