Setiap perjalanan hidup kemanusiaan kita, sering dalam berbagai moment seperti kehilangan energinya. Entah karena alpa sesaat kalau kita adalah mahluk kesayanganNya. Kita sering meng-klaim padaNya kalau kita sering memperhatikanNya terutama lewat doa-doa, seolah ada sebuah dialog denganNya. Setelah itu ketika memasuki riuh rendah pergaulan sesama, doa itu seperti menjadi raib seolah ia tak pernah terucapkan oleh manusia yamg teramat khusuk ketika menghadapNya. Kita berdoa dengan sebuah harapan dan mimik yang diatur sedemikian rupa sehingga tampak kadang terlihat seperti memelas seolah Tuhan adalah atasaan yang akan menjadi trenyuh dan segera mengabulkan setiap pinta . Makin memelas doa kita dan kata-kata yang diatur sedemikian teatrikalnya seperti menjadi jaminan kalau ia akan terkabulkan. Kita sedemikian santun dan lembut dihadapanNya seolah ada ketakutan Beliau akan berpaling karenanya kalau kita bersikap kurang ajar.
Dan ketika kembali ke dunia nyata dengan segenap gegap gempita kehidupan, kita alpa kembali ke habitat lama dengan segala cara untuk menafikan saudaranya sendiri dengan terang-terangan, dengan cara halus dengan atas nama kompetisi, persaingan atau apapun namanya namun dilakukan dengan cara yang menyedihkan secara nurani dan melukai hati, batin. Kalau kita berfikir luka itu hanya disandang oleh yang terluka sesungguhnya ia juga melukai yang melakukannya. Sebab, nurani dan batin secara fitrah tidak rela ketika berbuat buruk, dan ketika itu dilakukan ia memberi sinyal yang membuat diri tidak nyaman akan situasi tersebut.Diri/ego akan membuat sebuah alasan dengan mengatakan kalau tidak dilakukan, kita yang akan menjadi korbannya. Ya, kita melakukan atau dilukai, sama-sama terluka batin dan hati . Secara jangka panjang kalau beban ini terus menumpuk, akan tiba pada suatu kondisi mulai kehilangan makna hidup, mengapa? Karena sinyal-sinyal yang menuntun pada jalan kebaikan makin lemah karenanya. Bagaimana wujud kehilangan makna hidup, walau faktanya dari sisi materi mungkin kita berkecukupan.
Pernahkah anda mengalami ketakutan tanpa tahu sebabnya? Atau mungkin anda merasakan kecemasan yang luar biasa dan hidup seperti hampa. Atau mungkin anda merasa ada gejala tidak beres dengan diri anda seolah ada sesuatu yang kurang dalam kehidupan, (sehingga anda mengira ia bisa di penuhi dari simbol-simbol kebendaan) Kalau anda mengalami hal tersebut diatas, ia adalah gejala awal dari sebuah bencana besar sisi kemanusiaan yaitu sebuah sinyal kalau anda mengalami kehilangan orientasi kehidupan dan tak tahu akan kemana kehidupan akan dibawa. Gejala ini bukan datang dari luar sebagai stimulusnya, ia adalah alarm yang berbunyi dari dalam ketika anda memencet belnya, Makin lama anda tekan belnya, makin menjadi gejala tersebut . Mekanisme ini sudah ada dalam diri sebagai koridor agar segera kembali ke jalur/track yang sebenarnya. Kita mungkin tahu dimana letak alarmnya berada. Namun sering lupa kapan dan dimana meletakkan belnya . Lebih celaka kalau tidak tahu dimana bel dan alarmnya berada..
Dimanakah menekan belnya sehingga butuh waktu lama sampai kita alpa, sehingga ketika alarmnya mulai berbunyi kita kebingungan bagaimana cara menghentikannya. Dimanakah menekan belnya?
Kalau bel biasa ada di depan pintu rumah dan alarmnya ada di dalam, logikanya hampir sama, ia ada di depan pintu hati dan alarmya ada di dalam, di nurani terdalam. Ketika tekan bel ini dengan cara menafikan saudara kita, persaingan dengan rekan dengan cara yang tidak sepantasnya atau hal hal yang membuat hati dan batin menjadi tidak nyaman, disanalah menekan belnya. Makin sering menekannya, makin berulang juga suaranya. Namun tidak seperti bel biasa yang langsung berbunyi, ia akan perlu waktu untuk mencapai kejernihan nurani seiring dengan bertambahnya usia dan kesadaran spiritual. Pada saatnya ia berbunyi kita menjadi tergagap. Tahukah bagaimana bunyinya? Ia tidak seperti bunyi biasa ia hanya mendendangkan kepedihan seperti kehilangan, kesepian, sakit, stress, frustasi atau hal lainnya yang sering kita definisikan sebagai musibah. Dengan cara itulah alam memiliki mekanisme untuk membuat kita kembali menengok kemana jalan yang pernah dilalui. Ada yang bilang ini seperti sebuah karma, atau sebab akibat, kita menanam, kita memanen atau hal lainnya. Namun intinya berpusat pada kita, apakan akan kembali atau tidak. Jika kesadaran batin mengatakan kembali, maka kita akan masuk pada kehidupan yang sama tetapi dengan sudut pandang berbeda. Mungkin bisa dikatakan telah memperolah pencerahan, atau apapun namanya. Hanya, alam memiliki kebijaksanaan, boleh kembali, boleh tidak, Makin menghindari rasa sakit ini, makin berat kelak menanggungnya. Jadi, kalau kita sering melukai, kenalilah gejala ini, kita harus segera menyembuhkannya dengan sebuah pil yang bernama maaf. Dan bagi yang sering dilukai, bisa sembuhkan dengan obat yang bernama ikhlas. Sebab, kalau dilukai dan menyimpan dendam, dan menggendong dendam ini melewati tahun dan masa, ini secara permanent akan menyakiti.
Jadi, apapun yang telah dilalui dalam kehidupan kemarin, entah kita yang jadi korban, ikhlaskanlah, biarlah ini menjadi obat yang menguatkan syaraf kesabaran . Sebab, ketika kita telah menekan belnya, ia tidak bisa dibatalkan dengan atas nama apapun. Kepedihan yang sama saat disakiti orang lain, mudah-mudahan kita akan terima dengan kesadaran bahwa sahabat yang menyakiti telah menekan belnya sendiri, mekanismenya berjalan merambat dan mungkin akan terasa menyakitkan. Dalam tutur orang jawa, Gusti Allah ora sare. Tuhan tidak tidur, Beliau tahu apa yang diperbuat, dan beliau telah menyediakan “hadiah” apa yang akan diterima, tergantung dari bagaimana kita menyikapinya.
0 0 0 0 Tuban,150409
"Gusti Allah Ora sare"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar