Setiap perjalanan kehidupan yang
sedang kita jalani, selalu saja ada moment yang banyak menguras energi kita,
sehingga harapan yang selalu jadi tumpuan saat kita mulai melangkah, menjadi
sirna dan kabur untuk dipandang. Banyak hal yang mempengaruhi sehingga langkah
kita menjadi tertatih hanya untuk mencapai pengertian makna kemana sebenarnya
arah kehidupan ini akan dibawa. Kadang faktor ego diri menjadi tirai untuk
menghalangi kejernihan makna yang sebenarnya. Kemampuan untuk menangkap makna
ini terhalangi hanya karena kita kurang sabar untuk berlatih melihat setiap
kondisi dengan apa adanya, netral saja tanpa kita harus selalu menghakimi
kondisi yang ada. Sering kita terlampau gegabah untuk menilai sesuatu hanya
dengan melihat sisi lain yang mungkin saja ia benar adanya, atau menghakimi
sesuatu dengan fakta yang teramat parsial namun kita bisa membuat gambaran utuh
dengannya. Dalam kondisi hati yang teramat jernih, gambaran utuh bisa terlihat
hanya dengan melihat parameter dan kecenderungan. Dalam kondisi ia membawa
tendensi, makna yang ada semakin menjauh dari kebenaran. Tingkat kepantasan
kita untuk menilai sesuatu sering selalu dimuati kepentingan .Lantas apa saja
yang menghalangi kejernihan kita untuk dapat menangkap kebenaran sejati?
Orientasi yang teramat dalam untuk memperoleh materi hingga melampaui
tingkat kemanusiaan kita, sehingga menafikan kaidah nurani , dalam jangka
panjang bisa membuat manusia menjadi kehilangan orientasi tentang tujuan dan
arah kehidupan ( Life Disorder Oriented). Hal ini ditandai dengan hilangnya
ketulusan, kejujuran, kebahagiaan, dalam berhubungan dengan sesama, merasa
terasing(teralienasi) dengan lingkungan, dan menilai sesuatu dengan parameter
kebendaan bukan dengan rasa, empati. Sehingga tidak heran definisi tentang
sukses bergeser menjadi tumpukan kosmetika bersifat outer bukan inner. Ia akan
mengejar kemanapun dengan atas nama kebendaan. Makin besar dan banyak materi,
sebutan sukses hanya bersifat nisbi sebelum mengejar hal lainnya yang lebih
tinggi seperti dosis obat yang makin besar untuk diberikan. Sebutan pertemanan
hanyalah sebuah cara untuk memperoleh manfaat atas lainnya, atau dengan sebuah
kesepakatan ia menjadi saling menguntungkan dengan sebuah tawar menawar.
Kemana hidup akan dibawa dengan kondisi demikian, karena sudah terlampau
banyak contoh sebuah kesia-siaan karena berjalan dengan menggendong beban-beban
yang coba menghilangkan sisi humanis kita. Telah banyak contoh sebuah kejatuhan
hanya mencoba untuk menafikan sebuah mahluk bernama kejujuran. Dan akan banyak
contoh, mungkin teman-teman kita yang sekarang sedang menuju atau sudah berada
di puncak kehidupan namun ia kekeringan makna karena merampas kepantasan
–kepantasan yang bukan miliknya dengan atas nama keserakahan, dengan cara-cara
yang bertolak belakang dengan keindahan. Sehingga kitapun akan tahu bila teman
kita melakukan duplikasi strategi yang sama, di depan ia akan berada dimana.
Akan berada dimana? Ya ia akan berada di puncak kehampaan meskipun secara
materi berkelimpahan bila cara-cara yang digunakan hanya menghilangkan sebagian
hak yang lain. Dan ia akan tiba disebuah tempat bernama kecewa dan penyesalan
karena apa yang diduga dan kira hanyalah sebuah ilusi belaka.
Hari ini, mungkin kita sebaiknya berjanji untuk diri sendiri, bahwa
semua talenta yang kita peroleh, hanya akan digunakan untuk meninggikan teman,
kolega, anak buah dan membantu mereka untuk mencapai harapannya. Karena dengan
cara inilah sebuah makna kehidupan menjadi lebih indah saat senyum adalah
anggukan yang teramat bermakna, senyum yang melampaui kata-kata. Hari ini
sebaiknya kita mulai melangkah dengan kejujuran terhadap diri sendiri,
melangkah dengan atas nama keyakinan dan keimanan kita dalam arti yang
sebenarnya, baik itu di tempat altar peribadatan maupun di meja-meja kerja,
bahwa semua aktifitas kita, sebenarnya digunakan untuk kebaikan sesama Sehingga
pada saat ini berjalan apa adanya, dengan ketulusan, materi adalah sebuah efek
samping dari tenaga yang kita pakai untuk berkarya dan bukan menjadi tujuan itu
sendiri Karena saat kita berada di
puncak kehidupan, kehidupan akanmemberi pintu terbuka pada kita untuk melampaui
dan mengalami kehidupan sejati yang tak bisa dipadankan dengan banyaknya
materi. Sehingga saat disana, waktu seolah bisa ditarik ke masa kini untuk
merancang kebaikan yang tak ternilai harganya walaupun itu hanya sebuah nasihat
belaka.
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
“That what life a for”
271108
Tuban

Tidak ada komentar:
Posting Komentar