Rabu, 12 Agustus 2009

Tak Gendong

"Tak gendong, kemana-mana,enak to?" sepenggal dari bait lagunya almarhum mbah surip mungkin telah akrab di telinga kita. Namun jauh ke dalam lagu ini seperti mengingatkan diri kita yang saat ini sedang berjuang menuju puncak, ada di puncak, atau sedang siap turun seperti siklus alam. Apa itu? tanpa sadar dalam level apapun kita masih sering menggendong beban-beban kehidupan, tanpa terasa kita telah lama menggendongnya sehingga seperti bukan menjadi beban lagi, sehingga menjadi hal yang "enak to".
Apa beban-beban kehidupan yang tak terasa menjadi beban kita?Kita sering terpaku dengan hal yang bernama "sukses" karena hal ini mengindikasikan kemapanan baik dalam harta/materi, pangkat, kemakmuran,kesejahteraan, kedamaian sampai hari tua dan kalau bisa saat di panggil Beliau, mendapat tempat di surga atau apapun namanya seperti mengulang sukses di dunia. Sedemikian mendarah daging beban itu seolah menjadi keniscayaan untuk diraih bagaimanapun caranya.Bahkan terkadang dalam mimpi kita, sering terpola dengan hal ini seolah tanpanya, kita hanya tersia-sia menjalani kehidupan.Kalau tujuan kehidupan hanya seperti ini, terasa naif rasanya kerumitan yang kita hadapi tatkala kesedihan menyapa.
Kehidupan yang kita jalani saat ini seperti sebuah film yang selalu terulang-ulang dari nenek, orang tua, nanti kita ajarkan pada anak cucu kita kalau kehidupan tanpa "kesuksesan" adalah hal yang harus di hindari. Namun sebagaimana hidup itu bertutur, beban tersebut malah menjauhkan diri kita dari harapan. Kita mengalami kepedihan yang tak dirasakan, merasa menjadi gagal tatkala harapan itu tak terjadi seolah Tuhan salah memilih bukan kita yang memperoleh kemuliaan. Kita gendong beban ini mulai dari rumah berangkat ke kantor, hingga di tempat ibadah yang tercermin dari untaian doa kita.Lebih rumit lagi pengakuan diri dari orang lain selalu memakai parameter yang sama.
Rasanya makin lama kita akan sering menjumpai orang"gagal" meraih kesuksesan karena beban yang digendongnya ke mana-mana. Kita hanya bisa berharap semoga beban itu bisa terlepaskan untuk menjalani hidup dengan cara yang berbeda sehingga kehidupanpun menjadi hal yang penuh keindahan, karena tak ada kesuksesan sejati tatkala kita memperolehnya dengan mencederai kehidupan. Saat kita tiba disana bukankah semua menjadi indah, seindah lagunya mbah surip: enak to, mantep to

Tidak ada komentar: