Selasa, 16 Juni 2009

Wangi Bunga

Hari ini saat berjalan menemui kelimpahanNya, kadang ada yang luput kalau kita adalah mahluk teramat lemah untuk sekedar nyadong mengharap kemurahanNya. Dengan atas nama efisiensi dan serakah, terkadang menjadikan mata gelap sehingga tanpa sadar kita telah menafikan keberadaaNya. Saat tersadar, bukankah penyesalan tak cukup dengan sekedar meminta maaf. Hari ini saat kita berjalan menapaki tangga-tangga harapan, demi masa depan, terkadang kaki terkantuk dengan sebuah ego yang bernama menang sendiri. Bisakah kita sedikit melambat untuk sejenak berfikir kalau arah hidup kita berjalan di track yang benar. Berapa banyak sahabat kita berlari makin cepat seperti angin untuk memperoleh pengakuan bernama kesuksesan namun dengan jalan yang sama sekali tidak indah. Bukankah kesuksesan seperti wangi bunga, aromanya tercium bukan pada saat bunga itu mekar, namun ia mewangi saat kita menanam benihnya, memupuk, menyiangi.
Mungkin kehidupanpun demikian, ibarat menanam bunga, ia berproses mulai dari benih, tumbuh, mekar dan akhirnya layu. Kalau kesuksesan adalah proses kehidupan itu sendiri mengapa kita tergagap saat proses itu tidak kita harapkan. Andai hari ini kita sedang berproses untuk memperoleh kemuliaan seperti bunga, seyakinnya kita sedang menemui keindahan, apapun situasinya. Andai akhirnya harapa kita tak sejalan dengan realita, masih ada kebijakan disana, yaitu, Tuhan menghendaki kita untuk belajar lebih rendah hati, sebelum Beliau memberi kebaikan yang kita angankan. Indah bukan

Tidak ada komentar: