Sampai usia berapakah kita punya ambisi untuk menundukkan dunia dengan kekuatan kita? saat kita muda ketika energi terlalu meledak dan meluber, kita sering berangan-angan untuk menuju puncak tertinggi dalam kehidupan hanya dengan semangat membara. Kita berangan kesana karena melihat contoh tentang puncak yang penuh kemenangan,kebahgiaan dan parameter sukses lainnya. Saat kita masuk dunia realitas yang sebenarnya, ibarat mendaki puncak kita harus dari bawah dulu (dunia kerja) ternyata saat kita melihat ke atas yang namanya puncak itu terlalu tinggi untuk di daki dan sat kita menoleh ke kanan dan kiri, terlalu banyak kompetisi yang harus dijalani membuat hati kita menjadi mengecil, semangat energi kita pelan menyusut ujungnya kita menurunkan apa yang menjadi angan kita dulu dengan atas nama realitas.
Saat kita merambat menjadi lebih dewasa, kita mendaki tidak untuk kesana lagi tapi untuk membawa keluarga menuju tempat yang nyaman, namun ternyata kita membuat parameter nyaman hampir seperti parameter kesuksesan yang kita angankan dulu saat muda. Takut mengulangi kesalahan yang kedua kali kita tekan perasaan bersalah kita dulu dengan mentransfer kegagalan kita pada anak,istri,suami tentang makna kesuksesan. Bukannya berhasil kita malah gagal kedua kalinya dengan penuh membawa keluarga bersama-sama pada kesedihan yang teramat panjang. Apakah saat itu kita kekurangan materi? bisa jadi malah sebaliknya kita mungkin memiliki apapun yang kita mau, memiliki impian di puncak namun kita tidak pernah sampai kesana. Mengapa? kita hanya berlaku seolah kita sudah disana, namun apa yang kita sangka dan kira keenangan di puncak yang kita dapati kehampaan dan kita melihat ad puncak yang lebih tinggi. Dan kita pun berjalan kesana, begitu sampai, kehampaan lagi, begitu seterusnya.
Jadi, apa yang salah? Kita salah meneropong puncak adalah hal yang begitu sempurna padahal disana teramat sederhana, namun tidak demikian dampaknya. Kita sering terbalik, kalau puncak adalah tempat apapun tersedia namun tak memberi dampak apa-apa bagi sekitarnya. Mungkin kita memerlukan kendaraan untuk sampai ke puncaktujuan kita, begitu sampai kendaraan itu tak diperlukan lagi, yang kita perlukan adalah kesederhanaan dalam memahami namun berdampak dalam bertindak.
Hari ini mungkin kita me- restart kembali angan-angan terjauh kita, biarkan ia mengendap dalam benak, menyingkirkan pembatas yang menghalangi kita, takdir kita kesana. Adapun realita kita saat ini belumlah disana, yang harus kita lakukan adalah menguatkan langkah dan hati bahwa puncak bukan berarti posisi atau level lebih tinggi dari kita saat ini namun ia adalah kondisi seberapa besar karya terkecil kita menjadi berguna untuk orang banyak. Sementara hal lainnya, biarlah ia mengikuti mekanisme alam yang ada. Gak percaya?mari kta coba
Tidak ada komentar:
Posting Komentar