Sabtu, 20 Juni 2009

Kesedihan yang menggembirakan

Andai hari ini kita sedang mengalami perasaan sedih, mungkinkah kita bisa bergembira? apapun penyebab kesedihan yang terkadang bersamaan dengan kepedihan, selalu saja menguras energi kita untuk meratapinya. Air mata seolah enggan berhenti membasahi wajah seperti ia hendak mengalir melarutkan kesedihan itu. Apapun problema yang kita hadapi sekarang, kita berharap untuk berlalu secepatnya. Kalau boleh memilih, kita enggan bertemu dengan mahluk bernama kesedihan. Kalau bisa dihindari. Namun sebagaimana kenyataan hidup, sedih-senang selalu datang silih berganti. Sat senang kita merayakannya, saat sedih kita meratapinya.
Adakah kesedihan yang menggembirakan? agak mustahil memang ada kesedihan yang mengembirakan. Namun seperti senang dan sedih yang berkaitan dengan persepsi pikiran, mungkinkah kesedihan dipersepsikan dengan kegembiraan. Kalau kita sering berjalan ke dalam, jalan-jalan sunyi yang kita lewati, kita akan menemukan kalau dibalik kesedihan, kepedihan, bukan hal yang kebetulan terjadi,ada makna dibalik itu. Ketika kita sampai pada pemahaman kalau kesedihan yang kita alami adalah jalan kita untuk 'naik kelas', melatih 'otot' batin kita agar senantiasa kuat, maka setiap kesedihan yang telah, sedang, akan kita jalani seyakinnya ada 'hadiah' dariNya untuk kita. Hadiah itu diberikan ketika kita 'lulus'. Tidak ada yang tidak senang ketika menerima hadiah apalagi itu diberikan oleh Allah, yang Maha Pengasih dan Penyayang. Kuncinya mungkin kesabaran ketika kita sedang mengalaminya. Jadi dibalik kesedihan yang kita alami, telah menunggu hadiah dariNya asal kita sabar melewatinya. Bukankah dengan demikian, setiap kesedihan yang dialami ada kegembiraan disana. Jangan-jangan kesedihan adalah bagian permukaan mahluk bernama kegembiraan. Indah bukan

Selasa, 16 Juni 2009

Wangi Bunga

Hari ini saat berjalan menemui kelimpahanNya, kadang ada yang luput kalau kita adalah mahluk teramat lemah untuk sekedar nyadong mengharap kemurahanNya. Dengan atas nama efisiensi dan serakah, terkadang menjadikan mata gelap sehingga tanpa sadar kita telah menafikan keberadaaNya. Saat tersadar, bukankah penyesalan tak cukup dengan sekedar meminta maaf. Hari ini saat kita berjalan menapaki tangga-tangga harapan, demi masa depan, terkadang kaki terkantuk dengan sebuah ego yang bernama menang sendiri. Bisakah kita sedikit melambat untuk sejenak berfikir kalau arah hidup kita berjalan di track yang benar. Berapa banyak sahabat kita berlari makin cepat seperti angin untuk memperoleh pengakuan bernama kesuksesan namun dengan jalan yang sama sekali tidak indah. Bukankah kesuksesan seperti wangi bunga, aromanya tercium bukan pada saat bunga itu mekar, namun ia mewangi saat kita menanam benihnya, memupuk, menyiangi.
Mungkin kehidupanpun demikian, ibarat menanam bunga, ia berproses mulai dari benih, tumbuh, mekar dan akhirnya layu. Kalau kesuksesan adalah proses kehidupan itu sendiri mengapa kita tergagap saat proses itu tidak kita harapkan. Andai hari ini kita sedang berproses untuk memperoleh kemuliaan seperti bunga, seyakinnya kita sedang menemui keindahan, apapun situasinya. Andai akhirnya harapa kita tak sejalan dengan realita, masih ada kebijakan disana, yaitu, Tuhan menghendaki kita untuk belajar lebih rendah hati, sebelum Beliau memberi kebaikan yang kita angankan. Indah bukan

Senin, 15 Juni 2009

Rumah Sejati

Ketika hidup telah banyak memberi kita perjalanan yang indah, entah karena kelokan kepedihan yang selalu berganti dengan kegembiran, atau air mata mengalir pada wajah kesedihan kita, dan dilain waktu menetes pada wajah bahagia. Momen-momen seperti itu membuat kita perlu berteduh sebentar di sebuah tempat dimana kita bisa merasakan ketentraman dan kedamaian. Tempat dimana kita bisa membuka borok-borok hidup kita tanpa merasa malu, tempat kita memamerkan keberhasilan tanpa di cap sombong. Tempat kita diterima apa adanya, entah wajah kita kusut atu tidak. Tempat kita bisa menangis sepuasnya saat sedih mendera. Tempat kita tertawa tanpa harus merasa ini sebuah keangkuhan. Dimanakah tempat itu? ia ada di rumah sejati kita, tempat yang ada di dalam, rumah yang slalu terbuka pintunya setiap waktu. Tempat yang selalu dicari-cari kita di sepanjang pergulatan dengan kehidupan. Kadang kita menyangka kita harus mencarinya ke luar namun setelah ditemui ia nisbi. Kadang kita menyangka rumah sejati kita ada pada pangkat, harta dan kekuasaan. Namun ia diluruhkan oleh waktu dan menghilang.


Ruah sejati kita hanya bisa dimasuki dengan kunci ikhlas dan syukur. Jalannya bernama keheningan, gerbangnya bernama rendah hati dan kendarannya bernama kebaikan. Begitu anda masuk kendaraan itu, biarkan segalanya berjalan sendiri, sebab Sang Maha Tahu akan memberi tugas pada sang waktu untuk mengantarkan kita kesana.Begitu tiba disana, biarkan pikiran beristirahat untuk menghilangkan kecemasan dan ketakutan tentang masa depan. Tak perlu, karena ditemani sahabat sejati kita, sang waktu sendiri. Saat kita sampai disana, wajah kehidupanpun berubah, yang nampak oleh kita hanya senyum dan keindahan. Saat sampai disana, hanya ucapan syukur karena semuanya telah cukup dan sempurna. Ya, sempurna, bahkan dengan mencium aroma tanah yang basah karena tersiram oleh hujan, sudah cukup bagi kita.


Ketika hidup telah banyak memberi kita perjalanan yang indah, entah karena kelokan kepedihan yang selalu berganti dengan kegembiran, atau air mata mengalir pada wajah kesedihan kita, dan dilain waktu menetes pada wajah bahagia. Momen-momen seperti itu membuat kita perlu berteduh sebentar di sebuah tempat dimana kita bisa merasakan ketentraman dan kedamaian. Tempat dimana kita bisa membuka borok-borok hidup kita tanpa merasa malu, tempat kita memamerkan keberhasilan tanpa di cap sombong. Tempat kita diterima apa adanya, entah wajah kita kusut atu tidak. Tempat kita bisa menangis sepuasnya saat sedih mendera. Tempat kita tertawa tanpa harus merasa ini sebuah keangkuhan. Dimanakah tempat itu? ia ada di rumah sejati kita, tempat yang ada di dalam, rumah yang slalu terbuka pintunya setiap waktu. Tempat yang selalu dicari-cari kita di sepanjang pergulatan dengan kehidupan. Kadang kita menyangka kita harus mencarinya ke luar namun setelah ditemui ia nisbi. Kadang kita menyangka rumah sejati kita ada pada pangkat, harta dan kekuasaan. Namun ia diluruhkan oleh waktu dan menghilang.


Ruah sejati kita hanya bisa dimasuki dengan kunci ikhlas dan syukur. Jalannya bernama keheningan, gerbangnya bernama rendah hati dan kendarannya bernama kebaikan. Begitu anda masuk kendaraan itu, biarkan segalanya berjalan sendiri, sebab Sang Maha Tahu akan memberi tugas pada sang waktu untuk mengantarkan kita kesana.Begitu tiba disana, biarkan pikiran beristirahat untuk menghilangkan kecemasan dan ketakutan tentang masa depan. Tak perlu, karena ditemani sahabat sejati kita, sang waktu sendiri. Saat kita sampai disana, wajah kehidupanpun berubah, yang nampak oleh kita hanya senyum dan keindahan. Saat sampai disana, hanya ucapan syukur karena semuanya telah cukup dan sempurna. Ya, sempurna, bahkan dengan mencium aroma tanah yang basah karena tersiram oleh hujan, sudah cukup bagi kita.

Minggu, 14 Juni 2009

Sempurna

Ketika hidup menjadi penguras energi kita kemanakah akan berlindung kecuali hanya mohon padaNya agar kita selalu gembira menghadapinya. Saat senang datang, energi kita habis untuk merayakannya. Ketika kepedihan tiba, energi kita habis lagi untuk meratapinya. Terkadang lelehan air mata di wajah sedih tak cukup menguatkan hati agar ia senantiasa tak terombang-ambing dalam wajah yang berbeda. Kadang saat kesedihan datang, kita senantiasa bertanya mengapa doa yang kita panjatkan terlewat begitu saja. ketika harapan kita hanya satu-satunya memohon padaNya, Beliau seperti menjawab doa kita dengan satu kata "tidak".
Kehidupan yang kita jalani sehari-hari seperti orang berdagang, apa yang dapat kita ambil manfaat dari sebuah aktifitas, untung atau tidak. Kebiasaan ini terkadang kita bawa dalam hubungan kita dengan Beliau, denganNya kita selalu mencoba menawar, seolah bargaining kita cukup kuat. Hasilnya pasti bisa ditebak. Doa kita seperti angin yang berlalu. Kita pun seolah meratapi kekalahan dan kerugian. Kepantasan apa yang membuat kita yakin ketika menghadapNya doa kita akan terkabulkan?
Mungkinkah kita bilang padaNya untuk memenuhi pinta kita sedang dalam sehari-hari kita tak pernah memenuhi semua janji yang telah kita buat. Apa yang menjadi garansi kalau kita meminta, Beliau pasti memberi sedangkan dihadapan teman, istri,suami kita masih berhitung untung rugi. Bagaimana mungkin kita bisa menghadap Beliau dengan wajah memelas kalau dalam keseharian kita terkadang menafikan yang lain.
Kita selalu dijejali dengan kata-kata kalau Tuhan selalu dekat dengan kita.Begitu sering hal ini didengar sehingga menjadi kebiasaan dan akhirnya hal ini menjadi tak ada. Kita selalu bertemu denganNya ketika masalah datang menyapa, ketika masalah pergi, dimanakah Ia? Terlalu egoiskah kita? Bagaimana mungkin kita bisa berlutut merendahkan diri dihadapanNya kalau kebiasaan diri kita merendahkan yang lain
Jadi,hal yang paling mudah agar cahayaNya selalu ada dalam diri adalah berjanji kalau semua aktifitas keseharian kita hanya akan dipersembahkan padaNya sebagai wujud pengabdian kita. Kehidupan, apapun adanya yang dijalani saat ini, entah senang, sedih, adalah bagian dari sebuah proyek besar antara kita dengan Tuhan. Tidak ada ketakutan dan kecemasan mengenai masa depan, sebab Beliau selalu ada di samping kita, untuk bersama-sama menuntaskan proyek ini, dan menjalaninya sebelum akhirnya tugas ini selesai.
Apapun masalah kita hari ini, situasi hari ini, senang-sedih, hanya dengan merendahkan diri dihadapanNya kita bisa merasakan kehangatan, ketentraman, kedamaian cahayNya. Yang perlu dilakukan hanya satu yaitu memuliakan sesama, sebelum merasakan energi ini melingkupi kita. ketika sampai disana, hidup berubah wajah menjadi seperti sebuah senyum yang teramat indah, tak ada yang dapat dikatakan kecuali hanya gumam kecil "sempurna"