Kamis, 13 Januari 2011

spiritual journey


Pernahkah kita dalam suatu waktu seperti menemukan jalan kehidupan yang penuh kedamaian dan hati merasa penuh dengan ketentraman. Atau di lain waktu merasa hari-hari penuh dengan kepedihan seolah ini akan berjalan selama mungkin. Kita pernah tersentuh dengan hal yang sepele sekalipun, seperti trenyuh ketika melihat kekuranagn pada orang lain sehingga untuk mencari sesuap nasi untuk hari ini harus berjuang sedemikian kerasnya. Atau lain kali kita merasa jengkel dengan keterlambatan kita dalam mencapai sesuatu sehingga orang lainlah yang memperolehnya. Pernahkah coba direnungkan, apa makna dibalik semua kejadian itu. Sebuah kebetulan, atau ada skenario yang telah dirancang sedemikian rupa sehingga kita harus melaluinya dengan tawa dan air mata. Dimanakah Tuhan yang kita harapkan dalam setiap doa untuk meringankan beban kita ?

Pernahkah kita merenungi akan kemana kehidupan dibawa ketika melihat “ketidak adilan” pada diri kita? Apakah keburukan yang ditimpakan pada kita oleh orang lain, oleh system yang tidak kita mengerti atau ketidak pantasan yang diberlakukan pada kita akan mendapat balasannya. Pernahkah setidaknya kita kehabisan energi berlomba dengan yang lain saat mencari nafkah sehingga mencoba mencari jalan pintas, hal yang tidak pantas dilakukan dan ketika malam tiba kita mencoba menghibur diri kalau ketidak pantasan ini toh dilakukan juga oleh orang lain, jadi kenapa kita merasa harus menyalahkan diri. Bertubi-tubi nurani menanyakan hal ini dan sekuat mungkin kita coba menemukan alasannya. Kita bertarung dengan diri sendiri untuk suatu hal yang tidak bisa kita penuhi secara utuh. Kita sering menghakimi diri sendiri atas ketidak mampuan untuk bersaing dengan orang lain saat mengejar materi, namun tidak pernah mensyukuri atas kesehatan dan tawa, senyum anak dan istri yang menyambut saat kita pulang.

Laku apakah yang sedang kita jalani ketika melihat kegembiraan dan kepedihan datang silih berganti seperti siklus siang malam? Pernahkah kita merenunginya untuk membasuh batin, hati dan nurani kita seraya bertanya inti dari kehidupan apa yang sedang ditunjukkan pada kita. Perjalanan kehidupan yang manakah yang sedang ditunjukkan Tuhan pada kita? Mengapa kita harus melalui berbagai macam tawa dan kepedihan melewati liku hidup, kalau akhirnya hendak bertemu Beliau. Skenario apa yang hendak dititahkan Beliau pada kita untuk menjalaninya? Bertubi-tubi pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran akan membuka pada sebuah alternatif jawaban. Tempaan musibah telah membukakan mata hati kita kalau apa yang kita lakukan di dunia ini adalah perjalanan menuju padaNya. Perjalanan spiritual yang entah kita tahu atau tidak, terpaksa atau tidak, pasti akan menuju padaNya.

Jadi, apapun yang akan dilakukan esok, yang telah dilakukan tadi, entah itu membawa kebaikan bagi diri dan orang lain, atau membawa kerugian semuanya akan memberi sebuah sebab akibat yang anehnya selalu dibawa pada pemahaman kalau semua itu mengarah padaNya. Hari ini mungkin kita belum bisa melakukan apa yang telah dititahkanNya dalam hal sekecil yng terkadang sepele seperti memelihara kebersihan diri, memelihara tubuh, panca indera untuk dipakai sesuai fungsinya, namun karena godaan kita pakai untuk hal lain, cepat atau lambat Beliau akan mengembalikan pada track yang benar. Hari ini, mungkin kita agak menyimpang saat mencari nafkah dengan menafikan teman, sahabat kita, dan kita seolah jadi pemenangnya, cepat atau lambat Tuhan kan memberi petunjuk pada kita untuk kembali pada track yang benar. Kalau kembali dengn penuh kesadaran, maka ini sebuah jalan mudah, kalau kita dipaksa untuk kembali karena ego kita menolaknya, maka kita kembali penuh dengan rasa sakit luar biasa. Pernah mengalami musibah beruntun? Apakah pernah introspeksi kalau ini cara alam untuk mengembalikan kita, melembutkan hati kita supaya kembali mengingatNya, kembali pada kesadaran kalau apapun yang ada di dunia ini adalah milikNya, kita hanya punya hak pakai saja. Jadi, lantas apa dengan bertumpuknya harta, materi yang kita peroleh dengan kerja keras diklai sebagai milik kita. Semuanya adalah hak yang Beliau berikan untuk kita dan dipilihNya kita untuk mengelola, mendistribusikan pada sesame dengan harapan ini akan memberikan kebaikan dan memberikan pemahaman kalau ini semua dilakukan dalamkerangka mengerti akan KuasaNya. Kalau tidak, Beliau akan mencabut hak ini dan akan diberikan pada yang lainnya.

Bukankah harta kita cuma ada 3 hal, 1. Apa yang kita makan sampai jadi ampas(makanan,minuman), 2.Apa yang kita pakai sampai lapuk(baju, rumah, mobil) 3. Apa yang kita sedekahkan dan kita amalkan (ilmu, zakat, infaq, sodaqoh). Lantas apa hubungannya dengan perjalanan spiritual kita di dunia ini? Kembali pada visi dan misi manusia di dunia ini adalah membuat dunia dan seisinya tempat yang aman dan tenteram penuh cinta baik sesama insan, alam, hewan dsb. Dan tugas kita adalah mengatur semuanya agar terjadi harmoni. Tugas kita sebagai manusia agar apa yang ada di dunia ini berjalan sesuai tuntunanNya sehingga menjadikan dunia adalah tempat berkarya, pengabdian yang penuh ketulusan sebelum dipanggil menghadap olehNya.

Perjalanan menuju sebuah kehidupan kekal adalah perjalanan yang teramat indah untuk tidak dilewatkan. Jadi andai kita hari ini bersusah payah karena kehidupan seperti berpaling. Hal yang terbaik adalah mengadu padaNya. Karena pada batas tertentu perjalanan kita, ada kuasa Beliau untuk segera menuntaskanNya Perjalanan spiritual tidak saja semata-mata selalu terkoneksi denganNya, namun juga selalu menjadikan hubungan kita di dunia adalah wujud pengabdian padaNya. Ketika hal ini menjadi tolok ukur langkah kita, apapun yang dilakukan ada jejak kuasa Beliau disana. Inilah makna perjalanan itu, jadi apapun kegelisahan kita hari ini karena mungkin energi kita habis mengejar harta, ketakutan kita untuk tidak bisa hidup selayaknya, atau kecemasan kita menatap masa depan yang masih kabur adanya. Biarkan kegelisahan, ketakutan, kecemasan itu lenyap dalam genggamanNya. Biarkan semua mengalir dan cahayaNya kasih sayangNya ada menghangatkan kita. Bukankah hal yang demikian lebih menentramkan.

0 0 0 0 -Spiritual Journey

Malang,080609

Jumat, 07 Januari 2011

Kesunyian,,,

Ah..kesunyian tak harus bermakna kesepian

bukankah ia teman dari keheningan

bukankah ia ibu dari segala sunyi

kelak, kemana suara-suara itu kembali

kalau bukan menuju keheningan

karena disana ia rehat sejenak

setelah menempuh gegap gempita

riuh rendah kesibukan manusia

karena disana ia introspeksi

merunut lagi jalan yang sejati

Ah..kesunyian tak harus bermakna kesepian

bukankah disana bersemayam kedamaian

yang selama ini setengah mati dicari-cari

namun salah tempat kalau dicari disana-sini

di tempat riuh-rendah kesibukan mencari duniawi

karena ia hadir saat kesunyian menjelang

terbuka di pintu bernama kepekaan

karena ia hadir justru saat kepedihan datang

saat hati melunak karena ditempa kesedihan

saat sepi dan kehadiranNya terasa menyejukkan

Ah..kesunyian tak harus bermakna kesepian

bukankah disana terbuka pintu-pintu kesejatian

untuk merunut arah hidup ini kembali

menjadi sebuah jalan bernama keikhlasan

menempuh tempat-tempat tertinggi

untuk menebar benih-benih kemuliaan

untuk berjalan demi kebaikan

fitrah yang tergaris dalam suratan

sehingga sebelum kita kembali ke haribaan-Nya

memahami makna hidup sebenarnya apa

Ah kesunyian tak harus bermakna kesepian

bukankah ia teman perjalanan yang sebenarnya

menemanimu disetiap kelokan masa

ia setia hadir ketika sedih-gembira berganti

ketika bulir air mata kecewa menetes

ia disana tanpa tendensi apa-apa

hanya hati yang lembut bisa menerimanya

menjadikan ketulusan

bermakna diam tanpa kecenderungan

000000

131208

Adinda,,,

Adinda, apa yang kau cari?

Saat matamu sembab menangisi yang hilang

Bukan kepekaan hati, tapi benda-benda duniawi

Seolah ia nyawa yang harus dilindungi setengah mati

Seolah tanpanya engkau hanya sebuah benda mati

Meletakkan kebahagiaan pada hal-hal nisbi

Sama saja menggantungkan hidup pada kesemuan

Ujung ceritanya engkau pasti mendapati kesia-siaan

Adinda, apa yang kau cari?

Mengejar dari pagi hingga malam hari

Untuk menggapai kesempurnaan sejati

Untuk mencapai kebebasan diri

Tapi engkau hanya dapati kecewa disudut sepi

Seraya bertanya apa yang salah padaku ini

Seolah hidup menghimpit hari demi hari

Adinda apa yang kau cari?

Saat dunia tersenyum menyambut pagi

Dengan kehangatan dan kebahagiaan

Engkau malah menangisi kehidupan

Seolah dunia enggan dan tak berkenan

Menyambutmu dengan ketulusan

Atau sebnarnya ini cermin kehidupan

Refleksi dari sikapmu yang tak pernah jua kembali

Untuk melihat nurani degan kejernihan

Agar kelak penyesalan tak berubah jadi kesia-siaan

Rabu, 05 Januari 2011

Gusti Allah ora sare

Setiap perjalanan hidup kemanusiaan kita, sering dalam berbagai moment seperti kehilangan energinya. Entah karena alpa sesaat kalau kita adalah mahluk kesayanganNya. Kita sering meng-klaim padaNya kalau kita sering memperhatikanNya terutama lewat doa-doa, seolah ada sebuah dialog denganNya. Setelah itu ketika memasuki riuh rendah pergaulan sesama, doa itu seperti menjadi raib seolah ia tak pernah terucapkan oleh manusia yamg teramat khusuk ketika menghadapNya. Kita berdoa dengan sebuah harapan dan mimik yang diatur sedemikian rupa sehingga tampak kadang terlihat seperti memelas seolah Tuhan adalah atasaan yang akan menjadi trenyuh dan segera mengabulkan setiap pinta . Makin memelas doa kita dan kata-kata yang diatur sedemikian teatrikalnya seperti menjadi jaminan kalau ia akan terkabulkan. Kita sedemikian santun dan lembut dihadapanNya seolah ada ketakutan Beliau akan berpaling karenanya kalau kita bersikap kurang ajar.

Dan ketika kembali ke dunia nyata dengan segenap gegap gempita kehidupan, kita alpa kembali ke habitat lama dengan segala cara untuk menafikan saudaranya sendiri dengan terang-terangan, dengan cara halus dengan atas nama kompetisi, persaingan atau apapun namanya namun dilakukan dengan cara yang menyedihkan secara nurani dan melukai hati, batin. Kalau kita berfikir luka itu hanya disandang oleh yang terluka sesungguhnya ia juga melukai yang melakukannya. Sebab, nurani dan batin secara fitrah tidak rela ketika berbuat buruk, dan ketika itu dilakukan ia memberi sinyal yang membuat diri tidak nyaman akan situasi tersebut.Diri/ego akan membuat sebuah alasan dengan mengatakan kalau tidak dilakukan, kita yang akan menjadi korbannya. Ya, kita melakukan atau dilukai, sama-sama terluka batin dan hati . Secara jangka panjang kalau beban ini terus menumpuk, akan tiba pada suatu kondisi mulai kehilangan makna hidup, mengapa? Karena sinyal-sinyal yang menuntun pada jalan kebaikan makin lemah karenanya. Bagaimana wujud kehilangan makna hidup, walau faktanya dari sisi materi mungkin kita berkecukupan.

Pernahkah anda mengalami ketakutan tanpa tahu sebabnya? Atau mungkin anda merasakan kecemasan yang luar biasa dan hidup seperti hampa. Atau mungkin anda merasa ada gejala tidak beres dengan diri anda seolah ada sesuatu yang kurang dalam kehidupan, (sehingga anda mengira ia bisa di penuhi dari simbol-simbol kebendaan) Kalau anda mengalami hal tersebut diatas, ia adalah gejala awal dari sebuah bencana besar sisi kemanusiaan yaitu sebuah sinyal kalau anda mengalami kehilangan orientasi kehidupan dan tak tahu akan kemana kehidupan akan dibawa. Gejala ini bukan datang dari luar sebagai stimulusnya, ia adalah alarm yang berbunyi dari dalam ketika anda memencet belnya, Makin lama anda tekan belnya, makin menjadi gejala tersebut . Mekanisme ini sudah ada dalam diri sebagai koridor agar segera kembali ke jalur/track yang sebenarnya. Kita mungkin tahu dimana letak alarmnya berada. Namun sering lupa kapan dan dimana meletakkan belnya . Lebih celaka kalau tidak tahu dimana bel dan alarmnya berada..

Dimanakah menekan belnya sehingga butuh waktu lama sampai kita alpa, sehingga ketika alarmnya mulai berbunyi kita kebingungan bagaimana cara menghentikannya. Dimanakah menekan belnya?

Kalau bel biasa ada di depan pintu rumah dan alarmnya ada di dalam, logikanya hampir sama, ia ada di depan pintu hati dan alarmya ada di dalam, di nurani terdalam. Ketika tekan bel ini dengan cara menafikan saudara kita, persaingan dengan rekan dengan cara yang tidak sepantasnya atau hal hal yang membuat hati dan batin menjadi tidak nyaman, disanalah menekan belnya. Makin sering menekannya, makin berulang juga suaranya. Namun tidak seperti bel biasa yang langsung berbunyi, ia akan perlu waktu untuk mencapai kejernihan nurani seiring dengan bertambahnya usia dan kesadaran spiritual. Pada saatnya ia berbunyi kita menjadi tergagap. Tahukah bagaimana bunyinya? Ia tidak seperti bunyi biasa ia hanya mendendangkan kepedihan seperti kehilangan, kesepian, sakit, stress, frustasi atau hal lainnya yang sering kita definisikan sebagai musibah. Dengan cara itulah alam memiliki mekanisme untuk membuat kita kembali menengok kemana jalan yang pernah dilalui. Ada yang bilang ini seperti sebuah karma, atau sebab akibat, kita menanam, kita memanen atau hal lainnya. Namun intinya berpusat pada kita, apakan akan kembali atau tidak. Jika kesadaran batin mengatakan kembali, maka kita akan masuk pada kehidupan yang sama tetapi dengan sudut pandang berbeda. Mungkin bisa dikatakan telah memperolah pencerahan, atau apapun namanya. Hanya, alam memiliki kebijaksanaan, boleh kembali, boleh tidak, Makin menghindari rasa sakit ini, makin berat kelak menanggungnya. Jadi, kalau kita sering melukai, kenalilah gejala ini, kita harus segera menyembuhkannya dengan sebuah pil yang bernama maaf. Dan bagi yang sering dilukai, bisa sembuhkan dengan obat yang bernama ikhlas. Sebab, kalau dilukai dan menyimpan dendam, dan menggendong dendam ini melewati tahun dan masa, ini secara permanent akan menyakiti.

Jadi, apapun yang telah dilalui dalam kehidupan kemarin, entah kita yang jadi korban, ikhlaskanlah, biarlah ini menjadi obat yang menguatkan syaraf kesabaran . Sebab, ketika kita telah menekan belnya, ia tidak bisa dibatalkan dengan atas nama apapun. Kepedihan yang sama saat disakiti orang lain, mudah-mudahan kita akan terima dengan kesadaran bahwa sahabat yang menyakiti telah menekan belnya sendiri, mekanismenya berjalan merambat dan mungkin akan terasa menyakitkan. Dalam tutur orang jawa, Gusti Allah ora sare. Tuhan tidak tidur, Beliau tahu apa yang diperbuat, dan beliau telah menyediakan “hadiah” apa yang akan diterima, tergantung dari bagaimana kita menyikapinya.

0 0 0 0 Tuban,150409

"Gusti Allah Ora sare"

Hope

ini merupakan kumpulan coretan saya beberapa tahun yang lalu,,,saat jiwa saya masih rapuh untuk mencari makna hidup seperti apa :-)

Hari ini ketika perjalanan hidup dimulai, sering datang suatu pertanyaan yang mungkin teramat sederhana namun susah menjawabnya. Akan dibawa kemana aku berjalan hari ini oleh sang empu kehidupan? Ketika pagi menjelang, entah tergantung mood kita atau makanan kita yang kita santap semalam, ada semacam optimisme bahwa kesulitan apapun kemarin, kekuatiran dan ketakutan yang kita alami kemarin, berharap akan sirna hari ini dan menjelma menjadi kekuatan yang menggembirakan. Kekuatan apakah yang dapat merubah hal seperti ini kalau bukan karena hati kita yang diliputi optimisme di hari ini berjalan dengan kepala tegak walau toh pasti kesulitan adalah bagian dari hari ini. Sering kita melihat ada sebagian sahabat kita yang tertunduk lesu ketika kesulitan datang menyapa dan reaksi yang dilakukan sunguh membuat kita terkagum untuk merasa kuatir dan iba. Apa yang dilakukan sahabat kita adalah menyalahkan orang lain dengan mengasihani diri sendiri seolah kehidupan paling berat hanyalah untuk dia sedang yang lain tidak. Reaksi yang semacam begini jika berlebihan kadang membuat kita menjadi takut karena secara tidak sadar sahabat kita ini mengalami semacam limbung kejiwaan. Bukankah kita sering menemui seseorang yang teramat apatis, cuek dengan kondisi sekitar namun menjadi ribut ketika sesuatu yang menguntungkan dia hilang dari genggaman.

Hal semacam ini justru menjadi beban lingkungan karena secara disengaja sahabat kita ini tidak sanggup untuk melakukan tugas yang teramat mudah sekalipun namun kesadarannnya telah menutup diri untuk keberhasilan dengan mengatakan tidak mampu. Beban- beban seperti inilah yang terkadang menghambat kemajuan rekan-reakannya dan anehnya dari sisi kecerdasan mereka justru diatas rata-rata namun kecerdasan mereka justru dipakai untuk menghakimi diri, hal yang mebuat kita miris sekaligus nelangsa karena ke depan secara pasti kita akan tahu tempat mereka. Dimanakah mereka di depan? Yang jelas mereka ada di sisi peradaban yang terpinggirkan oleh jaman seraya mereka mengasihani diri sendiri.

Hari ini ketika kita terbangun dari mimpi indah semalam, sudah selayaknya kita mensyukuri segala hal yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita, karena bukankah itu yang layak kita lakukan. Bukankah anugerah Beliau pada kita sudah sedemikian tak terhitung untuk menjadikan diri kita sebagai mahluk kesayangannya. Lantas apalagi yang harus kita lakukan selain bersyukur padaNya. Karena mensyukuri apapun yang telah dan yang akan hadir akan memberikan kekuatan pada diri untuk selalu menghadapi hidup dengan penuh kesadaran. Artinya ketika hidup mungkin berjalan tidak sesuai dengan yang kita inginkan, dan kita mungkin menjadi lunglai karenanya, kita menjadi tenang, damai karena ada tumpuan untuk mengadu atas segala hal. Kepada Beliaulah kita mengadu dan bersandar atas ketidak pantasan dan ketidak adilan yang pernah kita terima dari sesama manusia. Kepada beliau kita jadikan sandaran atas ketidak mampuan kita saat menghadapi kehidupan yang belum berpihak.

Ditengah derasnya arus kehidupan yang mematok materi sebagai parameter kesuksesan, terkadang kita menjadi gamang menatap ke depan. Karena banyak hal telah mengubah pandangan kehidupan banyak sahabat kita atau kita sendiri untuk selalu mengejar dan selalu saja hal ini tidak menjadikan diri kita semakin dekat padaNya. Sedangkan disatu sisi, dalam taraf tertentu, kehidupan memerlukan enegi untuk bergerak, energi ini disebut materi(harta). Namun saat ia diperoleh dengan menafikan sisi manusiawi kita, materi ini berubah bukan saja menjadi berhala yang harus kita puja namun ia mengalahkan rasa nurani kita terdalam. Dibutuhkan mental dan energi yang teramat kuat untuk bisa membuat garis pemisah mana antara serakah dan memperoleh nafkah. Garis pemisahnya ada dalam batin kita terdalam. Karena bagaimanapun juga saat kita membenci materi dengan cara berlebihan sama saja kita bergerak tanpa bahan bakar, kita hanya diam dan mengisolasi diri. Namun saat kita terlalu bergairah untuk mandapatkannya dan hanya untuk kepentingan diri semata, ia bergerak liar menjadi tidak terkendali. Hanya pada Beliau akhirnya kita sandarkan saat kehidupan menjadi sulit adanya.

Hari ini, saat perjalanan hidup dimulai, sudah sepantasnya kita hilangkan ketakutan-ketakutan kita pada hal yang sifatnya nisbi seperti takut miskin, takut pada sesama manusia, takut pada masa depan, atau ketakutan lain yang kita sendiripun terkadang tidak bisa menerangkannya Biarkan ketakutan itu lenyap dalam genggamanNya saat berinteraksi dengan Beliau tentang masalah kita walau menurut kita hal sepele. Hanya Beliaulah yang pantas ditakuti, andai Ia enggan dan berpaling dari kita, pada siapa lagi akan menumpahkan seluruh masalah kehidupan kita kalau bukan padaNya.

0 0 0 0 Malang,,300109, “Hope”

Selasa, 04 Januari 2011

its about me

Wing, masih ada tugas besar yang menantimu di depan, sebuah tugas yang cukup menantang dan menggembirakan karena bisa membawamu ke tempat-tempat tinggi yang tak pernah dibayangkan, yang bisa membawa dirimu menuju kebebasan, kebahagiaan dan kedamaian bersama keluarga dan orang-orang tercinta. Jangan sia-siakan waktumu untuk meratapi hal yang membuatmu kehilangan fokus. Engkau cukup punya talenta dan kemampuan untuk berjalan menuju tempat yang kau idam-idamkan. Jangan buang waktumu untuk meratapi dan menyesali ketika sebuah langkah yang kamu kira berisi dan bermakna ketulusan, ternyata hanyalah sebuah ego yang berisi sejumput kepentingan sesaat dan semu.

Wing, engkau telah banyak ditunjukkan cerita-cerita tentang kejatuhan sebuah manusia dari singgasana hanya karena sebuah ego diri., yang ujungnya hanyalah materi belaka. Fitrah kehidupan manusia tidak layak untuk sebuah episode begini. Jangan terhalangi oleh hal-hal kecil seperti ini, sebab kalau kau menganggapnya besar, maka ia akan jadi besar dan bisa menghalangi langkah mulia yang kamu cita-citakan. Engkau terlalu besar untuk menghadapi hal kecil seperti ini, jadi lupakanlah, biarkan waktu yang akan mengurus hal seperti ini. Karena apapun yang telah engkau lakukan jika ini mengandung kebaikan, kelak akan menghampiri kebenaran yang sejati, sebab kebaikan apapun walau hanya sebuah nasihat, jauh lebih berharga dari materi manapun namun diperoleh bukan dengan jalan keindahan. Kelak saat kehidupan berjalan ke depan, akan disadari ketika kelimpahan materi namun dicapai bukan dengan jalan kebaikan, ia hanya menjadi sebuah kehampaan dan sia-sia tidak memberikan kehidupan yang sejati.

Wing, engkau terlalu besar untuk halangan kecil seperti ini, kehilangan teman, pengkhianatan, atau apapun hal lainnya, mungkin terasa menyakitkan. Tapi ini mungkin lebih berharga dari pada penyesalan yang datang kemudian. Perlu disadari, kebaikan tidak bisa bercampur dengan keburukan, bersih tidak bisa bercampur kotor, kejujuran tidak bisa bercampur kecurangan, ketulusan tidak bisa berteman dengan tendensi, karena kepercayaan dalam sebuah hubungan pertemanan, persahabatan, adalah saling menghargai dan ditempa oleh waktu untuk mengujinya, bukan sesaat dan memiliki sejumput kepentingan ego diri. Kehilangan hal yang begini memang tidak perlu disesali karena saat engkau berada di tempat yang tinggi justru berisi orang-orang yang tulus dan jujur.

Wing, fokuskan dirimu untuk menerima tantangan yang lebih besar, siapkanlah dan berdoalah agar Tuhanmemberi jalan untuk menuntaskan apapun masalah kita asal kita telah berusaha dengan sekuat tenaga. Sebab akhir dari usaha terkeras kita adalah awal dari campur tangan Tuhan untuk memberi pertolongan pada kita.

Wing, berharaplah kelak kalau sejumput kabaikan yang pernah kau lakukan namun disalah pahami akan menjadi bunga mekar yang harum dan indah yang tidak saja menyenangkan pemiliknya namun menyenangkan orang yang memandangnya. Bukankah kebahagiaan datang, saat orang sekelilingmu tersenyum senang. Jadi mulai saat ini,pada kondisi apapunjuga, senang-sedih;tawa-tangis, engkau harus tampilkan kualitas –kualitas prima dalam berbagai kondisi apapun. Karena kehidupan lebih suka bersahabat dengan orang yang riang dalam melakukan tindakan, dan tanpa segan ia akan memberimu hadiah sebuah tanda jalan untuk memperbaiki diri dan jalan untuk menuju tempat yang tinggi. Bukankah kita selalu tersenyum saat melihat bayi-bayi kecil menghadapi awal kehidupannya dengan berbagai kesalahan bahkan untuk hal yang termudah sekalipun, dan kita tidak segan untuk turun memperbaiki kesalahannya dengan sebuah senyuman. Begitulah, kehidupanpun akan melakukan hal yang serupa kepada kita.

Wing, tahukah engkau, kalau kau memiliki bakat dan talenta luar biasa. Bukankah orang lain pernah mengatakan itu? Maka gunakanlah talenta dan bakatmu untuk melakukan hal yang mulia dengan cara yang mulia. Fokuslah dengan kondisi ini, karena fokus akan menghasilkan energi dan tenaga yang cukup dahsyat yang bisa menjadi pendorong untuk melesatkan dirimu menuju tempat yang kamu idam-idamkan. Jangan biarkan orang mencoba membuat opini seolah-olah engkau kecil adanya karena itu adalah cerminan atas dirinya . Ia hanya tidak rela engkau bertumbuh dengan kapasitas besarmu yang menakjubkan. Bukankah hidup telah banyak bertutur kalau langkah kita terhenti sampai batas yang dibayangkannya. Engkau memiliki kapasitas tidak seperti itu. Jadi jangan biarkan itu ada dalam pikiranmu, sebab ini akan mencederai komitmen muliamu dengan kehidupan.

Jadi, dengan kapasitas besarmu, dengan talentamu yang menakjubkan, bergandenglah dengan kehidupan untuk menebar benih-benih kemuliaan sehingga mencapai tempat-tempat tertinggi dalam kehidupan. Jangan biarkan hal kecil menghalangi langkahmu. Kehilangan seorang teman yang egois akan lebih bagus karena engkau akan memperoleh seribu teman yang akan mendukungmu dengan ketulusan dan kejujuran. Kelak engkau akan sadari hal ini saat engkau sampai di suatu tempat dimana kemuliaan bertahta jauh diatas ketidak pantasan yang engkau sekarang sedang lihat ada di depan. Karena engkau akan lihat bahwa kejujuran akan bersinggasana jauh diatas ketidak pantasan atas kepercayaan yang dicederai dengan menafikan sisi kemanusiaan kita.

0 0 0 0 0 malang, 040109

“its about me”

I will come there

Hari ini, ketika matahari bersinar cerah seperti memberi tanda kalau kehidupan menjadi tak ternilai harganya. Kehangatan sinarnya seolah pertanda semua harapan kita apapun adanya menjadi kenyataan. Ketika hidup tiba dalam kondisi begini, tidak ada yang akan kita lakukan kecuali berucap syukur. Bukankah ini bisa terjadi tatkala lingkungan menstimulir kita untuk melihat lewat mata akan keindahan yang terjadi hari ini dan pikiran memberikan persepsi tentang kedamaian, badan kitapun seperti terhipnotis untuk merasakan kenyamanan. Saat itu terjadi, hidup terasa begitu melimpah dan sempurna bukan? Segala apapun pandangan mata kita lihat, seolah sekeliling kita memberi senyum yang terbaik hanya untuk kita. Dan kitapun seolah ingin kalau semua ini jangan cepat berlalu. Namun seperti yang kita ketahui, kalau apapun yang bersifat nisbi di dunia ini tidak akan abadi. Segera saja semua yang kita nikmati berubah. Lantas apa sebenarnya yang salah kalau kita menginginkannya untuk selamanya?

Ternyata apapun yang kita dengar, lihat, rasa, adalah stimulan yang masuk dari luar, akan dipersepsikan secara berbeda oleh tiap individu meski input stimulannya sama. Persepsi yang berbeda ternyata banyak dipengaruhi oleh kestabilan suasana emosi kita sebelum emosi memerintahkan pikiran untuk melakukan reaksi atas stimulus tadi. Ternyata suasana emosi, banyak sekali tergantung pada kadar spiritual kita (perlu dibedakan antara spiritual dan ritual tidak sama). Pada tingkatan dimana spiritual telah menyelubungi diri sejati kita ditandai dengan sering terkoneksinya energi kita dengan energi sejati, maka alunan kehidupan seberapapun kerasnya ia tidak menjadi mudah oleng, karena amat percaya kalau ini adalah bagian hidup dariNya yang sedang dan akan kita lewati dan Beliau sedang melihat seberapa dekat kita denganNya. Kembali ke awal, ketika diri kita terdalam telah dilingkupi energi spiritual sejati, maka emosi yang keluar justru akan memberi persepsi pada pikiran untuk menjadikan stimulant yang masuk menjadi baik dan sempurna.

Baik dan sempurna? Saat apapun kondisi kita, entah diatas saat semuanya berkecukupan dalam tataran materi, ataupun saat kita bekerja keras untuk sekedar bertahan dari keserakahan hanya untuk keinginan tertentu, segalanya akan menjadi baik dan sempurna. Bukankah semua kebaikan mengandung kesempurnaan, demikian juga sebaliknya. saat kita tertawa untuk merayakan kesuksesan kita atau saat kita tersedu menahan air mata keluar ketika kegagalan datang menyapa, bukankah semuanya terasa sempurna. Dibutuhkan kekuatan mental luar biasa untuk mencapai kondisi saat kepedihan menjadi terasa baik dan sempurna, dan itu hanya bisa dilewati oleh pribadi yang tahan guncangan karena nilai-nilai tersebut diatas. Ia seperti pelaut yang telah melewati demikian banyak badai sehingga ia berkata: antara pelaut dan badai seperti saudara, tanpa badai, ia tidak akan menjadi pelaut yang tangguh, tanpa pelaut, badai jadi kehilangan makna.

Bukankah kehidupan juga demikian adanya, kehidupan tanpa guncangan akan membuat kita tidak menjadi pribadi yang tangguh. Kehidupan yang penuh fluktuasi dan memang akan demikian, kadang membuat kita berfluktuasi juga. Kita tidak mungkin untuk melawan fluktuasi kehidupan selama kita berlayar didalamnya. Saat gelombang naik, kita diatas, saat gelombang turun kita terhempas. Bukankah banyak cerita saat manusia mencoba melawan gelombang kehidupan hanya untuk keinginan bertahan diatas akhirnya terhempas untuk tenggelam. Dan anehnya saat ia tidak bergerak alias mati, justru tubuhnya mengapung diatas. Jadi kehidupan yang berfluktuasi( diatas dan dibawah) hanya bisa diikuti tanpa harus hati kita terbawa mabuk oleh rasa hempasan itu( efek vertigo). Hanya hati yang diliputi energi spiritual akan menghilangkan efek itu, ketika semua persepsi kita hanya baik, baik,dan baik.

Yang penting adalah menyiapkan diri untuk selalu belajar dan ber-iqra untuk selalu menyandarkan segala sesuatunya pada kekuatan hati yang terpenuhi oleh energiNya. Bukankakah kehidupan menjadi tawar adanya bila hempasan hidup entah diatas atau dibawah dimaknai oleh hal yang baik-baik saja, mungkin hati kecil kita bertanya. Pada saat kita tiba disana, segalanya memang dipenuhi kebaikan dan segalanya dipenuhi keindahan bukan kehidupan yang tawar. Saat semuanya dipenuhi keindahan, bukankah segala kebaikan, kesempurnaan sudah termasuk didalamnya. Apakah saya telah sampai disana? Sehingga bisa menggambarkan semuanya? Belum..saya belum sampai disana, tapi saya sedang berjalan menuju kesana dan arah jalannya sudah terlihat, dan aromanya juga sudah tercium seperti aroma tanah kering yang baru saja terbasahi oleh air hujan, terasa menyegarkan. Bukankah ini juga sebuah bentuk keindahan?

0 0 0 0 0 0 0 0 0Malang,180109

“I will come there”

Time Confuse

"Lama saya tidak menyambangi rumah yang satu ini terlalu asik dengan rumah yang baru, namun apa daya kerinduan terhadap jalan sunyi membawa saya kesini"

Sebuah renungan

Siklus sebuah kehidupan selalu bertumpu pada sebuah dimensi yang disebut dengan “waktu”. Ia bergerak dengan membawa masa lalu menuju masa depan dengan berpijak pada masa kini. Dengan masa lalu ia menjadi sebuah ingatan yang kerap kita sebut dengan memori, dengan masa depan ia menjadi tumpuan yang disebut dengan harapan. Lantas dimanakah masa kini berada? Apakah ada diantara masa lalu dan masa depan? Ataukah ia hadir dengan kejujuran pada situasi yang disebut masa lalu dan masa depan. Atau masa lalu dan depan sebenarnya khayalan yang tercipta pada pikiran manusia yang sebenarnya tidak nyata pada tingkat realitas hidup sehari-hari. Sebab bukankah apa yang disebut dengan masa lalu, sebenarnya masa kini yang telah terlewati dan masa depan adalah masa kini yang belum terlalui. Lantas apa bedanya masa lalu, masa depan kalau hakikatnya adalah masa kini.

Pada tingkatan tertentu, yang disebut dengan waktu adalah masa kini, ia hadir dalam realita kehidupan kita sehari-hari. Hanya ego manusialah yang menciptakan pikiran bahwa waktu adalah masa lalu dan masa depan, sedangkan masa kini menjadi nisbi/relative, sehingga dalam jangka tertentu manusia mengalami masalah “kebingungan waktu”/ time confuse. Bukankah banyak disekitar kita contoh-contoh orang yang badannya hadir saat sekarang namun pikirannya ada di masa lalu atau masa depan. Saat pikiran dan badan tidak menjadi sinkron, tidak utuh, ia mengalami semacam ketidak nyamanan atas kehadiran. Orang yang selalu hadir dengan pikiran masa lalu, menjadi orang yang selalu mengeluh , menyesali keadaan, menjadi pengkritik yang andal. Sedangkan orang yang pikirannya hadir di masa depan menjadi orang yang pencemas, kadang possesif, dan dua-duanya tidak pernah bisa bersyukur atas kelimpahan yang tersedia pada hari ini.

Split body and mind, menjadikan hidup lebih banyak diisi dengan lamunan dan penyesalan. Ketidak sinkronan antara tubuh yang hadir di masa kini dan pikiran yang berkhayal di masa depan dan masa lalu menjadi penyebab datangnya penderitaan pada manusia . Ia menjadi budak atas pikiran yang terlalu dipaksakan sehingga kadang ia luput untuk menangkap datangnya keberuntungan yang anehnya selalu hadir pada masa kini, karena orang yang pikirannya mengalami time confuse, ia menjadi tidak waspada, sering mengalami mind illness, merasa dirinya sakit, padahal diakibatkan oleh daya khayal pikirannya.

Menjadi sebuah korelasi kalau kesuksesan adalah milik orang yang optimis, ikhlas dan berserah diri, karena merekalah orang yang paling jujur, orang yang selalu hadir baik pikiran dan tubuhnya di masa kini sehingga tingkat kepekaan dan kewaspadaan mereka cukup tinggi sehingga segala sesuatu yang dikerjakan saat sekarang dijadikan sebuah moment untuk sebuah kesempatan yang akan membawa mereka menuju tempat yang tinggi. Bukankah kesuksesan hanya bisa dicapai oleh orang yang pola kerjanya bertumpu pada fokus masa kini, hal yang tidak mungkin dikerjakan oleh orang yang fokusnya justru di masa lalu.Kehadiran dan keberadaan pada masa kini menjadikan orientasi kerja adalah sesuatu yang teramat dinantikan, karena saat itu dikerjakan rasa kekuatiran, cemas, takut akan bayangan kegagalan menjadi hilang ketika keyakinan berubah menjadi sebuah keberanian dan keberanian menjadi energi pendorong untuk mencapai keberhasilan dengan konsentrasi penuh . Segala sesuatu yang dikerjakan dengan energi yang kuat, bukankah bisa membuka pintu kemudahan yang ujungnya adalah keberhasilan.

Sebuah keberhasilan sering datang menjenguk saat kita berkonsentrasi penuh pada masa kini, bukan masa lalu dan masa depan yang bersifat khayalan. Bukankah kesuksesan, keberhasilan adalah sebuah realitas yang bisa dirasakan, ia tidak mungkin bersemayam pada bilik-bilik khayalan karena itu tidak memungkinkan sebab realita dan khayal adalah hal yang sangat berbeda, seperti halnya antara kebaikan dan keburukan.

Akhirnya, masa kini adalah kehidupan yang sebenarnya, karena didalamnya sudah tersedia apa yang sering di dambakan oleh manusia. Kalau sekarang kita belum merasakan hal yang sama, jangan-jangan kita masih terbelenggu oleh kehidupan masa lalu dan angan masa depan kita, hanya tubuh kita yang ada pada masa kini.

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 111108

“Time Confuse”

Tuban