Sabtu, 15 Agustus 2009

Honesty, such as lonely words

Ada sebuah bait lagu:" honesty... such as lonely words...." kejujuran, seperti kata-kata yang kesepian. Kesepian karena tak ada kata lain yang mau berteman dengannya. Keserakahan tidak mungkin mau berteman dengannya, apalagi kesombongan, keburukan dan lain sebagainya. Bahkan kata seperti keikhlasan, kerendah hatian akan selalu berhati-hati. Sebab, ketika ikhlas dibayangi dengan ketidak jujuran, ia malah mudah menjadi tendensi. Pintar namun tidak jujur bisa jatuh ke sekat bernama curang.

Sedemikian kesepiankah kata jujur ini seolah menjadi hal yang langka dalam keseharian kita sekarang ini.Kejujuran apapun situasinya, ia selalu mendapat lawan bernama godaan. Dikatakan lawan karena ia selalu mengajak kita untuk menjauhinya. Saat kita di puncak kehidupan, kejujuran kadang datang terasa menyakitkan karena membuat kita tidak ingin pindah dari kenyamanan. Saat di bawah, kejujuran banyak menguras air mata kita karena ia menjadi pelengkap penderitaan dan kepedihan kita. Saat ia menghilang, selalu dirindukan, saat hadir, ia malah menjadi penghalang ambisi kesemuan kita.

Namun yang tidak bisa dipungkiri, kejujuran selalu hadir dalam relung batin kita. Dipaksa atau tidak, mau atau tidak, ia akan hadir untuk menyapa kita seraya memberi pesan, kemana langkah hidup harus berjalan. Seolah ia menjadi alarm ketika kita terbentur dengan sesuatu yang mengharuskan kita merubah arah. Jadi, apakah hakikat kejujuran itu sendiri?mungkin ia semacam kompas yang diberikan Beliau agar kita berjalan dengan arah yang benar. Arah yang mana? arah yang akan menuntun kita padaNya. Sebab, bukankah dengan berjalan menuju padaNya kehidupan kita akan penuh berkah, hal yang selama ini kita cari-cari, namun salah menempatkan. Bukankah kehidupan sejati memang selalu dilingkupi dengan kebaikan sehingga arah dan langkah kita harus menggandeng mahluk bernama kejujuran.

Hari ini, mungkin kita telah melupakannya, menjauhinya karena ia menjadi penghambat kemajuan level kehidupan kita secara fisik, menghambat kemajuan karir kita, kesejahteraan kita sehingga ia harus dibuang dalam kerangka berfikir dan kehidupan . Namun sebaik apapun melupakannya, ia akan tersenyum menunggu di batas usia kita nantinya. Dan ia tersenyum menyambut dengan ramah, seolah kita adalah sahabat yang telah lama tak dijumpainya. Percaya atau tidak, senyuman itu akan terasa menyakitkan dan penuh sesal buat kita. Jadi, mulai hari ini, lebih baik bersahabat dengannya, agar ia mampu menjadi sahabat yang sejati di kehidupan selanjutnya. Mau?

Tidak ada komentar: