Jumat, 02 Desember 2011

Energy of money


Atas nama apakah saat kita hampir sepanjang waktu yang telah diberikan oleh Tuhan mengejar parameter bernama kesuksesan. Kesuksesan yang umum dipahami berarti adalah sejumlah kepemilikan benda bernama uang yang saat ini tidak saja memegang peran teramat penting dalam sebuah kehidupan, namun telah mempengaruhi mental, cara berfikir, bertindak bahkan mimpi-mimpi setiap manusia. Begitu besar peran yang dimainkan oleh sebuah benda bernama uang dalam cakupan luas seperti negara ia perlu dibentuk dalam sebuah organisasi/departemen yang khusus yang bernama Bank Sentral dan Departemen Keuangan. Dalam cakupan lebih kecil dan teramat pribadi ia menjadi ajang tawar menawar doa kita dengan Tuhan. Tidak percaya? Cobalah kita teliti setiap doa yang kita panjatkan padaNya, pasti akan selalu berhubungan dengan pinta mengenai uang apapun bentuk dan alasan yang kita pakai. Yang lebih celaka lagi, uang lah yang sering kita jadikan alasan untuk sekedar enggan bertamu ke rumahNya. Saat kita berkelimpahan dengan benda ini ia dijadikan alasan untuk tidak bertemu denganNya, karena sibuk dengan benda ini. Anehnya, saat kita tak punya benda ini pun kita sibuk bertamu ke rumahNya dengan doa dan pinta tentang uang, bukan untuk sekedar menyambangiNya(walaupun ia tidak ditemui, tidak akan menurunkan sifat kuasaNya) untuk meminta ampunan.

Begitu hebat pengaruhnya dalam mental dan fikiran manusia, ia seolah menjadi nyawa dalam setiap gerak-gerik kita, seolah tanpanya kita hanya menjadi mainan tak bernyawa. Terlepas bahwa kita memerlukannya untuk aktifitas kita, bukan berarti ia menjadi tujuan sebuah kehidupan yang bahagia. Ia sebenarnya adalah parameter kesungguhan kerja/ibadah yang kita lakukan sehari-hari. Agak aneh mungkin kalau uang jadi parameter kesungguhan ibadah kita, karena pemahaman ibadah berarti adalah sebuah ritual tertentu saat “menghadap”Nya. Yang aneh malah pemahaman ibadah selalu berhubungan dengan gerak ritual tertentu, sebab setiap upaya kita, gerak kita, kerja kita atau apapun aktifitas yang dilakukan sehari-hari, selama diniatkan hanya untuk kita persembahkan padaNya, menurut saya masih dalam cakupan ibadah. Saya tidak ingin berpolemik antara kaya-miskin yang dihubungkan dengan ketaatan dalam menjalankan ritual kita kepadaNya. Sebab selain memancing sebuah debat yang tak berkesudahan, saya hanya ingin menjelaskan kalau secara logika, ketika ibadahnya sukses, secara otomatis parameter kesuksesan dunianya mengikuti. Andai menurut kaca mata kita, ternyata ada orang dengan uang melimpah, tapi ia dapatkan bukan dengan cara-cara yang tidak benar, apakah ini bentuk sebuah ketidak adilan? Saat kita berbicara dengan hal diatas, maka kita berbicara tentang waktu. Waktu yang kita punyai amatlah terbatas, sehingga kita hanya mampu meneropong seseorang hanya dengan waktu yang teramat pendek (short time). Sedangkan dalam jangka panjang, waktulah yang akan memberitahu, apa makna keadilan itu. Demikian juga sebaliknya dengan orang yang ritualnya tekun namun agak susah untuk kita kategorikan sukses secara keuangan. Kembali, waktu yang akan memberi tahu kita kenapa dan dimana letak kesalahannya.

Bukankah banyak orang yang ibadahnya sukses, diikuti dengan kelimpahan uang, dan dengan kelimpahan itu dia berhasil membuat perubahan untuk kebaikan agar dunia ini bisa dijadikan tempat kehidupan yang indah dan nyaman tidak saja untuk kita, namun untuk anak-cucu kita di masa depan. Tidak percaya? Kalau anda tahu riwayat Rasul Muhamad SAW dalam sejarah, beliau pernah melakukan aktifitas perdagangan, untuk ukuran sekarang mungkin adalah seorang CEO sebuah perusahaan transnasional. Jadi jangan tanya berapa kelimpahan yang beliau punya saat itu, apalagi setelah beliau menikah dengan Khadijah, pemilik perusahaan itu. Artinya, beliau ternyata juga manusia yang dalam episode kehidupannya melakukan sebuah aktifitas yang sekarang ini juga masih kita lakukan. Namun dengan kejujuran, kesungguhan, beliau mencapai puncak dalam karir yang sekarang ini jadi idaman setiap orang. Saat di puncak karir itulah menurut saya bersamaan dengan puncak spiritual beliau sehingga yang kita ketahui kemudian, beliau mengubah dunia untuk menjadi tempat tinggal yang baik, tidak saja untuk anak cucu, bahkan melampaui waktu hingga akhir jaman.

Moral yang dapat kita petik dari sejarah kehidupan beliau adalah aktifitas yang dilakukan tidak saja berorientasi jangka pendek seperti mendapat keuntungan semata, namun juga aktifitas kerja kita menjadi ruh dalam pemahaman spiritual kita. Bukan hal yang ringan saat kita berikrar demikian karena godaan yang ada justru begitu besar. Perlu suatu tekad yang besar untuk membiasakan habitat berfikir kita kalau setiap aktifitas yang berhubungan dengan pengumpulan keuntungan yang berujung pada uang, selalu dikaitkan sebagai bagian ibadah kita kepada Tuhan. Bukan berarti kita tidak boleh mencari keuntungan dan kekayaan sebanyak-banyaknya, karena semakin banyak, otomatis ia jadi parameter seberapa tinggi intensitas ibadah kita. Sebab, setiap keping uang yang kita dapat alam punya mekanisme sendiri untuk mengaturnya. Artinya, ketika kita mendapat lebih, berarti ada yang mendapat kurang, ketika kita mendapat banyak, berarti ada orang lain yang mendapat sedikit. Mekanisme alam akan mengatur distribusi ini agar terjadi sebuah keseimbangan sehingga terjadi sebuah harmoni dalam kehidupan. Kalau anda berlebih berarti anda wajib keluarkan sekian persen dalam mekanisme tertentu. Kalau anda kurang, anda berhak mendapatkan dari yang berlebih. Jika tidak, ketika yang berlebih mengingkarinya dengan atas nama keserakahan, kekacauanlah yang terjadi, yang tidak saja menghancurkan yang kurang, tapi juga yang lebih, dan mekanisme alam akan berjalan demikian untuk mencapai keseimbangan. Hancur adalah mekanisme alam untuk mencapi keseimbangan baru. Kenapa? Sebab kalau kita percaya dengan hukum energi, ia tidak dapat dimusnahkan, juga tidak dapat diciptakan, ia hanya berubah bentuk, maka ketika disatu kutub, berusaha untuk lebih dominan, alam mengatur mekanisme untuk mencapai keseimbangan, dengan mengubah bentuk lain, yang kita pahami sebagai proses kehancuran, energi ini tidak hilang saat hancur, tapi berubah wujud.

Kalau uang adalah sebentuk energi, maka dalam diri manusia berlaku hukum yang sama, yaitu manusia juga sebentuk energi namun dengan frekwensi yang lebih tinggi. Artinya, saat manusia energinya lebih tinggi, maka ia akan menarik energi sekitarnya, ini seperti sebuah magnet, makin besar energinya, makin besar pula kekuatan magnetnya. Ketika itulah manusia akan makin mudah menarik energi bernama uang ini. Masalahnya, bagaimana kita memiliki energi yang bisa menarik uang, sebab energi manusia cenderung tidak stabil. Bagaimana caranya agar kita selalu berfrekwensi tinggi sehingga mudah menenarik uang. Sampai saat ini mungkin penelitian secara detail belum ada, tapi merujuk apa yamg dilakukan Rasul, ada 2 hal yang bisa kita teladani, yaitu “kejujuran dan kesungguhan”. Hal ini juga berlaku dalam segala aspek kehidupan kita sehingga ia menjadi semacam etos kita dalam kehidupan sehari-hari. Bukankah diri kita sebenarnya adalah pemimpin, dengan segala kelebihan yang telah disandang termasuk jujur, cerdas, sukses dll semua telah ada dalam satu paket. Manusia yang stabil energinya cenderung ia lebih stabil secara spiritualnya, karena kestabilan energi ini tidak terlepas dari koneksitasnya dengan sumber Maha Energi. Saat ia berada pada kondisi demikian, uang adalah sebuah efek samping atas sebuah aktifitas yang dilakukan dan bukan tujuan itu sendiri. Saat ia berada di puncak kestabilan energinya, sukses apapun ada dalam dirinya. Sering kita jumpai orang yang semacam ini, apapun yang ia sentuh berubah jadi emas demikian peribahasanya. Sering kita jumpai orang semacam ini kala berada di puncak cenderung makin bersahaja. Sehingga kadang luput kalau hanya melihat orang demikian dengan parameter dan kacamata kita yang dangkal.

Kembali pada parameter kesuksesan, tujuan kehidupan kemarin, sekarang, nanti akan memiliki peran dalam diri, apa yang sebenarnya lebih hakiki untuk kita perbuat. Keseimbangan, demikian alam telah bertutur, keseimbangan antara kahidupan fisik dan ruhani senantiasa harus ada dalam posisi yang sama. Dominan di satu kutub, tidak saja mengganggu harmoni kehidupan itu sendiri, namun sama saja akan membiarkan tugas alam untuk mengatur keseimbangannya tanpa kita berbuat apapun. Telah banyak kita lihat, ketika orang yang hanya mengejar benda semata dan ia memperolehnya, namun malah membawa ketidak bahagiaan dalam kehidupannya. Demikian juga sebaliknya, ketika dari sisi pencapaian dunia, coba untuk dinafikan dengan atas nama apapun, ia seperti mobil kehabisan bensin, ada tapi tidak bergerak dan ujungnya juga tidak ada kebahagiaan.

Jadi, apapun kondisi kita hari ini, entah sudah berada di puncak kehidupan, sedang kesana, atau mulai turun, yang perlu kita sadari adalah, Tuhan terlalu cinta kepada mahluk kesayanganNya, sehingga tidak akan dibiarkan kita dalam kegundahan, ketidak bahagiaan, kepedihan, kekurangan atau hal yang banyak menguras air mata kita. Sebab dibalik itu semua andai kita mengalaminya hari ini dan kita sabar melewatinya, ia adalah suatu laku sebagai wujud cinta kita padaNya. Dan hari ini, ketika energi kita terkuras seharian untuk mengejar benda yang bernama uang, berikan keyakinan dalam hati kita bahwa uang yang sedang dan akan kita dapat seberapa banyak nantinya, semata-mata adalah wujud kecintaan kita padaNya. Mungkin kita bertanya, apa hubungannya uang yang kita cari dengan Tuhan? Terlalu naïf rasanya sebuah benda kita hubungkan dengan Yang Maha Agung, namun ketika efek energi dari sebentuk uang bisa menjauhkan kita dariNya, kenapa kita tidak meminta pilihan pada Beliau kalau efek energi uang bisa lebih mendekatkan kita padaNya, terutama saat kita panjatkan doa padaNya.

#Tuban,200309#

Energy of money

“That what life a for”


Setiap perjalanan kehidupan yang sedang kita jalani, selalu saja ada moment yang banyak menguras energi kita, sehingga harapan yang selalu jadi tumpuan saat kita mulai melangkah, menjadi sirna dan kabur untuk dipandang. Banyak hal yang mempengaruhi sehingga langkah kita menjadi tertatih hanya untuk mencapai pengertian makna kemana sebenarnya arah kehidupan ini akan dibawa. Kadang faktor ego diri menjadi tirai untuk menghalangi kejernihan makna yang sebenarnya. Kemampuan untuk menangkap makna ini terhalangi hanya karena kita kurang sabar untuk berlatih melihat setiap kondisi dengan apa adanya, netral saja tanpa kita harus selalu menghakimi kondisi yang ada. Sering kita terlampau gegabah untuk menilai sesuatu hanya dengan melihat sisi lain yang mungkin saja ia benar adanya, atau menghakimi sesuatu dengan fakta yang teramat parsial namun kita bisa membuat gambaran utuh dengannya. Dalam kondisi hati yang teramat jernih, gambaran utuh bisa terlihat hanya dengan melihat parameter dan kecenderungan. Dalam kondisi ia membawa tendensi, makna yang ada semakin menjauh dari kebenaran. Tingkat kepantasan kita untuk menilai sesuatu sering selalu dimuati kepentingan .Lantas apa saja yang menghalangi kejernihan kita untuk dapat menangkap kebenaran sejati?

Orientasi yang teramat dalam untuk memperoleh materi hingga melampaui tingkat kemanusiaan kita, sehingga menafikan kaidah nurani , dalam jangka panjang bisa membuat manusia menjadi kehilangan orientasi tentang tujuan dan arah kehidupan ( Life Disorder Oriented). Hal ini ditandai dengan hilangnya ketulusan, kejujuran, kebahagiaan, dalam berhubungan dengan sesama, merasa terasing(teralienasi) dengan lingkungan, dan menilai sesuatu dengan parameter kebendaan bukan dengan rasa, empati. Sehingga tidak heran definisi tentang sukses bergeser menjadi tumpukan kosmetika bersifat outer bukan inner. Ia akan mengejar kemanapun dengan atas nama kebendaan. Makin besar dan banyak materi, sebutan sukses hanya bersifat nisbi sebelum mengejar hal lainnya yang lebih tinggi seperti dosis obat yang makin besar untuk diberikan. Sebutan pertemanan hanyalah sebuah cara untuk memperoleh manfaat atas lainnya, atau dengan sebuah kesepakatan ia menjadi saling menguntungkan dengan sebuah tawar menawar.

Kemana hidup akan dibawa dengan kondisi demikian, karena sudah terlampau banyak contoh sebuah kesia-siaan karena berjalan dengan menggendong beban-beban yang coba menghilangkan sisi humanis kita. Telah banyak contoh sebuah kejatuhan hanya mencoba untuk menafikan sebuah mahluk bernama kejujuran. Dan akan banyak contoh, mungkin teman-teman kita yang sekarang sedang menuju atau sudah berada di puncak kehidupan namun ia kekeringan makna karena merampas kepantasan –kepantasan yang bukan miliknya dengan atas nama keserakahan, dengan cara-cara yang bertolak belakang dengan keindahan. Sehingga kitapun akan tahu bila teman kita melakukan duplikasi strategi yang sama, di depan ia akan berada dimana. Akan berada dimana? Ya ia akan berada di puncak kehampaan meskipun secara materi berkelimpahan bila cara-cara yang digunakan hanya menghilangkan sebagian hak yang lain. Dan ia akan tiba disebuah tempat bernama kecewa dan penyesalan karena apa yang diduga dan kira hanyalah sebuah ilusi belaka.


Hari ini, mungkin kita sebaiknya berjanji untuk diri sendiri, bahwa semua talenta yang kita peroleh, hanya akan digunakan untuk meninggikan teman, kolega, anak buah dan membantu mereka untuk mencapai harapannya. Karena dengan cara inilah sebuah makna kehidupan menjadi lebih indah saat senyum adalah anggukan yang teramat bermakna, senyum yang melampaui kata-kata. Hari ini sebaiknya kita mulai melangkah dengan kejujuran terhadap diri sendiri, melangkah dengan atas nama keyakinan dan keimanan kita dalam arti yang sebenarnya, baik itu di tempat altar peribadatan maupun di meja-meja kerja, bahwa semua aktifitas kita, sebenarnya digunakan untuk kebaikan sesama Sehingga pada saat ini berjalan apa adanya, dengan ketulusan, materi adalah sebuah efek samping dari tenaga yang kita pakai untuk berkarya dan bukan menjadi tujuan itu sendiri Karena saat kita berada di puncak kehidupan, kehidupan akanmemberi pintu terbuka pada kita untuk melampaui dan mengalami kehidupan sejati yang tak bisa dipadankan dengan banyaknya materi. Sehingga saat disana, waktu seolah bisa ditarik ke masa kini untuk merancang kebaikan yang tak ternilai harganya walaupun itu hanya sebuah nasihat belaka.

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

“That what life a for”

271108

Tuban

Selasa, 09 Agustus 2011

hati manusia itu seperti,,,

hati manusia seperti bawang merah, umbi terluar berwarna merah, semakin dikupas kedalam akan semakin memudar warnanya, di umbi yang terdalam hanya menyisakan warna putih dan,,,air mata (Gede Prama)

Saya suka sekali dengan cuplikan diatas, menggambarkan betapa hati manusia sebenarnya putih, suci, betapa terasa kesucian itu hingga mampu melelehkan air mata kita. Apapun orangnya, siapapun ia, hati manusia sekali lagi suci.
Dalam perjalanan hidup saya, terlalu sering menemui manusia penuh luka dengan menggendong banyak penyesalan , saya pernah alami hal ini. Tak bisa dipercaya memang, betapa menggendong sesal tidak saja melelahkan fisik, batin terlebih lagi. Beruntung saya menemukan jalan sunyi dimana perlahan penyesalan masa lalu lepas satu demi satu. Tak mudah memang.
Namun terlampau banyak orang yang saya temui terjebak dengan situasi ini, hanya kesakitan yang dibawa dari waktu ke waktu.

Apa yang ingin saya katakan adalah ketika harapan, asa, sirna, tidak saja mencabik-cabik hati putih kita, tidak saja menguras tabungan air mata, terlebih ia menjadi luka yang susah sekali untuk menutup saat memori berisi hanya pedih belaka. Entah kenapa saya merasa dengan menepi menemui sunyi adalah jalan untuk memaafkan diri apa adanya. Sialnya,,,kebanyakan orang menganggap sunyi adalah mahluk menakutkan, menepi berarti keluar dari gegap gempita dan itu berarti mati.
Saya mengibaratkan manusia yang luka ini hanya perlu menata semua file, memori untuk ditempatkan pada asalnya. File masa lalu ada tempatnya, begitu juga masa kini dan esok. Caranya mungkin dengan menghilangkannya atau menatanya, istilah bahasa komputer dengan disk cleanup dan men-defrag semua file yang tersimpan dalam hati dan batin, baik yang terluka, amarah yang hitam, kehilangan kesetiaan, kepercayaan,,,semuanya. Caranya...? menepi ke bilik sunyi dengan membawa doa,,,detailnya,,,? dengan PUASA

Inilah kehebatan Tuhan,,otak, hati, jiwa, roh yang dicipta akan memiliki kepenatan tersendiri, dengan puasa sebenarnya kita sedang menata semuanya sehingga menjadi lebih men-cahaya, men-jernih, mata kembali melihat yang sebenarnya, telinga mendengar yang seutuhnya, hati kembali menerima cahaya yang sejati, ruh menerima kemuliaannya kembali. Entahlah ini seperti jalan yang saya alami meskipun masih tertatih.
Ketika hati dan batin kita terluka begitu lama oleh sesal, terkotori dengan debu masa lalu, terobsesi dengan buramnya masa depan, saya berusaha untuk melepas semuanya, kembali ke jalan sunyi jalan menuju telaga bening tempat dimana semua menjadi fitri kembali. Telaga bening tempat hati menjadi memutih lagi, dan telaga bening itu bernama PUASA

Senin, 11 April 2011

saya (bolehkah) menangis,,,:-)

Saya tidak mengerti, kalau lelaki suka menangis karena hal tertentu apa boleh disebut dengan cengeng, sebab definisi cengeng selalu merujuk pada hal yang bersifat manja, kolokan dan ketidak mampuandiri menghadapi problem.
Entah kenapa itu malah kebalikan dengan yang saya alami, saya malah sering menangis karen hal sepele seperti lihat daun jatuh di musim gugur, lihat sunset dengan ufuk berwarna jingga. Bagi saya itu justru terasa eksotika dan begitu cantik. Saya juga menangis saat menghadapi perpisahan dengan orang-orang terdekat, seperti saat Adinda, putri saya berpamitan untuk bepergian untuk di asuh olehNya. Bukan kehilangan yang saya tangisi, tapi momen perpisahan yang begitu dramatis gampang membuat kelopak mata basah.

Namun anehnya saya tidak bisa menangis saat melihat kematian,terlalu sering melihat badan meregang nyawa di jalan raya, di rumah sakit, di tempat lain saat tubuh memisahkan diri dengan ruh. Saya juga tidak menangis saat batin tercabik oleh luka hati, goresan hidup yang membuat limbung. Ketidak adilan yang saya lihat di jalanan, di kehidupan sehingga banyak orang mati secara artifisial, tidak membuat saya menangis.

Jadi,,,dalam hal tertentu memang saya cengeng, gampang sekali terluka oleh hal yang eksotika, kalau hal itu memang memalukan buat lelaki seperti saya,,,apa boleh buat, mungkin tabung air mata saya ditakdirkan berlebih oleh Tuhan sehingga saya agak boros untuk mengeluarkan air mata.
Saya jadi teringat dengan budaya orang Amerika latin, mereka menangis saat melihat kelahiran, namun saat mengiringi kematian, justru mereka memainkan musik dengan gempita (yang saya tahu seperti musik RNB), seperti ingin berkata, kematian yang mengantar kita menghadap Tuhan layak kita rayakan dengan gembira, kelahiran adalah awal derita di dunia, kita harus menangisinya.

Jadi kalau dalam budaya kita lelaki tidak boleh menangis saya jadi masygul,,,karena saya sering menangis perlu dipertanyakan level ke-lelakian saya,,,hmmm,,,

Jumat, 08 April 2011

real home

Kemanakah kita saat kelelahan yang diterima badan setelah seharian beraktifitas dengan segala uapaya potensi di kerahkan kalau bukan kembali ke rumah. Sejauh-jauh burung terbang di pagi hari, ia akan kembali pada sore hari ke sarangnya. Kehidupan saat ini yang menuntut upaya lebih keras telah menghasilkan sebuah perilaku yang terkadang kita sendiri tergagap untuk mengakuinya. Peradaban yang tengah kita jalani sekarang seperti menuntut kita untuk berjalan, berlari lebih cepat tanpa mengijinkan kita berfikir kemana arah kita.Kadang kita terengah-engah menjalaninya karena energi yang kita keluarkan tak mampu untuk mengimbangi sang waktu yang menjadi penentu kehidupan. Sering kita melihat sahabat-sahabat kita terseok-seok ketika pulang ke rumah setelah seharian melewati pertarungan dengan orang lain dan diri sendiri. Bahkan di rumah pun masih melakukan pertarungan dengan suami, istri, anak-anak sehingga rumah bukanlah tempat yang nyaman. Kita pun tahu orang semacam ini akhirnya mencari “rumah” lain entah berupa obat penenang, kesenangan yang berlebihan, benda-benda yang dikira bisa memuaskan dahaga .

Yang menjadi pertanyaan, dimanakah rumah sejati kita seiring dengan kekeringan hidup yang kita bawa, dan kita gendong kemana-mana. Dimanakah ia tempatnya? Karena banyak sahabat yang mempertanyakan hal ini entah dengan pencarian diri sendiri atau lewat orang yang kita anggap ‘pintar’. Hasilnya pasti bisa ditebak, banyak yang terjebak dengan sangka dan kira. Dikira kesejatian, ternyata kesemuan, dikira dengan punya rumah besar bisa menemukan diri dalam ketentraman, ternyata ia menjadi sumber kepedihan yang tidak kalah besarnya dengan rumah itu sendiri, dikira dengan sejumlah materi yang tak dapat habis dalam kurun masa yang panjang seolah menggenggam masa depan yang aman, nyatanya malah menimbulkan ketakutan. Banyak sahabat mencari kesejatian namun mendapat kekecewaan. Jadi, dimanakah rumah sejati yang kerap kita pertanyakan? rumah sejati kita ternyata ada di dalam diri namun entah kenapa justru kita mencarinya keluar. Kalau kita mengalami kegalauan hidup saat ini karena mencari rumah sejati namun kesasar ke “rumah-rumah” lainnya entah semisal berupa nafsu kaya namun diperoleh dengan cara yang tidak sepantasnya. Atau kita mengalami bimbang dan ketakutan namun tidak tahu apa penyebabnya. Dipastikan kita telah kesasar dengan memasuki rumah yang salah.

Rumah, apapun bentuknya adalah perwujudan sebuah tempat dan situasi dimana kita merasakan kedamaian, ketentraman, penuh kasih sayang, cinta yang tulus dimana kita bisa terbuka didalamnya tanpa takut akan apapun. Kita bisa ‘telanjang’ membuka borok kepedihan tanpa merasa malu. Namun banyak sahabat yang sampai akhir masa tugas kehidupannya di dunia belum menemukan apa yang didambakannya. Hampir seluruh hidupnya hanya menemukan kesenangan semu yang disusul kepedihan, begitu terus silih berganti tanpa diri sempat bertanya kenapa harus menerima pola kehidupan ini?

Rumah sejati sesungguhnya ada di dalam diri kita dan menanti kita memasukinya karena pintunya selalu terbuka sepanjang waktu. Ia hanya bisa ditemukan dengan ketulusan, kesabaran dan rendah hati, ia hanya bisa dimasuki dengan kasih sayang, penuh cinta.Ia hanya bisa dimasuki dengan kunci syukur dan ikhlas. Kalau saat ini kita sedang mengalami kepedihan yang telah berlangsung lama dan menjadi sebuah keyakinan kalau ini sebuah takdir, dan setelah berusaha sekuat mungkin untuk merubah jalan kita ,namun hanya menambah kepedihan yang telah ada. Satu-satunya jalan adalah berhenti. Berhenti untuk memikirkan jalan kemana yang akan dilewati, berhenti memikirkan kecemasan apa yang akan dialami, berhenti memikirkan ketakutan apa yang akan menunggu. Biarkan tubuh beristirahat sejenak untuk merelaksasi dirinya sendiri, biarkan pikiran merehat untuk menghilangkan trauma, kecemasan dan ketakutan yang tak berdasar. Masuk ke alam keheningan, gerbang rumah sejati kita. Disana kita akan diterima apa adanya, penuh syukur, penuh ke ikhlasan, penuh dengan ke cintaan. Semakin sering kita diam di dalam nya, ia akan memancar pada batin, nurani dengan energi kebaikan. Fikiran dan tubuh yang terlingkupi energi tersebut akan menjadi penuh optimisme, bahagia, damai dan hidup pun berubah menjadi lebih indah. Bukankah hal ini teramat menentramkan.

Tuban,060609
Real Home

Rabu, 09 Maret 2011

Life with heart


Ketika hari yang sedang kita jalani memberikan warna teramat buram dan mungkin malah menjadikan tetesan air mata kembali bergulir diantara wajah kesedihan, kemana kita akan mengadu kalau bukan kepada sang empunya waktu. Kehidupan yang telah, sedang dan yang akan kita lewati ternyata telah banyak menguras energi kita. Saat kita sedang gembira, energi kita terkuras habis untuk merayakannya, ketika sedih datang, kembali ia terkuras untuk meratapinya. Fluktuasi naik turun yang dialami terkadang membuat badan menjadi limbung seperti kehilangan pegangan. Yang jelas tanda-tanda limbung pun membenarkan kalau kita telah kehilangan pegangan. Pegangan yang menjadi landasan hidup pada tiap orang tidaklah sama, namun punya ciri sama yaitu ia haruslah kuat pada guncangan sebesar apapun. Sehingga kita yang berada di dekat dan saat tangan kita memegangnya, ia menjadi pelindung yang terbaik. Ada yang berpegang pada kekuatan harta, keturunan, kekuasaan atau berpegang pada kekuatan lain yang secara kasat mata cukup tangguh. Namun seperti cerita yang selalu terulang, pegangan yang disangka kuat, ia menjadi kalah dan rapuh oleh kekuatan waktu. Waktu yang akan meluruhkannya

Kalau memang semuanya dikalahkan oleh waktu, siapakah yang mengalahkannya?ternyata waktu hanya bisa dikalahkan oleh kebijakan dan kebijakan hanya ada pada sang empunya waktu yaitu Tuhan. Jadi kekuatan paling sejati yang bisa kita jadikan sandaran adalah Beliau, selain itu bersifat relatif dan nisbi yang akan luruh dengan berjalannya waktu. Jadi apabila hari ini kita merasa disalah pahami oleh keadaan yang membuat hati kita limbung karena tidak sanggup untuk sementara menghadapi kenyataan, kemana kita akan berpegangan kalau bukan padaNya yang Maha Mengerti. Kehidupan, apapun adanya di depan kita, adalah sebuah proyek besar antara kita dengan Tuhan untuk memakmurkan dunia ini bagi kehidupan yang lebih baik. Jadi mestinya tidak ada kekuatiran dengan masa depan karena Beliau akan selalu mendampingi kita untuk bersama menjalaninya.

Setiap episode perjalanan manusia, orang per orang, memiliki jalan yang khas untuk bertemu denganNya kelak. Kehidupan yang dijalani terkadang memberi penawaran yang bagi kita teramat menggiurkan. Godaan-godaan untuk menjauhkan dariNya terkadang terasa keras seperti hempasan ombak. Sadar atau tidak, kita selalu mencari kekuatan untuk berlindung dari hempasan itu, tujuannya hanya satu, karena kita menginginkan sebuah perjalanan yang penuh damai, tentram. Kekuatan berlindung, apapun namanya, hal yang selalu kita pegang erat, kalau tidak , kehidupan yang berwarna akan membiaskan kita. Pegangan hidup, apapun bentuknya, hampir pasti akan selalu dicari manusia, karena sebuah fitrah, manusia yang lemah selalu mencari perlindungan yang kuat dari ancaman ketakutan yang berbentuk atau tidak.

Kita selalu percaya akan kekuatan Tuhan, sehingga menjadi terlupakan karena seringnya hal itu kita dengarkan. Dan jarang pernah mengetahui, dengan cara apa kekuatan Beliau hadir dalam keseharian kita. Saat di rumah ibadah, dengan takzim kita merendahkan diri dihadapanNya, begitu memasuki keseharian kita, ketakziman itu hilang tak berbekas dan kembali melakukan pertarungan untuk mengalahkan teman, sahabat dengan cara-cara yang tidak indah. Dan ketika malam datang, menyesal kita seolah itu diluar kehendak dan rencana, dan kita cemas karena telah melukai nurani diri sendiri. Kekuatan Beliau hanya bisa kita sadari saat seluruh aktifitas keseharian kita, selalu kita upayakan dalam upaya wujud pengabdian padaNya. Wujud pengabdian inipun bermacam-macam, seperti memuliakan keluarga dengan bekerja, memuliakan teman dalam pergaulan dan segala aktifitas yang kita lakukan untuk kebaikan, bukan saja ini dilakukan di tempat ibadah, namun di tempat dimanapun kita ada.

Ketika ini menjadi kebiasaan dalam ritme keseharian kita saat itulah kita memasuki cahayaNya, masuk dengan perasaan tenteram, damai, tidak ada kecemasan karena kita tahu Beliau akan selalu hadir di dekat kita. Beliau akan menuntaskan kesulitan kita saat kesulitan itu mencapai titik kulminasi usaha kita. Dalam upaya memasrahkan diri padaNya Beliau bekerja menghilangkan kesulitan, ketakutan itu dengan cara yang terkadang kita tidak sangka. Ketika ini menjadi bagian hidup keseharian kita, kehidupan seperti berubah wajah menjadi sebuah senyum yang teramat menawan. Ketika cahayaNya telah masuk dalam semua aktifitas dimanapun kita berada, sang waktu justru akan mendorong kita menuju puncak-puncak keindahan dalam kehidupan, seraya menunjukkan tentang makna sebuah kehidupan yang penuh dengan cinta. Ketika sampai disana, sebuah senyumpun sudah cukup sempurna bagi kita. Apalagi yang akan kita minta pada kalau semuanya telah menjadi sempurna, kecuali anggukan syukur yang diikutiderai air mata bahagia.

0 0 0 0 0 0 0
Tuban,1300609
Life with heart

Kamis, 13 Januari 2011

spiritual journey


Pernahkah kita dalam suatu waktu seperti menemukan jalan kehidupan yang penuh kedamaian dan hati merasa penuh dengan ketentraman. Atau di lain waktu merasa hari-hari penuh dengan kepedihan seolah ini akan berjalan selama mungkin. Kita pernah tersentuh dengan hal yang sepele sekalipun, seperti trenyuh ketika melihat kekuranagn pada orang lain sehingga untuk mencari sesuap nasi untuk hari ini harus berjuang sedemikian kerasnya. Atau lain kali kita merasa jengkel dengan keterlambatan kita dalam mencapai sesuatu sehingga orang lainlah yang memperolehnya. Pernahkah coba direnungkan, apa makna dibalik semua kejadian itu. Sebuah kebetulan, atau ada skenario yang telah dirancang sedemikian rupa sehingga kita harus melaluinya dengan tawa dan air mata. Dimanakah Tuhan yang kita harapkan dalam setiap doa untuk meringankan beban kita ?

Pernahkah kita merenungi akan kemana kehidupan dibawa ketika melihat “ketidak adilan” pada diri kita? Apakah keburukan yang ditimpakan pada kita oleh orang lain, oleh system yang tidak kita mengerti atau ketidak pantasan yang diberlakukan pada kita akan mendapat balasannya. Pernahkah setidaknya kita kehabisan energi berlomba dengan yang lain saat mencari nafkah sehingga mencoba mencari jalan pintas, hal yang tidak pantas dilakukan dan ketika malam tiba kita mencoba menghibur diri kalau ketidak pantasan ini toh dilakukan juga oleh orang lain, jadi kenapa kita merasa harus menyalahkan diri. Bertubi-tubi nurani menanyakan hal ini dan sekuat mungkin kita coba menemukan alasannya. Kita bertarung dengan diri sendiri untuk suatu hal yang tidak bisa kita penuhi secara utuh. Kita sering menghakimi diri sendiri atas ketidak mampuan untuk bersaing dengan orang lain saat mengejar materi, namun tidak pernah mensyukuri atas kesehatan dan tawa, senyum anak dan istri yang menyambut saat kita pulang.

Laku apakah yang sedang kita jalani ketika melihat kegembiraan dan kepedihan datang silih berganti seperti siklus siang malam? Pernahkah kita merenunginya untuk membasuh batin, hati dan nurani kita seraya bertanya inti dari kehidupan apa yang sedang ditunjukkan pada kita. Perjalanan kehidupan yang manakah yang sedang ditunjukkan Tuhan pada kita? Mengapa kita harus melalui berbagai macam tawa dan kepedihan melewati liku hidup, kalau akhirnya hendak bertemu Beliau. Skenario apa yang hendak dititahkan Beliau pada kita untuk menjalaninya? Bertubi-tubi pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran akan membuka pada sebuah alternatif jawaban. Tempaan musibah telah membukakan mata hati kita kalau apa yang kita lakukan di dunia ini adalah perjalanan menuju padaNya. Perjalanan spiritual yang entah kita tahu atau tidak, terpaksa atau tidak, pasti akan menuju padaNya.

Jadi, apapun yang akan dilakukan esok, yang telah dilakukan tadi, entah itu membawa kebaikan bagi diri dan orang lain, atau membawa kerugian semuanya akan memberi sebuah sebab akibat yang anehnya selalu dibawa pada pemahaman kalau semua itu mengarah padaNya. Hari ini mungkin kita belum bisa melakukan apa yang telah dititahkanNya dalam hal sekecil yng terkadang sepele seperti memelihara kebersihan diri, memelihara tubuh, panca indera untuk dipakai sesuai fungsinya, namun karena godaan kita pakai untuk hal lain, cepat atau lambat Beliau akan mengembalikan pada track yang benar. Hari ini, mungkin kita agak menyimpang saat mencari nafkah dengan menafikan teman, sahabat kita, dan kita seolah jadi pemenangnya, cepat atau lambat Tuhan kan memberi petunjuk pada kita untuk kembali pada track yang benar. Kalau kembali dengn penuh kesadaran, maka ini sebuah jalan mudah, kalau kita dipaksa untuk kembali karena ego kita menolaknya, maka kita kembali penuh dengan rasa sakit luar biasa. Pernah mengalami musibah beruntun? Apakah pernah introspeksi kalau ini cara alam untuk mengembalikan kita, melembutkan hati kita supaya kembali mengingatNya, kembali pada kesadaran kalau apapun yang ada di dunia ini adalah milikNya, kita hanya punya hak pakai saja. Jadi, lantas apa dengan bertumpuknya harta, materi yang kita peroleh dengan kerja keras diklai sebagai milik kita. Semuanya adalah hak yang Beliau berikan untuk kita dan dipilihNya kita untuk mengelola, mendistribusikan pada sesame dengan harapan ini akan memberikan kebaikan dan memberikan pemahaman kalau ini semua dilakukan dalamkerangka mengerti akan KuasaNya. Kalau tidak, Beliau akan mencabut hak ini dan akan diberikan pada yang lainnya.

Bukankah harta kita cuma ada 3 hal, 1. Apa yang kita makan sampai jadi ampas(makanan,minuman), 2.Apa yang kita pakai sampai lapuk(baju, rumah, mobil) 3. Apa yang kita sedekahkan dan kita amalkan (ilmu, zakat, infaq, sodaqoh). Lantas apa hubungannya dengan perjalanan spiritual kita di dunia ini? Kembali pada visi dan misi manusia di dunia ini adalah membuat dunia dan seisinya tempat yang aman dan tenteram penuh cinta baik sesama insan, alam, hewan dsb. Dan tugas kita adalah mengatur semuanya agar terjadi harmoni. Tugas kita sebagai manusia agar apa yang ada di dunia ini berjalan sesuai tuntunanNya sehingga menjadikan dunia adalah tempat berkarya, pengabdian yang penuh ketulusan sebelum dipanggil menghadap olehNya.

Perjalanan menuju sebuah kehidupan kekal adalah perjalanan yang teramat indah untuk tidak dilewatkan. Jadi andai kita hari ini bersusah payah karena kehidupan seperti berpaling. Hal yang terbaik adalah mengadu padaNya. Karena pada batas tertentu perjalanan kita, ada kuasa Beliau untuk segera menuntaskanNya Perjalanan spiritual tidak saja semata-mata selalu terkoneksi denganNya, namun juga selalu menjadikan hubungan kita di dunia adalah wujud pengabdian padaNya. Ketika hal ini menjadi tolok ukur langkah kita, apapun yang dilakukan ada jejak kuasa Beliau disana. Inilah makna perjalanan itu, jadi apapun kegelisahan kita hari ini karena mungkin energi kita habis mengejar harta, ketakutan kita untuk tidak bisa hidup selayaknya, atau kecemasan kita menatap masa depan yang masih kabur adanya. Biarkan kegelisahan, ketakutan, kecemasan itu lenyap dalam genggamanNya. Biarkan semua mengalir dan cahayaNya kasih sayangNya ada menghangatkan kita. Bukankah hal yang demikian lebih menentramkan.

0 0 0 0 -Spiritual Journey

Malang,080609

Jumat, 07 Januari 2011

Kesunyian,,,

Ah..kesunyian tak harus bermakna kesepian

bukankah ia teman dari keheningan

bukankah ia ibu dari segala sunyi

kelak, kemana suara-suara itu kembali

kalau bukan menuju keheningan

karena disana ia rehat sejenak

setelah menempuh gegap gempita

riuh rendah kesibukan manusia

karena disana ia introspeksi

merunut lagi jalan yang sejati

Ah..kesunyian tak harus bermakna kesepian

bukankah disana bersemayam kedamaian

yang selama ini setengah mati dicari-cari

namun salah tempat kalau dicari disana-sini

di tempat riuh-rendah kesibukan mencari duniawi

karena ia hadir saat kesunyian menjelang

terbuka di pintu bernama kepekaan

karena ia hadir justru saat kepedihan datang

saat hati melunak karena ditempa kesedihan

saat sepi dan kehadiranNya terasa menyejukkan

Ah..kesunyian tak harus bermakna kesepian

bukankah disana terbuka pintu-pintu kesejatian

untuk merunut arah hidup ini kembali

menjadi sebuah jalan bernama keikhlasan

menempuh tempat-tempat tertinggi

untuk menebar benih-benih kemuliaan

untuk berjalan demi kebaikan

fitrah yang tergaris dalam suratan

sehingga sebelum kita kembali ke haribaan-Nya

memahami makna hidup sebenarnya apa

Ah kesunyian tak harus bermakna kesepian

bukankah ia teman perjalanan yang sebenarnya

menemanimu disetiap kelokan masa

ia setia hadir ketika sedih-gembira berganti

ketika bulir air mata kecewa menetes

ia disana tanpa tendensi apa-apa

hanya hati yang lembut bisa menerimanya

menjadikan ketulusan

bermakna diam tanpa kecenderungan

000000

131208

Adinda,,,

Adinda, apa yang kau cari?

Saat matamu sembab menangisi yang hilang

Bukan kepekaan hati, tapi benda-benda duniawi

Seolah ia nyawa yang harus dilindungi setengah mati

Seolah tanpanya engkau hanya sebuah benda mati

Meletakkan kebahagiaan pada hal-hal nisbi

Sama saja menggantungkan hidup pada kesemuan

Ujung ceritanya engkau pasti mendapati kesia-siaan

Adinda, apa yang kau cari?

Mengejar dari pagi hingga malam hari

Untuk menggapai kesempurnaan sejati

Untuk mencapai kebebasan diri

Tapi engkau hanya dapati kecewa disudut sepi

Seraya bertanya apa yang salah padaku ini

Seolah hidup menghimpit hari demi hari

Adinda apa yang kau cari?

Saat dunia tersenyum menyambut pagi

Dengan kehangatan dan kebahagiaan

Engkau malah menangisi kehidupan

Seolah dunia enggan dan tak berkenan

Menyambutmu dengan ketulusan

Atau sebnarnya ini cermin kehidupan

Refleksi dari sikapmu yang tak pernah jua kembali

Untuk melihat nurani degan kejernihan

Agar kelak penyesalan tak berubah jadi kesia-siaan

Rabu, 05 Januari 2011

Gusti Allah ora sare

Setiap perjalanan hidup kemanusiaan kita, sering dalam berbagai moment seperti kehilangan energinya. Entah karena alpa sesaat kalau kita adalah mahluk kesayanganNya. Kita sering meng-klaim padaNya kalau kita sering memperhatikanNya terutama lewat doa-doa, seolah ada sebuah dialog denganNya. Setelah itu ketika memasuki riuh rendah pergaulan sesama, doa itu seperti menjadi raib seolah ia tak pernah terucapkan oleh manusia yamg teramat khusuk ketika menghadapNya. Kita berdoa dengan sebuah harapan dan mimik yang diatur sedemikian rupa sehingga tampak kadang terlihat seperti memelas seolah Tuhan adalah atasaan yang akan menjadi trenyuh dan segera mengabulkan setiap pinta . Makin memelas doa kita dan kata-kata yang diatur sedemikian teatrikalnya seperti menjadi jaminan kalau ia akan terkabulkan. Kita sedemikian santun dan lembut dihadapanNya seolah ada ketakutan Beliau akan berpaling karenanya kalau kita bersikap kurang ajar.

Dan ketika kembali ke dunia nyata dengan segenap gegap gempita kehidupan, kita alpa kembali ke habitat lama dengan segala cara untuk menafikan saudaranya sendiri dengan terang-terangan, dengan cara halus dengan atas nama kompetisi, persaingan atau apapun namanya namun dilakukan dengan cara yang menyedihkan secara nurani dan melukai hati, batin. Kalau kita berfikir luka itu hanya disandang oleh yang terluka sesungguhnya ia juga melukai yang melakukannya. Sebab, nurani dan batin secara fitrah tidak rela ketika berbuat buruk, dan ketika itu dilakukan ia memberi sinyal yang membuat diri tidak nyaman akan situasi tersebut.Diri/ego akan membuat sebuah alasan dengan mengatakan kalau tidak dilakukan, kita yang akan menjadi korbannya. Ya, kita melakukan atau dilukai, sama-sama terluka batin dan hati . Secara jangka panjang kalau beban ini terus menumpuk, akan tiba pada suatu kondisi mulai kehilangan makna hidup, mengapa? Karena sinyal-sinyal yang menuntun pada jalan kebaikan makin lemah karenanya. Bagaimana wujud kehilangan makna hidup, walau faktanya dari sisi materi mungkin kita berkecukupan.

Pernahkah anda mengalami ketakutan tanpa tahu sebabnya? Atau mungkin anda merasakan kecemasan yang luar biasa dan hidup seperti hampa. Atau mungkin anda merasa ada gejala tidak beres dengan diri anda seolah ada sesuatu yang kurang dalam kehidupan, (sehingga anda mengira ia bisa di penuhi dari simbol-simbol kebendaan) Kalau anda mengalami hal tersebut diatas, ia adalah gejala awal dari sebuah bencana besar sisi kemanusiaan yaitu sebuah sinyal kalau anda mengalami kehilangan orientasi kehidupan dan tak tahu akan kemana kehidupan akan dibawa. Gejala ini bukan datang dari luar sebagai stimulusnya, ia adalah alarm yang berbunyi dari dalam ketika anda memencet belnya, Makin lama anda tekan belnya, makin menjadi gejala tersebut . Mekanisme ini sudah ada dalam diri sebagai koridor agar segera kembali ke jalur/track yang sebenarnya. Kita mungkin tahu dimana letak alarmnya berada. Namun sering lupa kapan dan dimana meletakkan belnya . Lebih celaka kalau tidak tahu dimana bel dan alarmnya berada..

Dimanakah menekan belnya sehingga butuh waktu lama sampai kita alpa, sehingga ketika alarmnya mulai berbunyi kita kebingungan bagaimana cara menghentikannya. Dimanakah menekan belnya?

Kalau bel biasa ada di depan pintu rumah dan alarmnya ada di dalam, logikanya hampir sama, ia ada di depan pintu hati dan alarmya ada di dalam, di nurani terdalam. Ketika tekan bel ini dengan cara menafikan saudara kita, persaingan dengan rekan dengan cara yang tidak sepantasnya atau hal hal yang membuat hati dan batin menjadi tidak nyaman, disanalah menekan belnya. Makin sering menekannya, makin berulang juga suaranya. Namun tidak seperti bel biasa yang langsung berbunyi, ia akan perlu waktu untuk mencapai kejernihan nurani seiring dengan bertambahnya usia dan kesadaran spiritual. Pada saatnya ia berbunyi kita menjadi tergagap. Tahukah bagaimana bunyinya? Ia tidak seperti bunyi biasa ia hanya mendendangkan kepedihan seperti kehilangan, kesepian, sakit, stress, frustasi atau hal lainnya yang sering kita definisikan sebagai musibah. Dengan cara itulah alam memiliki mekanisme untuk membuat kita kembali menengok kemana jalan yang pernah dilalui. Ada yang bilang ini seperti sebuah karma, atau sebab akibat, kita menanam, kita memanen atau hal lainnya. Namun intinya berpusat pada kita, apakan akan kembali atau tidak. Jika kesadaran batin mengatakan kembali, maka kita akan masuk pada kehidupan yang sama tetapi dengan sudut pandang berbeda. Mungkin bisa dikatakan telah memperolah pencerahan, atau apapun namanya. Hanya, alam memiliki kebijaksanaan, boleh kembali, boleh tidak, Makin menghindari rasa sakit ini, makin berat kelak menanggungnya. Jadi, kalau kita sering melukai, kenalilah gejala ini, kita harus segera menyembuhkannya dengan sebuah pil yang bernama maaf. Dan bagi yang sering dilukai, bisa sembuhkan dengan obat yang bernama ikhlas. Sebab, kalau dilukai dan menyimpan dendam, dan menggendong dendam ini melewati tahun dan masa, ini secara permanent akan menyakiti.

Jadi, apapun yang telah dilalui dalam kehidupan kemarin, entah kita yang jadi korban, ikhlaskanlah, biarlah ini menjadi obat yang menguatkan syaraf kesabaran . Sebab, ketika kita telah menekan belnya, ia tidak bisa dibatalkan dengan atas nama apapun. Kepedihan yang sama saat disakiti orang lain, mudah-mudahan kita akan terima dengan kesadaran bahwa sahabat yang menyakiti telah menekan belnya sendiri, mekanismenya berjalan merambat dan mungkin akan terasa menyakitkan. Dalam tutur orang jawa, Gusti Allah ora sare. Tuhan tidak tidur, Beliau tahu apa yang diperbuat, dan beliau telah menyediakan “hadiah” apa yang akan diterima, tergantung dari bagaimana kita menyikapinya.

0 0 0 0 Tuban,150409

"Gusti Allah Ora sare"

Hope

ini merupakan kumpulan coretan saya beberapa tahun yang lalu,,,saat jiwa saya masih rapuh untuk mencari makna hidup seperti apa :-)

Hari ini ketika perjalanan hidup dimulai, sering datang suatu pertanyaan yang mungkin teramat sederhana namun susah menjawabnya. Akan dibawa kemana aku berjalan hari ini oleh sang empu kehidupan? Ketika pagi menjelang, entah tergantung mood kita atau makanan kita yang kita santap semalam, ada semacam optimisme bahwa kesulitan apapun kemarin, kekuatiran dan ketakutan yang kita alami kemarin, berharap akan sirna hari ini dan menjelma menjadi kekuatan yang menggembirakan. Kekuatan apakah yang dapat merubah hal seperti ini kalau bukan karena hati kita yang diliputi optimisme di hari ini berjalan dengan kepala tegak walau toh pasti kesulitan adalah bagian dari hari ini. Sering kita melihat ada sebagian sahabat kita yang tertunduk lesu ketika kesulitan datang menyapa dan reaksi yang dilakukan sunguh membuat kita terkagum untuk merasa kuatir dan iba. Apa yang dilakukan sahabat kita adalah menyalahkan orang lain dengan mengasihani diri sendiri seolah kehidupan paling berat hanyalah untuk dia sedang yang lain tidak. Reaksi yang semacam begini jika berlebihan kadang membuat kita menjadi takut karena secara tidak sadar sahabat kita ini mengalami semacam limbung kejiwaan. Bukankah kita sering menemui seseorang yang teramat apatis, cuek dengan kondisi sekitar namun menjadi ribut ketika sesuatu yang menguntungkan dia hilang dari genggaman.

Hal semacam ini justru menjadi beban lingkungan karena secara disengaja sahabat kita ini tidak sanggup untuk melakukan tugas yang teramat mudah sekalipun namun kesadarannnya telah menutup diri untuk keberhasilan dengan mengatakan tidak mampu. Beban- beban seperti inilah yang terkadang menghambat kemajuan rekan-reakannya dan anehnya dari sisi kecerdasan mereka justru diatas rata-rata namun kecerdasan mereka justru dipakai untuk menghakimi diri, hal yang mebuat kita miris sekaligus nelangsa karena ke depan secara pasti kita akan tahu tempat mereka. Dimanakah mereka di depan? Yang jelas mereka ada di sisi peradaban yang terpinggirkan oleh jaman seraya mereka mengasihani diri sendiri.

Hari ini ketika kita terbangun dari mimpi indah semalam, sudah selayaknya kita mensyukuri segala hal yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita, karena bukankah itu yang layak kita lakukan. Bukankah anugerah Beliau pada kita sudah sedemikian tak terhitung untuk menjadikan diri kita sebagai mahluk kesayangannya. Lantas apalagi yang harus kita lakukan selain bersyukur padaNya. Karena mensyukuri apapun yang telah dan yang akan hadir akan memberikan kekuatan pada diri untuk selalu menghadapi hidup dengan penuh kesadaran. Artinya ketika hidup mungkin berjalan tidak sesuai dengan yang kita inginkan, dan kita mungkin menjadi lunglai karenanya, kita menjadi tenang, damai karena ada tumpuan untuk mengadu atas segala hal. Kepada Beliaulah kita mengadu dan bersandar atas ketidak pantasan dan ketidak adilan yang pernah kita terima dari sesama manusia. Kepada beliau kita jadikan sandaran atas ketidak mampuan kita saat menghadapi kehidupan yang belum berpihak.

Ditengah derasnya arus kehidupan yang mematok materi sebagai parameter kesuksesan, terkadang kita menjadi gamang menatap ke depan. Karena banyak hal telah mengubah pandangan kehidupan banyak sahabat kita atau kita sendiri untuk selalu mengejar dan selalu saja hal ini tidak menjadikan diri kita semakin dekat padaNya. Sedangkan disatu sisi, dalam taraf tertentu, kehidupan memerlukan enegi untuk bergerak, energi ini disebut materi(harta). Namun saat ia diperoleh dengan menafikan sisi manusiawi kita, materi ini berubah bukan saja menjadi berhala yang harus kita puja namun ia mengalahkan rasa nurani kita terdalam. Dibutuhkan mental dan energi yang teramat kuat untuk bisa membuat garis pemisah mana antara serakah dan memperoleh nafkah. Garis pemisahnya ada dalam batin kita terdalam. Karena bagaimanapun juga saat kita membenci materi dengan cara berlebihan sama saja kita bergerak tanpa bahan bakar, kita hanya diam dan mengisolasi diri. Namun saat kita terlalu bergairah untuk mandapatkannya dan hanya untuk kepentingan diri semata, ia bergerak liar menjadi tidak terkendali. Hanya pada Beliau akhirnya kita sandarkan saat kehidupan menjadi sulit adanya.

Hari ini, saat perjalanan hidup dimulai, sudah sepantasnya kita hilangkan ketakutan-ketakutan kita pada hal yang sifatnya nisbi seperti takut miskin, takut pada sesama manusia, takut pada masa depan, atau ketakutan lain yang kita sendiripun terkadang tidak bisa menerangkannya Biarkan ketakutan itu lenyap dalam genggamanNya saat berinteraksi dengan Beliau tentang masalah kita walau menurut kita hal sepele. Hanya Beliaulah yang pantas ditakuti, andai Ia enggan dan berpaling dari kita, pada siapa lagi akan menumpahkan seluruh masalah kehidupan kita kalau bukan padaNya.

0 0 0 0 Malang,,300109, “Hope”

Selasa, 04 Januari 2011

its about me

Wing, masih ada tugas besar yang menantimu di depan, sebuah tugas yang cukup menantang dan menggembirakan karena bisa membawamu ke tempat-tempat tinggi yang tak pernah dibayangkan, yang bisa membawa dirimu menuju kebebasan, kebahagiaan dan kedamaian bersama keluarga dan orang-orang tercinta. Jangan sia-siakan waktumu untuk meratapi hal yang membuatmu kehilangan fokus. Engkau cukup punya talenta dan kemampuan untuk berjalan menuju tempat yang kau idam-idamkan. Jangan buang waktumu untuk meratapi dan menyesali ketika sebuah langkah yang kamu kira berisi dan bermakna ketulusan, ternyata hanyalah sebuah ego yang berisi sejumput kepentingan sesaat dan semu.

Wing, engkau telah banyak ditunjukkan cerita-cerita tentang kejatuhan sebuah manusia dari singgasana hanya karena sebuah ego diri., yang ujungnya hanyalah materi belaka. Fitrah kehidupan manusia tidak layak untuk sebuah episode begini. Jangan terhalangi oleh hal-hal kecil seperti ini, sebab kalau kau menganggapnya besar, maka ia akan jadi besar dan bisa menghalangi langkah mulia yang kamu cita-citakan. Engkau terlalu besar untuk menghadapi hal kecil seperti ini, jadi lupakanlah, biarkan waktu yang akan mengurus hal seperti ini. Karena apapun yang telah engkau lakukan jika ini mengandung kebaikan, kelak akan menghampiri kebenaran yang sejati, sebab kebaikan apapun walau hanya sebuah nasihat, jauh lebih berharga dari materi manapun namun diperoleh bukan dengan jalan keindahan. Kelak saat kehidupan berjalan ke depan, akan disadari ketika kelimpahan materi namun dicapai bukan dengan jalan kebaikan, ia hanya menjadi sebuah kehampaan dan sia-sia tidak memberikan kehidupan yang sejati.

Wing, engkau terlalu besar untuk halangan kecil seperti ini, kehilangan teman, pengkhianatan, atau apapun hal lainnya, mungkin terasa menyakitkan. Tapi ini mungkin lebih berharga dari pada penyesalan yang datang kemudian. Perlu disadari, kebaikan tidak bisa bercampur dengan keburukan, bersih tidak bisa bercampur kotor, kejujuran tidak bisa bercampur kecurangan, ketulusan tidak bisa berteman dengan tendensi, karena kepercayaan dalam sebuah hubungan pertemanan, persahabatan, adalah saling menghargai dan ditempa oleh waktu untuk mengujinya, bukan sesaat dan memiliki sejumput kepentingan ego diri. Kehilangan hal yang begini memang tidak perlu disesali karena saat engkau berada di tempat yang tinggi justru berisi orang-orang yang tulus dan jujur.

Wing, fokuskan dirimu untuk menerima tantangan yang lebih besar, siapkanlah dan berdoalah agar Tuhanmemberi jalan untuk menuntaskan apapun masalah kita asal kita telah berusaha dengan sekuat tenaga. Sebab akhir dari usaha terkeras kita adalah awal dari campur tangan Tuhan untuk memberi pertolongan pada kita.

Wing, berharaplah kelak kalau sejumput kabaikan yang pernah kau lakukan namun disalah pahami akan menjadi bunga mekar yang harum dan indah yang tidak saja menyenangkan pemiliknya namun menyenangkan orang yang memandangnya. Bukankah kebahagiaan datang, saat orang sekelilingmu tersenyum senang. Jadi mulai saat ini,pada kondisi apapunjuga, senang-sedih;tawa-tangis, engkau harus tampilkan kualitas –kualitas prima dalam berbagai kondisi apapun. Karena kehidupan lebih suka bersahabat dengan orang yang riang dalam melakukan tindakan, dan tanpa segan ia akan memberimu hadiah sebuah tanda jalan untuk memperbaiki diri dan jalan untuk menuju tempat yang tinggi. Bukankah kita selalu tersenyum saat melihat bayi-bayi kecil menghadapi awal kehidupannya dengan berbagai kesalahan bahkan untuk hal yang termudah sekalipun, dan kita tidak segan untuk turun memperbaiki kesalahannya dengan sebuah senyuman. Begitulah, kehidupanpun akan melakukan hal yang serupa kepada kita.

Wing, tahukah engkau, kalau kau memiliki bakat dan talenta luar biasa. Bukankah orang lain pernah mengatakan itu? Maka gunakanlah talenta dan bakatmu untuk melakukan hal yang mulia dengan cara yang mulia. Fokuslah dengan kondisi ini, karena fokus akan menghasilkan energi dan tenaga yang cukup dahsyat yang bisa menjadi pendorong untuk melesatkan dirimu menuju tempat yang kamu idam-idamkan. Jangan biarkan orang mencoba membuat opini seolah-olah engkau kecil adanya karena itu adalah cerminan atas dirinya . Ia hanya tidak rela engkau bertumbuh dengan kapasitas besarmu yang menakjubkan. Bukankah hidup telah banyak bertutur kalau langkah kita terhenti sampai batas yang dibayangkannya. Engkau memiliki kapasitas tidak seperti itu. Jadi jangan biarkan itu ada dalam pikiranmu, sebab ini akan mencederai komitmen muliamu dengan kehidupan.

Jadi, dengan kapasitas besarmu, dengan talentamu yang menakjubkan, bergandenglah dengan kehidupan untuk menebar benih-benih kemuliaan sehingga mencapai tempat-tempat tertinggi dalam kehidupan. Jangan biarkan hal kecil menghalangi langkahmu. Kehilangan seorang teman yang egois akan lebih bagus karena engkau akan memperoleh seribu teman yang akan mendukungmu dengan ketulusan dan kejujuran. Kelak engkau akan sadari hal ini saat engkau sampai di suatu tempat dimana kemuliaan bertahta jauh diatas ketidak pantasan yang engkau sekarang sedang lihat ada di depan. Karena engkau akan lihat bahwa kejujuran akan bersinggasana jauh diatas ketidak pantasan atas kepercayaan yang dicederai dengan menafikan sisi kemanusiaan kita.

0 0 0 0 0 malang, 040109

“its about me”

I will come there

Hari ini, ketika matahari bersinar cerah seperti memberi tanda kalau kehidupan menjadi tak ternilai harganya. Kehangatan sinarnya seolah pertanda semua harapan kita apapun adanya menjadi kenyataan. Ketika hidup tiba dalam kondisi begini, tidak ada yang akan kita lakukan kecuali berucap syukur. Bukankah ini bisa terjadi tatkala lingkungan menstimulir kita untuk melihat lewat mata akan keindahan yang terjadi hari ini dan pikiran memberikan persepsi tentang kedamaian, badan kitapun seperti terhipnotis untuk merasakan kenyamanan. Saat itu terjadi, hidup terasa begitu melimpah dan sempurna bukan? Segala apapun pandangan mata kita lihat, seolah sekeliling kita memberi senyum yang terbaik hanya untuk kita. Dan kitapun seolah ingin kalau semua ini jangan cepat berlalu. Namun seperti yang kita ketahui, kalau apapun yang bersifat nisbi di dunia ini tidak akan abadi. Segera saja semua yang kita nikmati berubah. Lantas apa sebenarnya yang salah kalau kita menginginkannya untuk selamanya?

Ternyata apapun yang kita dengar, lihat, rasa, adalah stimulan yang masuk dari luar, akan dipersepsikan secara berbeda oleh tiap individu meski input stimulannya sama. Persepsi yang berbeda ternyata banyak dipengaruhi oleh kestabilan suasana emosi kita sebelum emosi memerintahkan pikiran untuk melakukan reaksi atas stimulus tadi. Ternyata suasana emosi, banyak sekali tergantung pada kadar spiritual kita (perlu dibedakan antara spiritual dan ritual tidak sama). Pada tingkatan dimana spiritual telah menyelubungi diri sejati kita ditandai dengan sering terkoneksinya energi kita dengan energi sejati, maka alunan kehidupan seberapapun kerasnya ia tidak menjadi mudah oleng, karena amat percaya kalau ini adalah bagian hidup dariNya yang sedang dan akan kita lewati dan Beliau sedang melihat seberapa dekat kita denganNya. Kembali ke awal, ketika diri kita terdalam telah dilingkupi energi spiritual sejati, maka emosi yang keluar justru akan memberi persepsi pada pikiran untuk menjadikan stimulant yang masuk menjadi baik dan sempurna.

Baik dan sempurna? Saat apapun kondisi kita, entah diatas saat semuanya berkecukupan dalam tataran materi, ataupun saat kita bekerja keras untuk sekedar bertahan dari keserakahan hanya untuk keinginan tertentu, segalanya akan menjadi baik dan sempurna. Bukankah semua kebaikan mengandung kesempurnaan, demikian juga sebaliknya. saat kita tertawa untuk merayakan kesuksesan kita atau saat kita tersedu menahan air mata keluar ketika kegagalan datang menyapa, bukankah semuanya terasa sempurna. Dibutuhkan kekuatan mental luar biasa untuk mencapai kondisi saat kepedihan menjadi terasa baik dan sempurna, dan itu hanya bisa dilewati oleh pribadi yang tahan guncangan karena nilai-nilai tersebut diatas. Ia seperti pelaut yang telah melewati demikian banyak badai sehingga ia berkata: antara pelaut dan badai seperti saudara, tanpa badai, ia tidak akan menjadi pelaut yang tangguh, tanpa pelaut, badai jadi kehilangan makna.

Bukankah kehidupan juga demikian adanya, kehidupan tanpa guncangan akan membuat kita tidak menjadi pribadi yang tangguh. Kehidupan yang penuh fluktuasi dan memang akan demikian, kadang membuat kita berfluktuasi juga. Kita tidak mungkin untuk melawan fluktuasi kehidupan selama kita berlayar didalamnya. Saat gelombang naik, kita diatas, saat gelombang turun kita terhempas. Bukankah banyak cerita saat manusia mencoba melawan gelombang kehidupan hanya untuk keinginan bertahan diatas akhirnya terhempas untuk tenggelam. Dan anehnya saat ia tidak bergerak alias mati, justru tubuhnya mengapung diatas. Jadi kehidupan yang berfluktuasi( diatas dan dibawah) hanya bisa diikuti tanpa harus hati kita terbawa mabuk oleh rasa hempasan itu( efek vertigo). Hanya hati yang diliputi energi spiritual akan menghilangkan efek itu, ketika semua persepsi kita hanya baik, baik,dan baik.

Yang penting adalah menyiapkan diri untuk selalu belajar dan ber-iqra untuk selalu menyandarkan segala sesuatunya pada kekuatan hati yang terpenuhi oleh energiNya. Bukankakah kehidupan menjadi tawar adanya bila hempasan hidup entah diatas atau dibawah dimaknai oleh hal yang baik-baik saja, mungkin hati kecil kita bertanya. Pada saat kita tiba disana, segalanya memang dipenuhi kebaikan dan segalanya dipenuhi keindahan bukan kehidupan yang tawar. Saat semuanya dipenuhi keindahan, bukankah segala kebaikan, kesempurnaan sudah termasuk didalamnya. Apakah saya telah sampai disana? Sehingga bisa menggambarkan semuanya? Belum..saya belum sampai disana, tapi saya sedang berjalan menuju kesana dan arah jalannya sudah terlihat, dan aromanya juga sudah tercium seperti aroma tanah kering yang baru saja terbasahi oleh air hujan, terasa menyegarkan. Bukankah ini juga sebuah bentuk keindahan?

0 0 0 0 0 0 0 0 0Malang,180109

“I will come there”

Time Confuse

"Lama saya tidak menyambangi rumah yang satu ini terlalu asik dengan rumah yang baru, namun apa daya kerinduan terhadap jalan sunyi membawa saya kesini"

Sebuah renungan

Siklus sebuah kehidupan selalu bertumpu pada sebuah dimensi yang disebut dengan “waktu”. Ia bergerak dengan membawa masa lalu menuju masa depan dengan berpijak pada masa kini. Dengan masa lalu ia menjadi sebuah ingatan yang kerap kita sebut dengan memori, dengan masa depan ia menjadi tumpuan yang disebut dengan harapan. Lantas dimanakah masa kini berada? Apakah ada diantara masa lalu dan masa depan? Ataukah ia hadir dengan kejujuran pada situasi yang disebut masa lalu dan masa depan. Atau masa lalu dan depan sebenarnya khayalan yang tercipta pada pikiran manusia yang sebenarnya tidak nyata pada tingkat realitas hidup sehari-hari. Sebab bukankah apa yang disebut dengan masa lalu, sebenarnya masa kini yang telah terlewati dan masa depan adalah masa kini yang belum terlalui. Lantas apa bedanya masa lalu, masa depan kalau hakikatnya adalah masa kini.

Pada tingkatan tertentu, yang disebut dengan waktu adalah masa kini, ia hadir dalam realita kehidupan kita sehari-hari. Hanya ego manusialah yang menciptakan pikiran bahwa waktu adalah masa lalu dan masa depan, sedangkan masa kini menjadi nisbi/relative, sehingga dalam jangka tertentu manusia mengalami masalah “kebingungan waktu”/ time confuse. Bukankah banyak disekitar kita contoh-contoh orang yang badannya hadir saat sekarang namun pikirannya ada di masa lalu atau masa depan. Saat pikiran dan badan tidak menjadi sinkron, tidak utuh, ia mengalami semacam ketidak nyamanan atas kehadiran. Orang yang selalu hadir dengan pikiran masa lalu, menjadi orang yang selalu mengeluh , menyesali keadaan, menjadi pengkritik yang andal. Sedangkan orang yang pikirannya hadir di masa depan menjadi orang yang pencemas, kadang possesif, dan dua-duanya tidak pernah bisa bersyukur atas kelimpahan yang tersedia pada hari ini.

Split body and mind, menjadikan hidup lebih banyak diisi dengan lamunan dan penyesalan. Ketidak sinkronan antara tubuh yang hadir di masa kini dan pikiran yang berkhayal di masa depan dan masa lalu menjadi penyebab datangnya penderitaan pada manusia . Ia menjadi budak atas pikiran yang terlalu dipaksakan sehingga kadang ia luput untuk menangkap datangnya keberuntungan yang anehnya selalu hadir pada masa kini, karena orang yang pikirannya mengalami time confuse, ia menjadi tidak waspada, sering mengalami mind illness, merasa dirinya sakit, padahal diakibatkan oleh daya khayal pikirannya.

Menjadi sebuah korelasi kalau kesuksesan adalah milik orang yang optimis, ikhlas dan berserah diri, karena merekalah orang yang paling jujur, orang yang selalu hadir baik pikiran dan tubuhnya di masa kini sehingga tingkat kepekaan dan kewaspadaan mereka cukup tinggi sehingga segala sesuatu yang dikerjakan saat sekarang dijadikan sebuah moment untuk sebuah kesempatan yang akan membawa mereka menuju tempat yang tinggi. Bukankah kesuksesan hanya bisa dicapai oleh orang yang pola kerjanya bertumpu pada fokus masa kini, hal yang tidak mungkin dikerjakan oleh orang yang fokusnya justru di masa lalu.Kehadiran dan keberadaan pada masa kini menjadikan orientasi kerja adalah sesuatu yang teramat dinantikan, karena saat itu dikerjakan rasa kekuatiran, cemas, takut akan bayangan kegagalan menjadi hilang ketika keyakinan berubah menjadi sebuah keberanian dan keberanian menjadi energi pendorong untuk mencapai keberhasilan dengan konsentrasi penuh . Segala sesuatu yang dikerjakan dengan energi yang kuat, bukankah bisa membuka pintu kemudahan yang ujungnya adalah keberhasilan.

Sebuah keberhasilan sering datang menjenguk saat kita berkonsentrasi penuh pada masa kini, bukan masa lalu dan masa depan yang bersifat khayalan. Bukankah kesuksesan, keberhasilan adalah sebuah realitas yang bisa dirasakan, ia tidak mungkin bersemayam pada bilik-bilik khayalan karena itu tidak memungkinkan sebab realita dan khayal adalah hal yang sangat berbeda, seperti halnya antara kebaikan dan keburukan.

Akhirnya, masa kini adalah kehidupan yang sebenarnya, karena didalamnya sudah tersedia apa yang sering di dambakan oleh manusia. Kalau sekarang kita belum merasakan hal yang sama, jangan-jangan kita masih terbelenggu oleh kehidupan masa lalu dan angan masa depan kita, hanya tubuh kita yang ada pada masa kini.

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 111108

“Time Confuse”

Tuban