Hari ini, ketika matahari bersinar cerah seperti memberi tanda kalau kehidupan menjadi tak ternilai harganya. Kehangatan sinarnya seolah pertanda semua harapan kita apapun adanya menjadi kenyataan. Ketika hidup tiba dalam kondisi begini, tidak ada yang akan kita lakukan kecuali berucap syukur. Bukankah ini bisa terjadi tatkala lingkungan menstimulir kita untuk melihat lewat mata akan keindahan yang terjadi hari ini dan pikiran memberikan persepsi tentang kedamaian, badan kitapun seperti terhipnotis untuk merasakan kenyamanan. Saat itu terjadi, hidup terasa begitu melimpah dan sempurna bukan? Segala apapun pandangan mata kita lihat, seolah sekeliling kita memberi senyum yang terbaik hanya untuk kita. Dan kitapun seolah ingin kalau semua ini jangan cepat berlalu. Namun seperti yang kita ketahui, kalau apapun yang bersifat nisbi di dunia ini tidak akan abadi. Segera saja semua yang kita nikmati berubah. Lantas apa sebenarnya yang salah kalau kita menginginkannya untuk selamanya?
Ternyata apapun yang kita dengar, lihat, rasa, adalah stimulan yang masuk dari luar, akan dipersepsikan secara berbeda oleh tiap individu meski input stimulannya sama. Persepsi yang berbeda ternyata banyak dipengaruhi oleh kestabilan suasana emosi kita sebelum emosi memerintahkan pikiran untuk melakukan reaksi atas stimulus tadi. Ternyata suasana emosi, banyak sekali tergantung pada kadar spiritual kita (perlu dibedakan antara spiritual dan ritual tidak sama). Pada tingkatan dimana spiritual telah menyelubungi diri sejati kita ditandai dengan sering terkoneksinya energi kita dengan energi sejati, maka alunan kehidupan seberapapun kerasnya ia tidak menjadi mudah oleng, karena amat percaya kalau ini adalah bagian hidup dariNya yang sedang dan akan kita lewati dan Beliau sedang melihat seberapa dekat kita denganNya. Kembali ke awal, ketika diri kita terdalam telah dilingkupi energi spiritual sejati, maka emosi yang keluar justru akan memberi persepsi pada pikiran untuk menjadikan stimulant yang masuk menjadi baik dan sempurna.
Baik dan sempurna? Saat apapun kondisi kita, entah diatas saat semuanya berkecukupan dalam tataran materi, ataupun saat kita bekerja keras untuk sekedar bertahan dari keserakahan hanya untuk keinginan tertentu, segalanya akan menjadi baik dan sempurna. Bukankah semua kebaikan mengandung kesempurnaan, demikian juga sebaliknya. saat kita tertawa untuk merayakan kesuksesan kita atau saat kita tersedu menahan air mata keluar ketika kegagalan datang menyapa, bukankah semuanya terasa sempurna. Dibutuhkan kekuatan mental luar biasa untuk mencapai kondisi saat kepedihan menjadi terasa baik dan sempurna, dan itu hanya bisa dilewati oleh pribadi yang tahan guncangan karena nilai-nilai tersebut diatas. Ia seperti pelaut yang telah melewati demikian banyak badai sehingga ia berkata: antara pelaut dan badai seperti saudara, tanpa badai, ia tidak akan menjadi pelaut yang tangguh, tanpa pelaut, badai jadi kehilangan makna.
Bukankah kehidupan juga demikian adanya, kehidupan tanpa guncangan akan membuat kita tidak menjadi pribadi yang tangguh. Kehidupan yang penuh fluktuasi dan memang akan demikian, kadang membuat kita berfluktuasi juga. Kita tidak mungkin untuk melawan fluktuasi kehidupan selama kita berlayar didalamnya. Saat gelombang naik, kita diatas, saat gelombang turun kita terhempas. Bukankah banyak cerita saat manusia mencoba melawan gelombang kehidupan hanya untuk keinginan bertahan diatas akhirnya terhempas untuk tenggelam. Dan anehnya saat ia tidak bergerak alias mati, justru tubuhnya mengapung diatas. Jadi kehidupan yang berfluktuasi( diatas dan dibawah) hanya bisa diikuti tanpa harus hati kita terbawa mabuk oleh rasa hempasan itu( efek vertigo). Hanya hati yang diliputi energi spiritual akan menghilangkan efek itu, ketika semua persepsi kita hanya baik, baik,dan baik.
Yang penting adalah menyiapkan diri untuk selalu belajar dan ber-iqra untuk selalu menyandarkan segala sesuatunya pada kekuatan hati yang terpenuhi oleh energiNya. Bukankakah kehidupan menjadi tawar adanya bila hempasan hidup entah diatas atau dibawah dimaknai oleh hal yang baik-baik saja, mungkin hati kecil kita bertanya. Pada saat kita tiba disana, segalanya memang dipenuhi kebaikan dan segalanya dipenuhi keindahan bukan kehidupan yang tawar. Saat semuanya dipenuhi keindahan, bukankah segala kebaikan, kesempurnaan sudah termasuk didalamnya. Apakah saya telah sampai disana? Sehingga bisa menggambarkan semuanya? Belum..saya belum sampai disana, tapi saya sedang berjalan menuju kesana dan arah jalannya sudah terlihat, dan aromanya juga sudah tercium seperti aroma tanah kering yang baru saja terbasahi oleh air hujan, terasa menyegarkan. Bukankah ini juga sebuah bentuk keindahan?
0 0 0 0 0 0 0 0 0Malang,180109
“I will come there”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar