Minggu, 14 Juni 2009

Sempurna

Ketika hidup menjadi penguras energi kita kemanakah akan berlindung kecuali hanya mohon padaNya agar kita selalu gembira menghadapinya. Saat senang datang, energi kita habis untuk merayakannya. Ketika kepedihan tiba, energi kita habis lagi untuk meratapinya. Terkadang lelehan air mata di wajah sedih tak cukup menguatkan hati agar ia senantiasa tak terombang-ambing dalam wajah yang berbeda. Kadang saat kesedihan datang, kita senantiasa bertanya mengapa doa yang kita panjatkan terlewat begitu saja. ketika harapan kita hanya satu-satunya memohon padaNya, Beliau seperti menjawab doa kita dengan satu kata "tidak".
Kehidupan yang kita jalani sehari-hari seperti orang berdagang, apa yang dapat kita ambil manfaat dari sebuah aktifitas, untung atau tidak. Kebiasaan ini terkadang kita bawa dalam hubungan kita dengan Beliau, denganNya kita selalu mencoba menawar, seolah bargaining kita cukup kuat. Hasilnya pasti bisa ditebak. Doa kita seperti angin yang berlalu. Kita pun seolah meratapi kekalahan dan kerugian. Kepantasan apa yang membuat kita yakin ketika menghadapNya doa kita akan terkabulkan?
Mungkinkah kita bilang padaNya untuk memenuhi pinta kita sedang dalam sehari-hari kita tak pernah memenuhi semua janji yang telah kita buat. Apa yang menjadi garansi kalau kita meminta, Beliau pasti memberi sedangkan dihadapan teman, istri,suami kita masih berhitung untung rugi. Bagaimana mungkin kita bisa menghadap Beliau dengan wajah memelas kalau dalam keseharian kita terkadang menafikan yang lain.
Kita selalu dijejali dengan kata-kata kalau Tuhan selalu dekat dengan kita.Begitu sering hal ini didengar sehingga menjadi kebiasaan dan akhirnya hal ini menjadi tak ada. Kita selalu bertemu denganNya ketika masalah datang menyapa, ketika masalah pergi, dimanakah Ia? Terlalu egoiskah kita? Bagaimana mungkin kita bisa berlutut merendahkan diri dihadapanNya kalau kebiasaan diri kita merendahkan yang lain
Jadi,hal yang paling mudah agar cahayaNya selalu ada dalam diri adalah berjanji kalau semua aktifitas keseharian kita hanya akan dipersembahkan padaNya sebagai wujud pengabdian kita. Kehidupan, apapun adanya yang dijalani saat ini, entah senang, sedih, adalah bagian dari sebuah proyek besar antara kita dengan Tuhan. Tidak ada ketakutan dan kecemasan mengenai masa depan, sebab Beliau selalu ada di samping kita, untuk bersama-sama menuntaskan proyek ini, dan menjalaninya sebelum akhirnya tugas ini selesai.
Apapun masalah kita hari ini, situasi hari ini, senang-sedih, hanya dengan merendahkan diri dihadapanNya kita bisa merasakan kehangatan, ketentraman, kedamaian cahayNya. Yang perlu dilakukan hanya satu yaitu memuliakan sesama, sebelum merasakan energi ini melingkupi kita. ketika sampai disana, hidup berubah wajah menjadi seperti sebuah senyum yang teramat indah, tak ada yang dapat dikatakan kecuali hanya gumam kecil "sempurna"

Tidak ada komentar: