Kamis, 17 September 2009

Kembali ke kampung halaman

Hari-hari belakangan ini kita mungkin sedang disibukkan untuk menghadapi lebaran dengan segenap rencana yang tidak kalah pentingnya selain lebaran itu sendiri yaitu mudik. Asal muasal kata mudik mungkin dari kata udik, dari desa, wong ndeso. Mudik berakar pada pengertian kembali ke kampung halaman, tempat kita berawal, tempat kita menerima diri sendiri sebelum pindah ke kota dimana penerimaan diri amat tergantung dengan aksesoris yang disandang. Mudik ke kampung halaman telah menjadi sebuah keharusan buat kita. Kenapa? banyak hal yang menjadi alasan, mungkin untuk sekedar menunjukkan kepada kerabat di desa kalau jerih payah kita ternyata ada hasil, ingin menikmati nuansa keindahan, kesantunan,penerimaan tanpa tendensi yang ada padawajah-wajah bersahabat di desa. Jadi mudik sebenarnya adalah sebentuk kerinduan terhadap penerimaan diri dari sebuah habitat apa adanya tanpa tedeng aling. Ada sebuah kerinduan dimana kita menikmati waktu yang terlampau kaya untuk dibuat tergesa-gesa yang tidak mungkin didapatkan di kota. Ada ketulusan dalam penerimaan, ada rasa damai dan tentram saat kita diterima sebagai mahluk yang putih, bersih.
Secara bangunan ruhani, gejala inilah yang makin lama makin dicari oleh kita. Sejauh perjalanan apapun, rintangan jarak, kepenatan, kecelakaan di jalan yang tak habis malah makin bertambah dari tahun ke tahun. Ada kerinduan dalam nurani untuk memandang sesama bukan dari eksistensi luar, tapi dari pancaran ketulusan, damai. Yang demikian sudah menjadi barang mahal dalam diri kita. Begitu mahal karena menghabiskan biaya dan energi yang tak terkira banyaknya. Begitu banyak sahabat kita merindukan dirinya diterima oleh orang lain dengan ketulusan sehingga begitu momen itu ada, apapun dan berapapun ongkosnya dicari.
Gejala apakah ini? bukankah mudah sekali untuk diterka itu sebuah kerinduan kita pada sang Pencipta langit dan bumi, kerinduan kembali ke kampung halaman sejati kita, dimana disana kita menjadi raja apapun asal kita sebelumnya. Perjalanan yang melelahkan dari fisik merupakan pencarian yang masih mengandalkan kondisi raga,fisik,materi. Bukankah hal tersebut bisa kita temui dengan perjalanan ke dalam, dimana laku kita melewati jalan sunyi yang penuh keindahan tanpa rasa lelah. Ketulusan dan kedamaian ada di sepanjang jalan sebelum menemui sejati. Bukankah apa yang sedang kita persiapkan saat ini (mudik) cerminan ruhani kita hanya penempatannya di luar, dan terlalu melelahkan, namun anehnya selalu dilakukan dengan taruhan yang tak seimbang. Kerinduan setahun sekali tak mungkin membentuk diri kita seutuhnya. Perjalanan ke dalam memberi kesempatan diri untuk melewati sesuai yang kita sukai, tidak ada target,terus bergerak maju dan maju. Keindahan dan ketulusa ada di setiap detik,menit dan jam yang berjalan. Bagaimana kita temukan jalan seperti itu? Untuk sahabat yang masih mengagungkan hal kebendaan sebagai parameter untuk menuju kedamaian mungkin agak terasa sulit. Namun ketika kita berhenti untuk menilai benda bukan untk tujuan namun sebagai sarana, maka pintu itu terbuka. Kalau kita takut, mungkin karena belum terbiasa, begitu kita memasukinya, ada cahaya kasih sayangNya disana. Pingin mencoba?

Tidak ada komentar: