Ketika hidup telah banyak memberi kita perjalanan yang indah, entah karena kelokan kepedihan yang selalu berganti dengan kegembiran, atau air mata mengalir pada wajah kesedihan kita, dan dilain waktu menetes pada wajah bahagia. Momen-momen seperti itu membuat kita perlu berteduh sebentar di sebuah tempat dimana kita bisa merasakan ketentraman dan kedamaian. Tempat dimana kita bisa membuka borok-borok hidup kita tanpa merasa malu, tempat kita memamerkan keberhasilan tanpa di cap sombong. Tempat kita diterima apa adanya, entah wajah kita kusut atu tidak. Tempat kita bisa menangis sepuasnya saat sedih mendera. Tempat kita tertawa tanpa harus merasa ini sebuah keangkuhan. Dimanakah tempat itu? ia ada di rumah sejati kita, tempat yang ada di dalam, rumah yang slalu terbuka pintunya setiap waktu. Tempat yang selalu dicari-cari kita di sepanjang pergulatan dengan kehidupan. Kadang kita menyangka kita harus mencarinya ke luar namun setelah ditemui ia nisbi. Kadang kita menyangka rumah sejati kita ada pada pangkat, harta dan kekuasaan. Namun ia diluruhkan oleh waktu dan menghilang.
Ruah sejati kita hanya bisa dimasuki dengan kunci ikhlas dan syukur. Jalannya bernama keheningan, gerbangnya bernama rendah hati dan kendarannya bernama kebaikan. Begitu anda masuk kendaraan itu, biarkan segalanya berjalan sendiri, sebab Sang Maha Tahu akan memberi tugas pada sang waktu untuk mengantarkan kita kesana.Begitu tiba disana, biarkan pikiran beristirahat untuk menghilangkan kecemasan dan ketakutan tentang masa depan. Tak perlu, karena ditemani sahabat sejati kita, sang waktu sendiri. Saat kita sampai disana, wajah kehidupanpun berubah, yang nampak oleh kita hanya senyum dan keindahan. Saat sampai disana, hanya ucapan syukur karena semuanya telah cukup dan sempurna. Ya, sempurna, bahkan dengan mencium aroma tanah yang basah karena tersiram oleh hujan, sudah cukup bagi kita.
Ketika hidup telah banyak memberi kita perjalanan yang indah, entah karena kelokan kepedihan yang selalu berganti dengan kegembiran, atau air mata mengalir pada wajah kesedihan kita, dan dilain waktu menetes pada wajah bahagia. Momen-momen seperti itu membuat kita perlu berteduh sebentar di sebuah tempat dimana kita bisa merasakan ketentraman dan kedamaian. Tempat dimana kita bisa membuka borok-borok hidup kita tanpa merasa malu, tempat kita memamerkan keberhasilan tanpa di cap sombong. Tempat kita diterima apa adanya, entah wajah kita kusut atu tidak. Tempat kita bisa menangis sepuasnya saat sedih mendera. Tempat kita tertawa tanpa harus merasa ini sebuah keangkuhan. Dimanakah tempat itu? ia ada di rumah sejati kita, tempat yang ada di dalam, rumah yang slalu terbuka pintunya setiap waktu. Tempat yang selalu dicari-cari kita di sepanjang pergulatan dengan kehidupan. Kadang kita menyangka kita harus mencarinya ke luar namun setelah ditemui ia nisbi. Kadang kita menyangka rumah sejati kita ada pada pangkat, harta dan kekuasaan. Namun ia diluruhkan oleh waktu dan menghilang.
Ruah sejati kita hanya bisa dimasuki dengan kunci ikhlas dan syukur. Jalannya bernama keheningan, gerbangnya bernama rendah hati dan kendarannya bernama kebaikan. Begitu anda masuk kendaraan itu, biarkan segalanya berjalan sendiri, sebab Sang Maha Tahu akan memberi tugas pada sang waktu untuk mengantarkan kita kesana.Begitu tiba disana, biarkan pikiran beristirahat untuk menghilangkan kecemasan dan ketakutan tentang masa depan. Tak perlu, karena ditemani sahabat sejati kita, sang waktu sendiri. Saat kita sampai disana, wajah kehidupanpun berubah, yang nampak oleh kita hanya senyum dan keindahan. Saat sampai disana, hanya ucapan syukur karena semuanya telah cukup dan sempurna. Ya, sempurna, bahkan dengan mencium aroma tanah yang basah karena tersiram oleh hujan, sudah cukup bagi kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar