Jalan menuju padaNya bukanlah jalan yang gegap gempita, namun melewati jalan sunyi yang damai,disana akan ditemukan,tujuan kehidupan sejati yang kita jalani saat ini
Minggu, 13 Desember 2009
Guru Kehidupan
Hidup teramat sering memberikan pelajaran pada kita dengan teramat bijak, seperti guru yang tak terlihat. Ia kadang menampakkan wajah yang kadang kita sebut sebagai lawan. Lain kali ia menjumpai kita dengan sebutan kekalahan. Bahkan ia kadang menemukan kita dengan sebutan pecundang. Atau lain kali ia menyapa kita dengan sebutan serakah, sombong, kematian,kepedihan dan banyak sekali wajah yang kita jumpai. Guru-guru yang bijak seperti ini membuat kita berusaha sekeras mungkin untuk menegakkan kepala walau kaki kita kadang terlalu berta untuk sekedar menopang badan kita.
Kehidupan adalah pilihan , apapun yang kita pilih dengan segala konsekwensinya, tetap saja suatu saat ia akan menghadirkan bulir air mata di wajah. Bukankah puncak gunung akan dicapai setelah melewati bukit terjal. Apapun makna sukses. bukankah ia di capai setelah melewati kesulitan sehingga menjadikan makna sukes lebih berkilau. Apapun jalan hidup yang kita lewati saat ini, kita selalu dibimbing oleh guru-guru yang bijak, tujuannya sebenarnya satu, Tuhan mengirimkan guru-guru itu agar kita memperoleh kemuliaan dalam kehidupan, sebelum kita menghadapNya. Saat kita tiba disana, akan tersadar bahwa apapun jalan yang kita lewati menuju puncak, disana yang akan kita temui hanyalah kesederhanaan, kebersahajaan, ya.......... sederhana dan bersahaja....., hanya efeknya tidaklah sederhana. Indah bukan
Senin, 30 November 2009
Lonely
Kesepian adalah hal yang menakutkan bagi ego kita karena kita seolah berjarak dengan kehidupan. Padahal dalam jiwa yang hening, kesepian adalah pintu masuk jalan sunyi untuk lebih mengakrabi diri sendiri seraya bertanya; andai aku ada disini sendiri, siapakah yang menciptakan kesunyian ini? andai kesunyian terasa menakutkan, lantas dimana letak keheningan yang menentramkan? saat kita berdialog intens dengan diri, kita masuk kedalam situasi dimana muaranya adalah kedamaian. Mengapa? sebab semakin dikejar pertanyaan dan jawaban yang tiada habisnya,kita mencoba memasuki ujung dari kelembutan cahayaNya. Ada semacam ketentraman akhirnya.
Ketakutan akan kesepian mungkin pancaran ego pribdi yang menolak untuk melepas moment kehidupan dari kontrol kita. Mengapa kita tidak mencobanya untuk membiarkan sang waktu memberi pelajran pada kita tentang kepasrahan apapun situasinya. Pernahkah kita membiarkan diri mengalir mengikuti kelok sungai waktu tanpa kita harus tahu akan tiba dimana akhirnya? bagi yang belum mencoba akan terasa menakutkan ketika membiarkan diri menuju ke suatu tempat yang kita sendiri tak mengenalnya. Dimana muaranya berada? muara itu adalah batas kita dengan sang pencipta, dengan pernah berada di ujung cahayaNya, ada semacam perasaan kecil dihadapanNya, ada perasaan damai di benak dan hati, ada semacam rindu dendam yang tak terkatakan, ada semacam kehampaan namun penuh keharuan, aada semacam sepi yangteramat dalam namun itu menghangatkan. Tumpahkan disana segala perasaan kita tanpa harus malu tentang kenaifan kita, biarkan hati, mata, bersama menangis karena hanya Beliau-lah yang mampu memahami perasaan ini tatkala semua manusia mengecilkan diri kita.
Jadi, kalau hari ini perjalanan hidup anda merasa melambat setelah tadi siang bertarung habis-habisan untuk sebuah kemenangan namun dengan menafikan yang lain, malam ini kita tiba-tiba merasa apa yang dilakukan kita,kolega hanyalah kesia-siaan dan makin menambah kehampaan pada hati terdalam kemanakah kita akan menyesal? sehebat apapun rasa bersalah kita tutupi dengan kecanggihan alasan, ia hanya membiarkan sang waktu menunda penyesalan yang ujungnya terlambat. jadi, kalau saat ini kita merasa hidup terasa hampa,sepi, selamat........anda telah tiba di ujung jalan yang bernama kelembutan
Jumat, 13 November 2009
Low
Bukankah Beliau tempat mengadu tanpa penuh prasangka kepada kita? saat kita merasa dizalimi orang lain, saat persoalan seolah tiada jalan keluar, saat penat hanya menjadi bagian kehidupan kita dari hari kehari, mengadulah padaNya. Biarkan kita menghadapNya dengan tubuh sekotor apapun, mintalah kedamaian dan keheningan melingkupi kita, rehat sejenak dari kegempitaan dunia.
Seberapa tuluskah kita meminta pertolongan padaNya saat kesempitan mendatangi kita? saat kesempitan datang, terkadang kita menerimanya dengan derai air mata dan terburu-buru meminta padaNYa untuk segera menjauhkan seolah dengan hilangnya keempitan itu kita terbebas dari kesulitan. Bukankah ketulusan doa padaNya dinilai saat kita menerima kesulitan dengan kadar yang sama saat kita meminta.
Ada sebuah doa yang dipanjatkan hambanya begini:" Tuhan,kalau engkau menimpakan kesulitan dan kesempitan ini sebagai wujud kasih sayangMu padaku, biarkanlah ini kau timpakan padaku, sebaliknya kalau engkau berikan padaku semua kekayaan dunia hanya akan menjauhkan diriku padaMu niscaya aku akan meminta padaMu untuk mencabutNya. berikan kekuatan untuk mendekatiMu pada hati hamba yang teramat lemah ini, dengan kedamaian dan keheningan, niscaya itu sudah cukup bagiku".
Rabu, 23 September 2009
Flow It
Berapa dari kita hanya termenung dan terhenyak saat kekalahan menerpa dianggap sebagai hal yang menyedihkan?. Berapa banyak dari kita mengira kalau hadiah dari musibah adalah berupa benda-benda bukan dikuatkannya batin sehingga ia menjadi pegangan kala kita menerima masalah yang sama di kemudian hari. Bukankah kekalahan juga sebuah hadiah sebagai peunjuk kalau kita memang belum pantas sehingga kita disiapkan untuk menjadi pantas ke depan. Bukankah keindahan kemenangan ada setelah ia melewati lelehan air mata kesedihan saat dikalahkan.
Kehidupan ternyata telah menyediakan segalanya untuk kita, hanya ia masih dalam bentuk bahan baku,bahan mentah, tugas kita untuk mengolah,membentuk,mem-fungsikan buat kesejahteraan bersama. Tugas kita adalah melakukannya dan melakukannya...hampir sepanjang hidup kita, tugas yang kita terima dari Beliau sebelum kita menghadap padaNya untuk dinilai hasil upaya atas kewajiban kita di dunia. Indah bukan...!
Puncak
Saat kita merambat menjadi lebih dewasa, kita mendaki tidak untuk kesana lagi tapi untuk membawa keluarga menuju tempat yang nyaman, namun ternyata kita membuat parameter nyaman hampir seperti parameter kesuksesan yang kita angankan dulu saat muda. Takut mengulangi kesalahan yang kedua kali kita tekan perasaan bersalah kita dulu dengan mentransfer kegagalan kita pada anak,istri,suami tentang makna kesuksesan. Bukannya berhasil kita malah gagal kedua kalinya dengan penuh membawa keluarga bersama-sama pada kesedihan yang teramat panjang. Apakah saat itu kita kekurangan materi? bisa jadi malah sebaliknya kita mungkin memiliki apapun yang kita mau, memiliki impian di puncak namun kita tidak pernah sampai kesana. Mengapa? kita hanya berlaku seolah kita sudah disana, namun apa yang kita sangka dan kira keenangan di puncak yang kita dapati kehampaan dan kita melihat ad puncak yang lebih tinggi. Dan kita pun berjalan kesana, begitu sampai, kehampaan lagi, begitu seterusnya.
Jadi, apa yang salah? Kita salah meneropong puncak adalah hal yang begitu sempurna padahal disana teramat sederhana, namun tidak demikian dampaknya. Kita sering terbalik, kalau puncak adalah tempat apapun tersedia namun tak memberi dampak apa-apa bagi sekitarnya. Mungkin kita memerlukan kendaraan untuk sampai ke puncaktujuan kita, begitu sampai kendaraan itu tak diperlukan lagi, yang kita perlukan adalah kesederhanaan dalam memahami namun berdampak dalam bertindak.
Hari ini mungkin kita me- restart kembali angan-angan terjauh kita, biarkan ia mengendap dalam benak, menyingkirkan pembatas yang menghalangi kita, takdir kita kesana. Adapun realita kita saat ini belumlah disana, yang harus kita lakukan adalah menguatkan langkah dan hati bahwa puncak bukan berarti posisi atau level lebih tinggi dari kita saat ini namun ia adalah kondisi seberapa besar karya terkecil kita menjadi berguna untuk orang banyak. Sementara hal lainnya, biarlah ia mengikuti mekanisme alam yang ada. Gak percaya?mari kta coba
Sabtu, 19 September 2009
Baju baru ruhani
Kupu-kupu yang indah memang enak dipandang seolah ia menjadi sebuah goresan warna dalam dunia ini. Demikian juga dengan kita, ia menjadikan tubuh ruhani kita menjadi lebih indah dipandang seolah memakai baju baru. itulah sebabnya dalam kultur kita baju baru seolah menjadi penghias dalam momen hari raya. Namun lebih indah lagi kalau yang memakai baju baru adalah badan ruhani kita, sebab sekali ia memakainya pantang untuk ditanggalkan .Perjalanan menuju sang sunyi, hanya mensyaratkan keindahan, keikhlasan dan syukur. Baju baru ruhani kita hanya diperoleh dengan perjalanan ke dalam, lewat puasa kita mengetuk pintu menuju kesana. Apa tandanya kita memakai baju baru ruhani kita? Setelah puasa kita menjadi lebih berselaras dengan diri sendiri, alam sekitar sehingga kehidupan yang dijalani apapun fluktuasinya, ia selalu dilihat dalam kerangka indah dan indah Bukankah kupu-kupu yang indah karena ia berselaras dengan keharmonisan alam. Kupu-kupu sendiri tidak bisa melihat keindahan itu, namun ia menjalani kehidupan dengan keikhlasan apapun perannya.
Hari ini kita sampai di simpul waktu, bukan 1 bulan kemarin yang menjadi akhir laku kita karena ia menjadi arah langkah kita selanjutnya. Kemana?menuju sang sunyi, jalan sunyi dimana kita mendambakan kedamaian,keindahan yang selama ini kita cari-cari di luar di badan wadag kita. Sudahkah kita sampai disana?semoga
Kamis, 17 September 2009
Kembali ke kampung halaman
Secara bangunan ruhani, gejala inilah yang makin lama makin dicari oleh kita. Sejauh perjalanan apapun, rintangan jarak, kepenatan, kecelakaan di jalan yang tak habis malah makin bertambah dari tahun ke tahun. Ada kerinduan dalam nurani untuk memandang sesama bukan dari eksistensi luar, tapi dari pancaran ketulusan, damai. Yang demikian sudah menjadi barang mahal dalam diri kita. Begitu mahal karena menghabiskan biaya dan energi yang tak terkira banyaknya. Begitu banyak sahabat kita merindukan dirinya diterima oleh orang lain dengan ketulusan sehingga begitu momen itu ada, apapun dan berapapun ongkosnya dicari.
Gejala apakah ini? bukankah mudah sekali untuk diterka itu sebuah kerinduan kita pada sang Pencipta langit dan bumi, kerinduan kembali ke kampung halaman sejati kita, dimana disana kita menjadi raja apapun asal kita sebelumnya. Perjalanan yang melelahkan dari fisik merupakan pencarian yang masih mengandalkan kondisi raga,fisik,materi. Bukankah hal tersebut bisa kita temui dengan perjalanan ke dalam, dimana laku kita melewati jalan sunyi yang penuh keindahan tanpa rasa lelah. Ketulusan dan kedamaian ada di sepanjang jalan sebelum menemui sejati. Bukankah apa yang sedang kita persiapkan saat ini (mudik) cerminan ruhani kita hanya penempatannya di luar, dan terlalu melelahkan, namun anehnya selalu dilakukan dengan taruhan yang tak seimbang. Kerinduan setahun sekali tak mungkin membentuk diri kita seutuhnya. Perjalanan ke dalam memberi kesempatan diri untuk melewati sesuai yang kita sukai, tidak ada target,terus bergerak maju dan maju. Keindahan dan ketulusa ada di setiap detik,menit dan jam yang berjalan. Bagaimana kita temukan jalan seperti itu? Untuk sahabat yang masih mengagungkan hal kebendaan sebagai parameter untuk menuju kedamaian mungkin agak terasa sulit. Namun ketika kita berhenti untuk menilai benda bukan untk tujuan namun sebagai sarana, maka pintu itu terbuka. Kalau kita takut, mungkin karena belum terbiasa, begitu kita memasukinya, ada cahaya kasih sayangNya disana. Pingin mencoba?
Minggu, 30 Agustus 2009
Berjarak dengan Kehidupan
Bukankah kehidupan sebenarnya untuk memuliakan , lantas kenapa harus berjarak dengannya ? Kehidupan yang manakah kita harus berjarak? Keindahan hidup sebenarnya bukanlah pencapaian pribadi kita dalam level apapun, keindahannya muncul tatkala kehidupan menggunakan kapasitas pribadi kita untuk memberikan warna kebaikan pada "dunia". Kapasitas pribadi yang indah memungkinkan hidup menggunakannya untuk mencapai mimpi-mimpi kita, mimpi sahabat-sahabat kita, bahkan merubah komunitas, habitat, ekosistem apapun namanya dimana kita mengabdikan diri ini dengan satu tujuan sebuah kehidupan yang baik dan membaikkan.
Kehidupan seperti sebuah mobil besar yang mengijinkan kita membawa mereka untuk menuju satu tujuan yaitu kebahagiaan dan kesejatian. Ketika menjadi sebuah pribadi yang indah, kehidupan seolah mengijinkan kita untuk menjadi "driver" yang membawa mobil besar itu menuju tujuan hidup. Fokusnya hanya pada langkah, jalan, guncangan, rintangan atau apapun namanya agar sampai pada tujuan itu. Kadang rehat sejenak untuk menikmati pemandangan dari sebuah perjalanan dunia, kadang terlalu fokus pada keindahan di perjalanan, bukan pada arahnya. Kadang terlampau rewel dengan "mobil" yang terlampau lambat atau terkagum-kagum dengan kemewahan "mobil" yang membawa kita, sehingga alpa kalau hidup adalah perjalanan menuju satu tempat, tidak berputar-putar tanpa arah dan salah arah.
Masing-masing pribadi kita menginginkan mengendarai mobil yang mewah dan cepat untuk segera sampai. Namun apa daya kehidupan yang penuh warna mengijinkan pilihan yang tidak bisa ditolak, sehingga apapun yang di kendarai tidak ada jaminan yang bagus dan mewah bisa sampai duluan.
Berjarak dengan kehidupan, bukan berarti mematikan mimpi-mimpi untuk mencapai hidup yang indah dan baik, ia hanya sebuah alarm agar kita tidak terlalu fokus dengan "mobil" yang dikendarai, dengan keindahan perjalanan, dan fokus pada tujuan. Sebab banyak sahabat kita terlalu mengagumi kendarannya, hingga akhir hayat, seolah ini tujuan kehidupan, namun faktanya ia tidak segera sampai. Dengan mengurangi kekaguman itu, menjaga jarak agar tetap pada tujuan awal. Bagaimana caranya? dengan tersenyum saat menerima kesedihan, dengan syukur saat menerima anugerah. Apakah hidup akan terasa tawar saat menerima kebahagiaan datar-datar saja, atau tersenyum kala kepedihan menyapa. Tidak ada salahnya untuk dicoba, karena saat masuk didalamnya, ada keindahan disana. Itulah yang sedang kita laksanakan hari ini, puasa yang tidak sekedar berjarak dengan materi, namun dengan keinginan. Saat kita bisa menyelam didalamnya, kehidupan akan tersenyum , dan itu terlalu cukup untuk kita. Semoga
Sabtu, 15 Agustus 2009
Honesty, such as lonely words
Sedemikian kesepiankah kata jujur ini seolah menjadi hal yang langka dalam keseharian kita sekarang ini.Kejujuran apapun situasinya, ia selalu mendapat lawan bernama godaan. Dikatakan lawan karena ia selalu mengajak kita untuk menjauhinya. Saat kita di puncak kehidupan, kejujuran kadang datang terasa menyakitkan karena membuat kita tidak ingin pindah dari kenyamanan. Saat di bawah, kejujuran banyak menguras air mata kita karena ia menjadi pelengkap penderitaan dan kepedihan kita. Saat ia menghilang, selalu dirindukan, saat hadir, ia malah menjadi penghalang ambisi kesemuan kita.
Namun yang tidak bisa dipungkiri, kejujuran selalu hadir dalam relung batin kita. Dipaksa atau tidak, mau atau tidak, ia akan hadir untuk menyapa kita seraya memberi pesan, kemana langkah hidup harus berjalan. Seolah ia menjadi alarm ketika kita terbentur dengan sesuatu yang mengharuskan kita merubah arah. Jadi, apakah hakikat kejujuran itu sendiri?mungkin ia semacam kompas yang diberikan Beliau agar kita berjalan dengan arah yang benar. Arah yang mana? arah yang akan menuntun kita padaNya. Sebab, bukankah dengan berjalan menuju padaNya kehidupan kita akan penuh berkah, hal yang selama ini kita cari-cari, namun salah menempatkan. Bukankah kehidupan sejati memang selalu dilingkupi dengan kebaikan sehingga arah dan langkah kita harus menggandeng mahluk bernama kejujuran.
Hari ini, mungkin kita telah melupakannya, menjauhinya karena ia menjadi penghambat kemajuan level kehidupan kita secara fisik, menghambat kemajuan karir kita, kesejahteraan kita sehingga ia harus dibuang dalam kerangka berfikir dan kehidupan . Namun sebaik apapun melupakannya, ia akan tersenyum menunggu di batas usia kita nantinya. Dan ia tersenyum menyambut dengan ramah, seolah kita adalah sahabat yang telah lama tak dijumpainya. Percaya atau tidak, senyuman itu akan terasa menyakitkan dan penuh sesal buat kita. Jadi, mulai hari ini, lebih baik bersahabat dengannya, agar ia mampu menjadi sahabat yang sejati di kehidupan selanjutnya. Mau?
Rabu, 12 Agustus 2009
Tak Gendong
Apa beban-beban kehidupan yang tak terasa menjadi beban kita?Kita sering terpaku dengan hal yang bernama "sukses" karena hal ini mengindikasikan kemapanan baik dalam harta/materi, pangkat, kemakmuran,kesejahteraan, kedamaian sampai hari tua dan kalau bisa saat di panggil Beliau, mendapat tempat di surga atau apapun namanya seperti mengulang sukses di dunia. Sedemikian mendarah daging beban itu seolah menjadi keniscayaan untuk diraih bagaimanapun caranya.Bahkan terkadang dalam mimpi kita, sering terpola dengan hal ini seolah tanpanya, kita hanya tersia-sia menjalani kehidupan.Kalau tujuan kehidupan hanya seperti ini, terasa naif rasanya kerumitan yang kita hadapi tatkala kesedihan menyapa.
Kehidupan yang kita jalani saat ini seperti sebuah film yang selalu terulang-ulang dari nenek, orang tua, nanti kita ajarkan pada anak cucu kita kalau kehidupan tanpa "kesuksesan" adalah hal yang harus di hindari. Namun sebagaimana hidup itu bertutur, beban tersebut malah menjauhkan diri kita dari harapan. Kita mengalami kepedihan yang tak dirasakan, merasa menjadi gagal tatkala harapan itu tak terjadi seolah Tuhan salah memilih bukan kita yang memperoleh kemuliaan. Kita gendong beban ini mulai dari rumah berangkat ke kantor, hingga di tempat ibadah yang tercermin dari untaian doa kita.Lebih rumit lagi pengakuan diri dari orang lain selalu memakai parameter yang sama.
Rasanya makin lama kita akan sering menjumpai orang"gagal" meraih kesuksesan karena beban yang digendongnya ke mana-mana. Kita hanya bisa berharap semoga beban itu bisa terlepaskan untuk menjalani hidup dengan cara yang berbeda sehingga kehidupanpun menjadi hal yang penuh keindahan, karena tak ada kesuksesan sejati tatkala kita memperolehnya dengan mencederai kehidupan. Saat kita tiba disana bukankah semua menjadi indah, seindah lagunya mbah surip: enak to, mantep to
Senin, 03 Agustus 2009
Demi Masa
Berapakah usia anda sekarang?pencapaian apa yang telah anda raih dan mungkin teramat membanggakan sehingga menjadi torehan sejarah dalam kehidupan anda. Kehidupan kita, amatlah dipengaruhi oleh dimensi bernama waktu. Prestasi tertinggi yang mungkin telah kita raih kadang masih teramat menakjubkan bagi kita sendiri, karena seolah ada hal di luar kesadaran kita yang berperan mewujudkannya.
Disadari atau tidak, waktu yang diberikan oleh Tuhan untuk membuat prestasi dalam kehidupan teramat pendek. Dalam ritme hari yang kita bagi dalam 24 jam, 8 jam diantaranya kita gunakan untuk istirahat, tidur, 8 jam lainnya untuk aktifitas kerja, sisanya untuk hal diluar itu. Artinya kalau efektifitas berkarya kita semisal hanya 8 jam/hari namun kita mencapai raihan yang menakjubkan, lantas apa yang dilakukan oleh kita selama ini dengan prestasi yang biasa saja, toh jatah waktunya sama.
Waktu telah menjadi tolak ukur kehidupan tidak saja menyangkut rutinitas sehari-hari, namun telah sedemikian jauh melampaui dimensi waktu sendiri. Allah telah mengingatkan kita dengan sebuah ayat "demi masa" pengingat ini mau tidak mau harus kita pahami kalau jatah yang diberikan amatlah singkat dan harus kita kelola sebaiknya. Untuk apa? untuk sebuah kebaikan pada sesama, lingkungan, habitat dan ujungnya pada Beliau. Sebab bukankah itu yang kita teken sebelum kita masuk ke dunia.
Saat kita kecil kehidupan kita adalah bermain, namun banyak diantara sahabat kita meskipun usia sudah tua masih saja bermain-main dengan kehidupan. Berapa banyak dari kita yang teramat menyesal dengan ucapan "seandainya dulu...." atau "mungkin kalau aku boleh kembali jadi muda aku akan....."Banyak dari kita yang tanpa terasa mengabaikan waktu hanya untuk asyik bermain dengan dunianya sendiri. Ada permainan mencari materi sebanyak-banyaknya tanpa tahu hendak diapakan, karena keasyikannya justru dari memperolehnya, bukan menggunakannya. Ada yang asyik bermain dengan kekuasaan tanpa mau berbagi dengan yang lain sehingga tidak tahu kalau hal itu bisa membuat kesengsaraan banyak orang.
Tujuan Tuhan memberi waktu dalam hidup kita adalah agar kita tidak terlena dengan kehidupan dan memanfaatkan waktu yang tersedia untuk membangun infrastrukur ruhani sebagai bekal sebuah perjalanan panjang. Hakikat waktu itu sendiri tidak terbatas, namun jatah yang diberikan amatlah terbatas, maka teramat indah kalau digunakan untuk memberi manfaat bagi sesama terlepas kita di kagumi oleh sesama atau tidak.
Hari ini kita mungkin telah lewatkan waktu untuk bermain-main dengan kehidupan, mungkin kita tertawa atas kesenangan ini, namun percayalah saat permainan ini habis, justru kehidupan yang akan menertawakan keabsurdan persepsi kita. Jadi mumpung belum terlambat, dengan sisa yang ada manfaatkan waktu kita untuk sebuah bangunan yang bernama kebaikan. Seyakinnya Tuhan pasti akan tersenyum karenanya. Terasa indah bukan!
Senin, 20 Juli 2009
rumahNya
Kehidupan apapun yang kita jalani ini suka atau tidak akhirnya akan diakhiri untuk menghadap Beliau. Apapun kenakalan yang kita lakukan di dnia, beliau tidak akan menghukumnya saat itu, baru beliau akan bertanya pada kita setelah kita menghadapNya kelak. Namun kalau ada yang mengklaim bahwa keharusan menghadap Beliau dilakukan dengan menafikan sahabat lainnya, menumpahkan darah sahabat lainnya, meninggalkan tangisan anak, istri, suami atas sebuah kehilangan yang teramat mengiris hati, apakah Allah masih membuka "pintu rumahNya"?.
Kita sering terlalu merindukanNya sehingga dalam kapasitas cinta yang membabi buta, apapun akan dilakukan untuk memperoleh cintaNya. Namun sebagaimana Allah Maha Indah dan menyukai keindahan, maka seyakinnya apapun yang kita lakukan bukan dengan cara-cara tadi, hanya akan memberikan bias, kalau bukan dibilang sebuah fata morgana. Cinta yang bias dan seperti fata morgana bukanlah cinta yang sesungguhnya, ia seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan, hasilnya hanya akan membawa kepedihan.
Hari ini, kita sedang menghadapi sebuah cobaan yang ke sekian kali karena sebuah harapan yang tak tersampaikan. Biarlah ini menjadi sebuah pelajaran ketika air mata telah meleleh, ia tidak akan hilang begitu saja, namun ia menguap menuju tempat malaikat mengagungkan asmaNya penuh ketakziman. Yang Maha Agung tahu akan kemana akhir sebuah cerita, kita yang lemah ini hanya cukup meminta sebuah kedamaian dan cara yang indah untuk mendekat padaNya sehingga Beliau akan selalu memberi petunjuk, menuntun kita mengarungi hidup yang pendek ini menuju sebuah pintu yang di ikhlaskannya menuju "rumahNya"
Selasa, 14 Juli 2009
ikhlas
Berapa banyak air mata yang keluar hanya untuk mengejar kesuksesan namun dengan menafikan keikhlasan nurani. Makna ikhlas jangan-jangan dipahami ketika kita memperoleh kegembiraan, ketika putus asa, bukan saat kita menjalankan rutinitas sehari-hari. Ikhlaskah kita membantu teman agar teman kita menuju puncak karena memang pantas kesana? Ikhlaskah kita ketika sahabat memperoleh kesempatan naik jenjang kehidupannya dan itu bisa terjadi kalau kita membantunya. Banyak hal dalam kehidupan sehari-ari kita menafikan makna ikhlas. Mungkin saat kita mendapat cobaan, kita teramat ikhlas. Bagaimana kalau kita mendapat anugerah, apakah bobotnya sama dengan saat kita dicoba?
Tuhan menganugerahkan kita wajah yang cantik/tampan agar kita menghargai keindahan karena Beliau menciptakan kita dengan penuh keikhlasan. Tuhan menganugerahkan kita otak yang pandai dengan harapan bisa membawa kebaikan sesama. Tuhan memberi kita dengan penuh keikhlasan rizki pada umat manusia. Tapi bagaimana mungkin kita manfaatkan wajah cantik/tampan untuk sesuatu hal yang tidak sepantasnya. Bagaimana mungkin otak kita yang encer kita gunakan menipu sesama. Bagaimana mungkin mengharap rizki kita dariNya namun dicari dengan proses yang tidak jujur. Dimana makna ikhlas itu ketika kita melakukannya?. Apapun yang dilakukan dengan tidak sepantasnya hanya akan membawa kehampaan batin, kosong, penuh kegelisahan. Bagaimana kita dapat menghadap padaNya dengan penuh takzim saat hati kita gelisah
Hari ini, ketika kita membuka mata di pagi hari, kita berjanji kalau apapun aktifitas hari ini akan kita lakukan dengan penuh keikhlasan, entah saat gembira, sedih, mendapat pujian, cercaan yang merendahkan. Berjanji dengan Beliau apapun yang akan kita lakukan semata-mata hanya untuk pengabdian kepadaNya.
Sabtu, 11 Juli 2009
Wajah Kesedihan
Hari ini, mungkin kita mengalami siklus kehidupan yang telah menguras air mata, tak ada yang dapat dilakukan ketika telah sampai pada titik kulminasi kecuali hanya memohon padaNya agar ditunjukkan pintu keluarnya. Kesedihan adalah situasi hal yang ingin kita hindari dan kalau bisa tidak ingin bertemu lagi. Namun sebagaimana hidup telah menggariskan kalau kita akan sering berjumpa dengan wajah kesedihan disamping wajah membahagiakan. Kita tidak mampu memilih salah satunya. Yang mungkin harus dipahami adalah apa maksud kehidupan memberikan dua pilihan ini?
Wajah kesedihan, kita sering enggan membahasnya. Namun sebagaimana diketahui, tidak mungkin kita tertawa dengan lega sebelum tahu makna menangis. Demikian juga dengan wajah kesedihan yang datang menghampiri kita sering ia membawa sebuah pesan agar kita lebih menghargai dengan apa yang telah kita peroleh. Wajah kesedihan, sering menjadi pintu mencapai puncak kehidupan yang mengagumkan. Karena tidak ada yang dapat mencapai puncak kehidupan tanpa melewati pintu ini.
Jadi andai kita enggan dan menghindar bertemu, sama saja enggan menuju puncak kehidupan yang sering kita idamkan. Dan andai saat ini kita bertemu dengan wajah kesedihan, apakah salah kalau dikatakan ini kabar gembira, karena telah menemukan pintunya. Kalau hari ini kita merasa belum mencapai hal diatas, mungkin kita terlalu terpaku dengan pintunya, meratapinya seolah ia tembok kokoh yang tidak bisa dilewati. Yang harus dilakukan sebenarnya hanya tahu cara membukanya, bukan memandang pintu itu sehingga mengaburkan pandangan pada handlenya.Mungkin kita harus belajar kearifan ini, dan Tuhan memberikan kesempatan pada kita sebelum akhirnya kuat di puncak.
Selasa, 07 Juli 2009
Tujuan Hidup
Apapun kondisi parsial kita hari ini, entah mungkin berada di puncak kehidupan atau di dasar, ia adalah situasi sementara untuk mendekat padaNya. Kalau kita hari ini merasa berkelimpahan materi, ibarat kita berangkat menuju suatu tempat, mungkin kendaraan kita adalah mobil yang akan membawa kesana lebih cepat. Sebaliknya kalau kita hari ini masih saja mengais rizki untuk menahan hidup, mungkin kita sedang berjalan kaki. Apapun situasi kita hari ini memiliki peluang yang sama untuk selalu berada didekatNya. Apapun situasi kita hari ini, entah bergerak dengan mobil, berjalan kaki, naik sepeda dll ketika sampai pada yang dituju, mobil, sepeda atau apapun jua alat untuk mendekat padaNya sudah tak berfungsi lagi.
Artinya, ketika kita sudah berada pada lingkup kasih sayangNya, bukankah kelimpahan materi menjadi sia-sia belaka?bukankah derita karena kekurangan menjadi lenyap adanya? yang kita rasakan hanyalah syukur dan syukur, karena kedamaian, ketenangan yang kita damba menyatu dalam kata yang tak bisa terungkapkan. Jadi apapun kondisi kita hari ini, mungkin tidak ada yang perlu kita kuatirkan tentang masa depan. Karena Beliau menanti disana dengan senyuman,dan itu sudah teramat cukup bagi kita. Indah bukan
Jumat, 03 Juli 2009
Keberanian hidup
Dengan cara apakah sebuah keberanian dinilai?apakah ia selalu ditampilkan dengan sebuah laku yang menurut kita seperti dalam film-film hero? Dalam banyak kehidupan, sering kali kita salah menggambarkan makna tentang keberanian. Saat semuanya terasa sempurna, apapun ucapan makna keberanian menjadi terasa indah karenanya. Namun saat kondisi diatas tak ada, apkah masih pantas mengucapkannya? Saat kegagalan ada di depan mata, masihkah kita berani menghadapinya? Saat sebuah kesalahan yang berkibat pada hajat hidup banyak orang, masihkah kita berani mengakuinya? atau saat air mata mengalir karena kesedihan, masihkah kita berani tegak kepala kita. Ada pepatah bilang kalau keberanian tak diuji oleh maut namun oleh hidup.
Kematian memang serasa menakutkan, karena tidak ada pengalaman darinya, seperti gelap. Namun kehidupan juga telah menimbulkan ketakutan sendiri karena ada banyak kematian nurani hadir disana. Berapa banyak dari kita sanggup menerima cobaan hidup sehingga harus memutuskan untuk mengakhirinya? Berapa banyak dari kita berani untuk melangkah saat ketidak pantasan justru hadir dalam ritme hidup kita sehari-hari. Berapa banyak dari kita terpasung oleh pikiran hanya kalau bertindak diluar kebiasaan orang banyak, di cap menjadi aneh?
Pangkal dari keberanian dalam hidup ujungnya sebenarnya mengarah pada kebeningan hati.Kebeningan hati, hal yang teramat dirindukan dalam hidup, didalamnya ada kedamaian, ketentraman, seperti telaga yang tenang. Untuk menuju kesana, dibutuhkan keberanian tersendiri, karena ia menuju ke dalam, melewati jalan-jalan sunyi, sendiri lagi. Salah kalau kita mencarinya di luar, salah juga kalau ia dilambangkan dengan benda-benda nisbi. Ia hanya bisa dicari dengan keikhlasan menjalani hidup, penuh syukur, kerja keras karena semata-mata semuanya kita peruntukkan padaNya. Saat sampai disana, bukankah semuanya mengalir begitu saja, yang ditemui hanyalah kata keindahan belaka. Indah bukan
Dengan cara apakah sebuah keberanian dinilai? apakah ia selalu ditampilkan dengan sebuah laku yang menurut kita seperti dalam film-film hero? Dalam banyak kehidupan, sering kali kita salah menggambarkan makna tentang keberanian. Saat semuanya terasa sempurna, apapun ucapan makna keberanian menjadi terasa indah karenanya. Namun saat kondisi diatas tak ada, apkah masih pantas mengucapkannya? Saat kegagalan ada di depan mata, masihkah kita berani menghadapinya? Saat sebuah kesalahan yang berkibat pada hajat hidup banyak orang, masihkah kita berani mengakuinya? atau saat air mata mengalir karena kesedihan, masihkah kita berani tegak kepala kita. Ada pepatah bilang kalau keberanian tak diuji oleh maut namun oleh hidup.
Kematian memang serasa menakutkan, karena tidak ada pengalaman darinya, seperti gelap. Namun kehidupan juga telah menimbulkan ketakutan sendiri karena ada banyak kematian nurani hadir disana. Berapa banyak dari kita sanggup menerima cobaan hidup sehingga harus memutuskan untuk mengakhirinya? Berapa banyak dari kita berani untuk melangkah saat ketidak pantasan justru hadir dalam ritme hidup kita sehari-hari. Berapa banyak dari kita terpasung oleh pikiran hanya kalau bertindak diluar kebiasaan orang banyak, di cap menjadi aneh?
Pangkal dari keberanian dalam hidup ujungnya sebenarnya mengarah pada kebeningan hati.Kebeningan hati, hal yang teramat dirindukan dalam hidup, didalamnya ada kedamaian, ketentraman, seperti telaga yang tenang. Untuk menuju kesana, dibutuhkan keberanian tersendiri, karena ia menuju ke dalam, melewati jalan-jalan sunyi, sendiri lagi. Salah kalau kita mencarinya di luar, salah juga kalau ia dilambangkan dengan benda-benda nisbi. Ia hanya bisa dicari dengan keikhlasan menjalani hidup, penuh syukur, kerja keras karena semata-mata semuanya kita peruntukkan padaNya. Saat sampai disana, bukankah semuanya mengalir begitu saja, yang ditemui hanyalah kata keindahan belaka. Indah bukan
Sabtu, 20 Juni 2009
Kesedihan yang menggembirakan
Adakah kesedihan yang menggembirakan? agak mustahil memang ada kesedihan yang mengembirakan. Namun seperti senang dan sedih yang berkaitan dengan persepsi pikiran, mungkinkah kesedihan dipersepsikan dengan kegembiraan. Kalau kita sering berjalan ke dalam, jalan-jalan sunyi yang kita lewati, kita akan menemukan kalau dibalik kesedihan, kepedihan, bukan hal yang kebetulan terjadi,ada makna dibalik itu. Ketika kita sampai pada pemahaman kalau kesedihan yang kita alami adalah jalan kita untuk 'naik kelas', melatih 'otot' batin kita agar senantiasa kuat, maka setiap kesedihan yang telah, sedang, akan kita jalani seyakinnya ada 'hadiah' dariNya untuk kita. Hadiah itu diberikan ketika kita 'lulus'. Tidak ada yang tidak senang ketika menerima hadiah apalagi itu diberikan oleh Allah, yang Maha Pengasih dan Penyayang. Kuncinya mungkin kesabaran ketika kita sedang mengalaminya. Jadi dibalik kesedihan yang kita alami, telah menunggu hadiah dariNya asal kita sabar melewatinya. Bukankah dengan demikian, setiap kesedihan yang dialami ada kegembiraan disana. Jangan-jangan kesedihan adalah bagian permukaan mahluk bernama kegembiraan. Indah bukan
Selasa, 16 Juni 2009
Wangi Bunga
Mungkin kehidupanpun demikian, ibarat menanam bunga, ia berproses mulai dari benih, tumbuh, mekar dan akhirnya layu. Kalau kesuksesan adalah proses kehidupan itu sendiri mengapa kita tergagap saat proses itu tidak kita harapkan. Andai hari ini kita sedang berproses untuk memperoleh kemuliaan seperti bunga, seyakinnya kita sedang menemui keindahan, apapun situasinya. Andai akhirnya harapa kita tak sejalan dengan realita, masih ada kebijakan disana, yaitu, Tuhan menghendaki kita untuk belajar lebih rendah hati, sebelum Beliau memberi kebaikan yang kita angankan. Indah bukan
Senin, 15 Juni 2009
Rumah Sejati
Ketika hidup telah banyak memberi kita perjalanan yang indah, entah karena kelokan kepedihan yang selalu berganti dengan kegembiran, atau air mata mengalir pada wajah kesedihan kita, dan dilain waktu menetes pada wajah bahagia. Momen-momen seperti itu membuat kita perlu berteduh sebentar di sebuah tempat dimana kita bisa merasakan ketentraman dan kedamaian. Tempat dimana kita bisa membuka borok-borok hidup kita tanpa merasa malu, tempat kita memamerkan keberhasilan tanpa di cap sombong. Tempat kita diterima apa adanya, entah wajah kita kusut atu tidak. Tempat kita bisa menangis sepuasnya saat sedih mendera. Tempat kita tertawa tanpa harus merasa ini sebuah keangkuhan. Dimanakah tempat itu? ia ada di rumah sejati kita, tempat yang ada di dalam, rumah yang slalu terbuka pintunya setiap waktu. Tempat yang selalu dicari-cari kita di sepanjang pergulatan dengan kehidupan. Kadang kita menyangka kita harus mencarinya ke luar namun setelah ditemui ia nisbi. Kadang kita menyangka rumah sejati kita ada pada pangkat, harta dan kekuasaan. Namun ia diluruhkan oleh waktu dan menghilang.
Ruah sejati kita hanya bisa dimasuki dengan kunci ikhlas dan syukur. Jalannya bernama keheningan, gerbangnya bernama rendah hati dan kendarannya bernama kebaikan. Begitu anda masuk kendaraan itu, biarkan segalanya berjalan sendiri, sebab Sang Maha Tahu akan memberi tugas pada sang waktu untuk mengantarkan kita kesana.Begitu tiba disana, biarkan pikiran beristirahat untuk menghilangkan kecemasan dan ketakutan tentang masa depan. Tak perlu, karena ditemani sahabat sejati kita, sang waktu sendiri. Saat kita sampai disana, wajah kehidupanpun berubah, yang nampak oleh kita hanya senyum dan keindahan. Saat sampai disana, hanya ucapan syukur karena semuanya telah cukup dan sempurna. Ya, sempurna, bahkan dengan mencium aroma tanah yang basah karena tersiram oleh hujan, sudah cukup bagi kita.
Ketika hidup telah banyak memberi kita perjalanan yang indah, entah karena kelokan kepedihan yang selalu berganti dengan kegembiran, atau air mata mengalir pada wajah kesedihan kita, dan dilain waktu menetes pada wajah bahagia. Momen-momen seperti itu membuat kita perlu berteduh sebentar di sebuah tempat dimana kita bisa merasakan ketentraman dan kedamaian. Tempat dimana kita bisa membuka borok-borok hidup kita tanpa merasa malu, tempat kita memamerkan keberhasilan tanpa di cap sombong. Tempat kita diterima apa adanya, entah wajah kita kusut atu tidak. Tempat kita bisa menangis sepuasnya saat sedih mendera. Tempat kita tertawa tanpa harus merasa ini sebuah keangkuhan. Dimanakah tempat itu? ia ada di rumah sejati kita, tempat yang ada di dalam, rumah yang slalu terbuka pintunya setiap waktu. Tempat yang selalu dicari-cari kita di sepanjang pergulatan dengan kehidupan. Kadang kita menyangka kita harus mencarinya ke luar namun setelah ditemui ia nisbi. Kadang kita menyangka rumah sejati kita ada pada pangkat, harta dan kekuasaan. Namun ia diluruhkan oleh waktu dan menghilang.
Ruah sejati kita hanya bisa dimasuki dengan kunci ikhlas dan syukur. Jalannya bernama keheningan, gerbangnya bernama rendah hati dan kendarannya bernama kebaikan. Begitu anda masuk kendaraan itu, biarkan segalanya berjalan sendiri, sebab Sang Maha Tahu akan memberi tugas pada sang waktu untuk mengantarkan kita kesana.Begitu tiba disana, biarkan pikiran beristirahat untuk menghilangkan kecemasan dan ketakutan tentang masa depan. Tak perlu, karena ditemani sahabat sejati kita, sang waktu sendiri. Saat kita sampai disana, wajah kehidupanpun berubah, yang nampak oleh kita hanya senyum dan keindahan. Saat sampai disana, hanya ucapan syukur karena semuanya telah cukup dan sempurna. Ya, sempurna, bahkan dengan mencium aroma tanah yang basah karena tersiram oleh hujan, sudah cukup bagi kita.
Minggu, 14 Juni 2009
Sempurna
Kehidupan yang kita jalani sehari-hari seperti orang berdagang, apa yang dapat kita ambil manfaat dari sebuah aktifitas, untung atau tidak. Kebiasaan ini terkadang kita bawa dalam hubungan kita dengan Beliau, denganNya kita selalu mencoba menawar, seolah bargaining kita cukup kuat. Hasilnya pasti bisa ditebak. Doa kita seperti angin yang berlalu. Kita pun seolah meratapi kekalahan dan kerugian. Kepantasan apa yang membuat kita yakin ketika menghadapNya doa kita akan terkabulkan?
Mungkinkah kita bilang padaNya untuk memenuhi pinta kita sedang dalam sehari-hari kita tak pernah memenuhi semua janji yang telah kita buat. Apa yang menjadi garansi kalau kita meminta, Beliau pasti memberi sedangkan dihadapan teman, istri,suami kita masih berhitung untung rugi. Bagaimana mungkin kita bisa menghadap Beliau dengan wajah memelas kalau dalam keseharian kita terkadang menafikan yang lain.
Kita selalu dijejali dengan kata-kata kalau Tuhan selalu dekat dengan kita.Begitu sering hal ini didengar sehingga menjadi kebiasaan dan akhirnya hal ini menjadi tak ada. Kita selalu bertemu denganNya ketika masalah datang menyapa, ketika masalah pergi, dimanakah Ia? Terlalu egoiskah kita? Bagaimana mungkin kita bisa berlutut merendahkan diri dihadapanNya kalau kebiasaan diri kita merendahkan yang lain
Jadi,hal yang paling mudah agar cahayaNya selalu ada dalam diri adalah berjanji kalau semua aktifitas keseharian kita hanya akan dipersembahkan padaNya sebagai wujud pengabdian kita. Kehidupan, apapun adanya yang dijalani saat ini, entah senang, sedih, adalah bagian dari sebuah proyek besar antara kita dengan Tuhan. Tidak ada ketakutan dan kecemasan mengenai masa depan, sebab Beliau selalu ada di samping kita, untuk bersama-sama menuntaskan proyek ini, dan menjalaninya sebelum akhirnya tugas ini selesai.
Apapun masalah kita hari ini, situasi hari ini, senang-sedih, hanya dengan merendahkan diri dihadapanNya kita bisa merasakan kehangatan, ketentraman, kedamaian cahayNya. Yang perlu dilakukan hanya satu yaitu memuliakan sesama, sebelum merasakan energi ini melingkupi kita. ketika sampai disana, hidup berubah wajah menjadi seperti sebuah senyum yang teramat indah, tak ada yang dapat dikatakan kecuali hanya gumam kecil "sempurna"
Rabu, 29 April 2009
Hening
Ritme bunyi-bunyian alam tadi kita dengar ada jeda sunyi. Semua suara yang kita dengar dan terasa indah pasti ada jeda sunyi. Jadi kemana suara-suara itu pergi kalau bukan menuju keheningan. Hening tidak saja menjadi bagian dari kehidupan kita, namun ia menjadi semacam rumah dari semua aktifitas kita sehari-hari. Ia menjadi semacam muara ketika penat, suntuk menghampiri kita. Keheningan memberi ruang tubuh dan batin untuk jeda dari aktifitas kita. Tidur, mungkin salah satu contoh diantaranya.Tidur membuat jeda tubuh untuk berada di keheningan dengan mengistirahatkan semua organ-organ tubuh didalamnya sebelum akhirnya terbangun dengan kondisi segar kembali.
Hati kita, sama dengan tubuh ini, perlu jeda untuk memasuki keheningan dimana ia bisa membersihkan kotoran dengan mengendapkannya. Kehidupan kita sekarang ini, mau tidak mau harus menerima kenyataan kalau hati sering menerima paparan ketidak pantasan, entah itu kita yang melakukan, atau kita menerimanya dari orang lain. Pernah merasa tidak nyaman dengan hati kita setelah melakukan hal yang tidak kita inginkan ?atau kita bersedih saat menerima hal yang menyedihkan hati kita dari orang lain. Memberikan ruang pada hati kita untuk sekedar mengendapkan masalah ini dengan memasuki keheningan, tidak saja akan meringankan beban kehidupan, namun disana memberi kesempatan hati untuk lebih menerima hidup dengan penuh keikhlasan, bukankah ini menentramkan.
Senin, 27 April 2009
Doa
Pernahkah dalam sebuah episode kehidupan anda merasa ketika semua doa yang kita panjatkan padaNya seolah sia-sia belaka. Dalam pengertian ketika semua pinta yang kita panjatkan padanya hanya menjadi sebuah ucapan yang keluar dari mulut kita dan kata dalam doa itu seolah raib entah kemana. Apakah Tuhan telah melupakan kita sehingga saat kita memerlukanNya Beliau seolah ada di kejauhan. Pernahkah kita berburuk sangka padaNya? Kehidupan yang kita jalani tak semuanya menemukan sebuah pemandangan yang selalu indah, ia terkadang membawa kita pada sebuah kelokan yang dapat memilukan hati , kepedihan yang membuat air mata ini mengalir seolah tanpa ada habisnya. Disaat demikian kita mencariNya seolah ia tak pernah hadir sebelumnya. Ya..! saat kita melewati kegembiraan karena mendapat berkah misalnya, kita terkadang terlampau egois untuk sekedar berterimakasih padaNya. Kita larut dalam tawa seolah kehidupan hanya disajikan untuk kita. Namun saat tawa itu hilang, dan tiba dalam warna kesuraman, kita tergagap seraya meminta dalam doa agar ini segera berlalu dan enggan untuk mengakrabinya.
Jarang dari kita mau untuk mencoba berkarib dengan kesedihan seperti kita bersahabat dengan kegembiraan. Bukankah sebenarnya ia datang silih berganti, dan tak mungkin kita memilih untuk menghindari kepedihan hanya mau menerima kegembiraan. Keberpihakan pada salah satu saja dapat membuat hidup kita menjadi timpang. Jadi apa salahnya kita berkarib dengan sedih, air mata, toh ia tak selamanya ada sama dengan kegembiraan, tawa, yang tak selamanya hadir di dalam hati kita.
Apapun warna kehidupan kita, entah cerah atau suram, sebenarnya ia adalah nisbi adanya, ia senantiasa bergerak dari sisi yang satu ke sisi yang lain. Hati yang kuat, senantiasa ada ditengah, tidak ke kiri atau ke kanan. Saat ia mendapat kegembiraan, hati kita tertawa penuh rasa syukur, saat ia menjemput kesedihan ia tertawa karena ini tak selamanya ada. Sikap yang rendah hati semacam ini mungkin yang akan membuat hati peka akan kehadiranNya di setiap momen apapun jua. Saat gembira hati kita tahu kalau Tuhan senantiasa ada dekat dengan kita dengan kasih sayangnya. Saat air mata kita mengalir, hati kita tahu kalau Tuhan hadir hanya untuk menguatkan kita. Kerendah hatian hati kita yang semacam ini hingga ucapan kata dalam setiap doa kita tak cukup untuk menampung kasih sayangNya. Beliau pasti tahu hanya dengan bahasa tubuh kita sudah cukup untuk mewakili ucapan doa apa yang sedang kita panjatkan.
Jadi andai kita merasa setiap ucapan doa kita seolah belum mendapat jawaban dariNya, jangan-jangan antara ucapan dan bahasa tubuh kita tidak sejalan, sehingga timbul sebuah prasangka kalau Tuhan terasa jauh. Seyakinnya Beliau teramat dekat dengan kita, hanya sering kita menghalangi diri sendiri untuk merasa dekat denganNya, tercermin dari ucapan dan bahasa tubuh kita tidak sama.